Perlunya Literasi Digital

Thursday, 22 July 21 Venue

Literasi digital diperlukan agar masyarakat memiliki kecakapan digital dan dapat bersaing dengan negara lain di dunia. Jangan sampai teknologi sudah maju, tetapi penggunanya belum. Peran literasi digital juga harus mengubah masyarakat dari budaya konsumtif menjadi budaya produktif. 

“Maka dari itu, sebagai generasi milenial harus berpacu aktif untuk meningkatkan soft skills dan hard skills kita dalam bidang teknologi,” ujar Muhamad Imron Rosadi, RTIK Kab. Pasuruan, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (21/7/2021).

Manfaat literasi digital, kata dia, dapat menghemat waktu dan biaya, belajar lebih cepat dan efektif, dapat memperluas jaringan melalui internet, memperoleh informasi dengan cepat, memperkaya keterampilan, ramah lingkungan, dan membuat keputusan yang lebih baik.

BACA JUGA:   Membangun Personal Branding Secara Online di Media Sosial

Hasil survei Katadata terkait indeks literasi digital, Indonesia berada pada angka 3,4 dari skala 1 sampai 4. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia berada pada taraf sedang. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, literasi digital merupakan kunci dan fondasi utama. Adanya pandemi juga mendorong implementasi literasi digital semakin cepat di masyarakat.

“Siswa, orangtua, dan guru merupakan segitiga emas yang harus beradaptasi dalam pembelajaran jarak jauh.  Ketiganya harus berpartisipasi aktif,” tambahnya.

Selain pendidikan, kemajuan teknologi juga memudahkan kita dalam berbelanja online. Namun, belanja online menyebabkan beberapa masyarakat menjadi konsumtif hingga melupakan pentingnya menabung. Menabung menjadi cara menghindari sifat konsumtif sekaligus melatih diri dalam membuat keputusan antara keinginan dan kebutuhan. Menabung juga dapat menjadi investasi masa depan.

BACA JUGA:   Risiko Kecanduan Internet Dan Cara Mengatasinya

Imron mengatakan, dalam berinternet harus cerdas dan beretika. Jangan sampai melakukan perbuatan melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan, pencemaran nama baik, pemerasan, pengancaman, dan penyebaran hoaks yang merugikan pengguna lain di media online.

Sebagai warga negara digital, masyarakat juga harus mengalami pemenuhan hak-hak digital, yaitu hak untuk mengakses, hak untuk berekspresi, dan hak untuk merasa aman.

Media sosial dapat dijadikan sebagai sarana toleransi. Karena, penggunanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kemudian, dalam menghadapi perbedaan di media sosial, kita dapat mendorong sikap untuk menjaga keharmonisan. Media sosial juga patut digunakan sebagai media demokrasi, partisipasinya berupa politik, sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan hukum. Jangan sampai media sosial meruntuhkan demokrasi yang telah ada.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Pinjol Ilegal Menjamur, Begini Tips Menghindarinya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).