Minat Liburan Ke Luar Negeri Tetap Tinggi

Thursday, 15 February 24 Bayu Hari
Liburan ke Luar Negeri

Turis asal Indonesia masih jadi pasar potensial bagi beberapa negara. Rerata, ada sekitar 11 juta orang Indonesia yang setiap tahunnya berwisata ke luar negeri.

Presiden Joko Widodo pernah bilang, jika orang Indonesia yang berwisata ke luar negeri itu jumlahnya mencapai 11 juta orang. “Kalau kita rem separuh saja, devisanya sangat besar sekali, yang tidak terbuang,” kata Joko Widodo saat meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus Lido beberapa waktu lalu. 

Tapi tidak mudah mengerem minat orang Indonesia agar tidak pelesiran ke luar negeri. Pasalnya, rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau. 

Apalagi, pelbagai siasat dilakukan banyak negara untuk membujuk dan merayu turis asal Indonesia untuk bertandang. Tengok saja apa yang dilakukan oleh Korea Selatan.

Melalui Korea Tourism Organization (KTO) yang punya kantor perwakilan di Jakarta, Korea Selatan rajin menggelar event dan seminar yang bertujuan memberikan informasi terbaru kepada biro perjalanan di sejumlah kota di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, Makassar, dan Balikpapan.    

BACA JUGA:   Gyeonggi Tawarkan Destinasi Wisata Insentif

Menurut Yang Su Bae, Director of KTO Jakarta Office, sebelum pandemi (2019) ada sekitar 278 ribu turis asal Indonesia yang datang ke Korea Selatan. “Tahun 2023, per Agustus, berjumlah 149 ribu orang, sekitar 84 persen dibandingkan periode yang sama sebelum pandemi,” katanya.    

Potensi Indonesia sebagai kantong turis juga disadari oleh Filipina. “Indonesia pasar yang potensial untuk pariwisata. Namun potensi itu belum bisa tergarap maksimal oleh kami. Sementara ini, posisi Indonesia berada pada posisi 11 sebagai negara penyumbang turis,” kata Aline Simatauw, Public Relations and Communication Manager, Philippine Department of Tourism, Indonesia Market Representative.

Populasi yang mencapai 275 juta jiwa, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bersinar, yakni di atas 5 persen, menjadi alasan banyak negara melirik turis asal Indonesia. Selain itu, negara-negara di eropa yang selama ini dianggap kantong turis utama, kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Akibat meletusnya perang Rusia versus Ukraina. 

BACA JUGA:   Korea Tourism Organization Siapkan Sejumlah Strategi Untuk Bidik Wisatawan Indonesia

Alih-alih, mereka pun mencoba menangkap segmen pasar baru, yaitu turis asal Indonesia. Mafhum, 11 juta orang bukanlah jumlah yang sedikit. Data dari Bank Indonesia, biaya yang dihabiskan orang Indonesia ketika berwisata ke luar negeri terbilang akbar. Sebelum pandemi, nilainya mencapai US$11,32 miliar atau sekitar Rp169 triliun (kurs;15.000).   

Benar kata Jokowi, jika orang Indonesia yang berwisata ke luar negeri bisa diredam dan dialihkan ke destinasi dalam negeri, turunan ekonominya lumayan besar.    

Ada beberapa faktor yang membuat orang Indonesia lebih suka plesiran ke luar negeri ketimbang mengunjungi destinasi di nusantara. Pertama, bagi orang Indonesia, berwisata ke luar negeri lebih bergengsi. Meskipun destinasi di dalam negerinya tak kalah cantik dan menarik. 

Kedua. Biaya wisata ke luar negeri relatif sama atau bahkan lebih murah. Untuk tiket pesawat misalnya. Harga tiket ke Bali jauh lebih mahal, bisa mencapai 2-3 kali lipat, daripada tiket pesawat ke Singapura. Padahal, durasi terbangnya hanya terpaut beberapa menit saja.

BACA JUGA:   Raja dan Sultan Nusantara akan Promosikan Indonesia

Wajar bila kemudian, turis asal Indonesia mendominasi kunjungan turis ke Negeri Singa itu. Sebelum pandemi, jumlahnya mencapai lebih dari tiga juta turis. Pasca pandemi, minat orang Indonesia ke Singapura masih tinggi. Tercatat ada 1,1 juta turis pada 2022, dengan biaya yang dihabiskan kurang lebih sebesar $1,1 miliar atau sekitar Rp12,1 triliun (kurs:11,000).    

Hal lain yang menjadi pemicunya adalah orang Indonesia gemar berbelanja. Mereka rela terbang beberapa jam ke sebuah negara hanya untuk belanja pelbagai produk dari brand ternama. Terlebih harga produk tersebut ditengarai lebih murah dari yang terpajang di mal-mal di Indonesia.