Tahun Depan Kota Bandung Genjot Sektor MICE

Wednesday, 17 October 18   92 Views   0 Comments   Venue
Museum Asia Afrika Kota Bandung
Museum Asia Afrika, salah satu saksi sejarah Bandung sebagai kota MICE.

Sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) menjadi salah satu industri yang akan menjadi prioritas pengembangan pariwisata Kota Bandung pada 2019. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, Dewi Kaniasari, kepada Venuemagz.com di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung beberapa waktu lalu.

Menurut Dewi, Kota Bandung hingga saat ini memang belum memiliki venue MICE yang terbilang representatif sebagai sebuah kota besar. Namun, menurut dia, itu bukan halangan untuk menjadikan MICE sebagai salah satu sektor unggulan bagi Kota Kembang ini. “Saya sudah melakukan pendekatan dengan semua stakeholder MICE di Kota Bandung, mulai dari akademisi hingga pelaku industri, untuk lebih meningkatkan lagi sektor MICE,” ujar Dewi.

Dewi menjelaskan, pelaku MICE sebagai salah satu bagian dari industri pariwisata harus bisa lebih kreatif. Dirinya mencontohkan, Bandung selain kota pariwisata juga dikenal sebagai kota pendidikan karena ada banyak universitas di Ibu Kota Jawa Barat tersebut. “Bandung sedikitnya memiliki 50 universitas. Berarti ada potensi kegiatan meeting dan seminar. Selain itu, setiap tahun ada wisuda, dan umumnya kegiatan tersebut mendatangkan keluarga dari mahasiswa, minimal empat orang datang ke Kota Bandung,” ujar wanita yang akrab disapa Kenny tersebut.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, kegiatan wisuda juga bisa menjadi potensi dengan mengemas paket wisata usai menghadiri kegiatan wisuda. “Bisa dibuat paket wisata bagi para keluarga mahasiswa, bisa kuliner, wisata belanja, dan wisata alam di sekitar Bandung,” ujar Dewi.

Untuk meningkatkan industri MICE Kota Bandung pada 2019, dirinya juga akan bekerja sama dengan kabupaten yang berdekatan dengan Kota Bandung. Menurutnya, sejauh ini Bandung sudah memiliki kerja sama dengan Kabupaten Bandung Barat. “Untuk wisata alam obyeknya ada di kabupaten. Usai menggelar kegiatan di Bandung, bisa diajak wisata ke kabupaten terdekat,” ujar Dewi.

Tahun depan Bandung juga akan menjalin kerja sama dengan kabupaten Bandung. Menurutnya, wilayah ini bisa saling mendukung dan memberikan manfaat, apalagi saat ini sudah ada tol Soroja yang makin memudahkan orang mencapai Kabupaten Bandung. “Sebagai contoh, tahun kemarin Bandung Philharmonic digelar di Gedung Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung. Banyak orang Jakarta dan Bandung yang datang menonton konser. Ini akan kami tingkatkan lagi,” ujar Dewi.

Dewi juga menjelaskan bahwa untuk penyelenggaraan event yang dibuat di Kota Bandung minimal  harus tingkat provinsi agar bisa mendatangkan orang dari luar kota. “Sedikitnya, event yang digelar harus mendatangkan tamu dari luar Bandung, jadi jangan hanya orang lokal yang datang,” ungkap Dewi.

Tahun depan, Kota Bandung juga akan ikut tender menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah kegiatan UNESCO Creative City Network (UCCN) Summit, suatu lembaga yang anggotanya kota-kota kreatif di seluruh dunia. “Rencananya kami akan ikut bidding tahun depan di Italia. Jika berhasil mendatangkan event tersebut ke Bandung, selain bisa mendatangkan wisatawan, Bandung juga akan makin dikenal di dunia,” pungkas Dewi.

Penulis: Erwin Gumilar