Menghadapi Anak di Era Digital

Sunday, 22 August 21 Venue
Edu Gears Exhibition

Menjaga keamanan anak dalam mengakses internet diperlukan peran orangtua. Menurut Ari Budi Wibowo, Kepala Bidang Kemitraan Siberkreasi, orangtua diharapkan dapat menyediakan waktu bersama anak dan mencari sesuatu yang dapat dilakukan bersama.

“Jika anak sudah diberikan gawai, sempatkan untuk mengecek gawai mereka,” katanya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Garut Jawa Barat, Jumat (20/8/2021).

Orangtua, kata dia, dapat mengecek seluruh folder yang ada di galeri. Periksa juga akun media sosial, pesan, direct message, postingan dan komen yang masuk. “Cek juga komentar anak kita di akun orang lain.”

Ari juga menyarankan untuk memeriksa history di mesin pencarian, history YouTube, dan aplikasi pesan. Lihat juga seluruh chat yang ada teman-temannya. “Penting untuk orangtua saat memeriksa gawai mereka langsung di depan anak,” kata dia.

Jika menemukan hal negatif baik itu video porno, kekerasan, atau perundungan, orangtua harus bersikap tenang, jangan heboh dan tidak bereaksi berlebihan bahkan hingga membanting gawai milik anak. “Jangan seperti itu, tetap tenang dan mulai untuk membuka obrolan mengenai temuan yang Anda lihat di gawai mereka.”

BACA JUGA:   Pintar dan Terliterasi Menangkal Berita Hoaks

Ari meminta orangtua tetap tenang dan berbicara dari hati ke hati, tatap juga mata anak. “Jelaskan apakah itu, dampaknya seperti apa. Jika perlu cari data bersama di internet mengenai efek dari konten negatif di dunia digital. Lakukan pemahaman ini tidak sekali namun beberapa kali saat kondisi anak dan Anda dalam keadaan tenang,” ujarnya.

Menurut Ari, menghadapi anak di era digital memang tidak mudah. Selain itu, kemampuan digital orangtua juga jangan sampai kalah dari anak. Agar anak dapat terus dipantau, cari tahu di internet hal apapun yang tidak tahu, coba sendiri beragam aplikasi yang anak gunakan, juga game yang mereka mainkan. “Simak juga pesan para psikolog anak mengenai pengasuhan di era digital saat ini. Namun ingat setiap pesan yang disampaikan psikolog tetap harus disesuaikan keadaan orangtua dan anak.”

Ari mengatakan, digital skill yang orangtua miliki dapat membantu dengan memiliki aplikasi parental control, mengatur konten dan batas waktu pada gawai anak, juga setting privasi di media sosial mereka agar keamanan mereka tetap terjamin.

BACA JUGA:   8 Tips Menjaga Keamanan Data Pribadi

Dia juga menyarankan orangtua agar memberikan aturan terkait penggunaan gawai dan internet. “Bahkan, untuk membuat kesan lebih serius, orangtua dapat mencoba untuk membuat surat kesepakatan antara anak dan orangtua.”

Isinya, lanjut Ari, berupa aturan dari orangtua yang disepakati anak. Aturan soal waktu, konten apa saja yang boleh dibuka, spot di rumah di mana saja yang diperbolehkan saat sedang mengkases internet. Soal komunikasi antara anak orangtua yang selalu harus terbuka.

“Hal ini mencegah kejadian perundungan yang mungkin saja anak terima di media sosial. Minta mereka selalu terbuka mengenai apapun,” tuturnya.

Orangtua, kata Ari, selain meningkatkan kemampuan digital juga harus memberikan cara berinternet yang baik kepada anak. Di media sosial orangtua, tidak menyebarkan berita hoaks atau konten negatif lainnya. Tidak memajang foto berlebihan, selalu berkomentar dengan bahasa yang sopan dan baik, membuat konten positif dan urusan waktu penggunaan juga anak perlu diberi contoh.

BACA JUGA:   Kerap Permudah Pekerjaan Manusia, Ini Kekurangan Internet

“Orangtua ketika di rumah jangan terlalu sering memegang gawai luangkan waktu bermain bersama anak sekaligus menjadi contoh baik untuk anak,” ujar dia.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).