Hasil Survei Seiko Epson: Anak Muda Optimistis Tak Terdampak Perubahan Iklim

Thursday, 28 December 23 Bonita Ningsih

Dunia telah dibayangi dengan isu perubahan iklim yang memiliki dampak buruk bagi makhluk hidup dan lingkungan. Peristiwa ini dapat menghadirkan cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu yang lebih panas.

Berdasarkan laporan Bank Sentral Eropa, kenaikan suhu yang terjadi saat ini mampu meningkatkan inflasi pangan tahunan antara 0,9 persen dan 3,2 persen per tahun di tahun 2035. Kenaikan suhu akan berdampak pada pertanian dan memberikan lebih banyak tekanan pada pasokan pangan sehingga dapat mempercepat pemanasan global. 

Meskipun suhu global mencapai rekor tertinggi, banjir, dan kebakaran hutan masih sering terjadi di tahun ini, banyak anak muda yang percaya bahwa mereka akan terhindar dari bencana iklim tersebut. Pernyataan ini berdasarkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Seiko Epson selaku produsen teknologi yang terkenal dengan printernya.

Survei yang dilakukan Seiko Epson sudah rutin dilakukan setiap tahunnya oleh Opinion Matters sejak 2021 silam. Survei ini bertujuan untuk memahami sikap dan ekspektasi konsumen di berbagai pasar secara global.

BACA JUGA:   Tarsus Indonesia Luncurkan Intertraffic Indonesia 2018

Pada survei tahun ketiganya ini, Seiko Epson, melibatkan lebih dari 30.000 orang dari 39 negara dunia untuk menjawab tantangan terkait perubahan iklim. Hasil laporan tahun ketiga Climate Reality Barometer dari Seiko Epson Corporation menyebutkan bahwa hampir 49 persen responden berusia 16 hingga 29 tahun menjawab “sangat optimis” atau “agak optimis” bahwa mereka tidak akan terkena dampak dari peristiwa banjir, kekeringan, atau tanah longsor. Jumlah ini menurun menjadi 32 persen untuk peserta berusia 55 tahun ke atas.

Bagi mereka yang berusia di bawah 29 tahun menyebutkan lebih khawatir terhadap kenaikan biaya daripada pemanasan global. Namun, bagi responden berusia 30 tahun ke atas, perubahan iklim masih menjadi isu utama bagi mereka. 

Laporan tersebut menunjukkan bahwa mungkin tidak banyak orang yang memahami konsekuensi dan lintasan iklim bumi berdasarkan tingkat emisi saat ini dari pembakaran bahan bakar fosil.

BACA JUGA:   Efek Pandemi, Healing Menjadi Trend Baru Berwisata

Pada September lalu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengatakan bahwa saat ini umat manusia telah membuka pintu gerbang menuju neraka. Menurutnya, dibutuhkan tindakan segera untuk mencegah kenaikan suhu 2,8 derajat celcius yang akan berdampak secara tidak proporsional pada kelompok termiskin di dunia.

Oleh sebabnya, survei ini dilakukan untuk memberikan wawasan yang lebih luas mengenai pandangan generasi muda yang lahir sejak tahun 1995, saat PBB mengadakan konferensi iklim pertamanya, pertemuan tahunan yang dikenal sebagai COP. Survei ini menemukan bahwa generasi COP tidak bisa merasakan krisis yang sama seperti kelompok yang lebih tua. Keakraban yang meluas dengan perubahan iklim dan kepercayaan terhadap solusi berbasis teknologi mungkin berkontribusi pada rasa urgensi yang lebih rendah.

“Generasi muda, khususnya generasi ini, telah hidup di bawah pemanasan global sejak lahir, sehingga mereka mungkin tidak merasa begitu terancam oleh perubahan tersebut. Kesenjangan antara persepsi dan realitas atmosfer adalah sebuah risiko dan membutuhkan lebih banyak edukasi,” kata Chief Executive Officer Seiko Epson, Yasunori Ogawa, dalam sebuah wawancara.

BACA JUGA:   Epson Luncurkan Model Surecolor Baru Untuk Menunjang Produksi UKM 

Banyak responden mengatakan bahwa mereka telah melakukan perubahan perilaku dan mengurangi konsumsi untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Di semua kelompok usia, hampir 38 persen mengatakan bahwa mereka mengurangi perjalanan internasional untuk bekerja dan bersenang-senang.

Lalu, ada sekitar 30 persen mengatakan bahwa mereka berencana untuk melakukan perubahan ini di masa depan. Hampir 20 persen melaporkan bahwa mereka telah beralih ke kendaraan listrik dan 51 persen mengatakan bahwa mereka berharap untuk melakukannya di masa depan.