Wujudkan Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan, Kemenparekraf Ajak Wisatawan Perhatikan Jejak Karbon

Wednesday, 12 January 22 Bonita Ningsih

Kolaborasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Jejak.in untuk mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan telah dimulai pada awal tahun 2022.  Dalam hal ini, 

Kemenparekraf bersama Jejak.in meluncurkan aplikasi Carbon Footprint Calculator dan Offsetting (CPFC) untuk membantu mencegah dampak buruk pada iklim.

Melalui program CPFC, Kemenparekraf ingin melakukan pengimbangan nilai emisi yang telah dihasilkan dengan menyerap jejak karbon di sekitarnya. Pasalnya, berdasarkan data yang ada, industri pariwisata secara global menyumbang delapan persen dari emisi karbon dunia. 

Melihat kondisi tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengajak semua pihak untuk bergotong royong mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Secara khusus, Sandiaga, mengajak wisatawan untuk memperhatikan jejak karbon (carbon footprint) saat berwisata demi pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

BACA JUGA:   Enam Desa Wisata Peninggalan Megalitikum yang Dapat Dikunjungi Wisatawan

“Keberlanjutan ekonomi dan kelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan itu adalah satu kaitan nada, dan ini sesuai dengan tren pariwisata personalized, customized, localize, dan smallers impact,” ujar Sandiaga.

Fase awal untuk menjalankan program CFPC dilakukan dengan menambahkan jumlah pohon di lingkungan sekitar agar dapat menyerap jejak karbon. Secara terbuka, program CFPC dapat diakses masyarakat umum melalui Indonesia.travel page.

BACA JUGA:   Sandiaga Uno Ingin Jadikan Indonesia Pusat Eknonomi Syariah Dunia

Di fase ini, pohon yang terkumpul akan ditanam kembali di beberapa lokasi yang telah ditentukan pemerintah. Misalnya saja Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk DKI Jakarta, Konservasi Mangrove Pesisir Bedono, Demak Jawa, dan Konservasi Laskar Taman Nasional Mangrove Park Bontang, Kalimantan Timur.

Nantinya, pohon yang telah terkumpul dan ditanam akan dijaga oleh Mitra Konservasi Kemenparekraf dan Jejakin yaitu LindungiHutan. Mitra konservasi tersebut akan memantau pertumbuhan pohon di kawasan konservasi yang telah disepakati bersama. 

Pemantauan pada penanaman dan pertumbuhan pohon akan dilakukan secara berkala dan rutin menggunakan sistem pelaporan dari Jejak.in. Sistem tersebut dapat diakses oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan saja.

BACA JUGA:   Kemenparekraf Akan Hadirkan Wisata MICE di Ujung Kulon

“Saya berharap program ini secara signifikan dapat mendukung perubahan iklim dan capaian target emisi di Indonesia,” kata CEO Jejak.in, Arfan Arlanda.