Splash Wave of Communication, Bidik Peluang Melalui Multimedia

Wednesday, 07 October 15   32 Views   0 Comments   Venue

Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah pelanggan telepon seluler selama periode 2009-2013 meningkat dua kali lipat, dengan pertumbuhan mencapai 22,84 persen per tahun. Data itu juga didukung oleh laporan Spire Research & Consulting yang mencatat pelanggan kartu seluler tumbuh 10 persen selama periode 2010-2013. Lembaga riset itu melaporkan, terdapat 300 juta pelanggan kartu seluler selama tahun 2012 dan naik menjadi 320 juta pelanggan pada tahun 2013. Kondisi ini menunjukkan bahwa terjadi peralihan penggunaan teknologi komunikasi dari kabel ke nirkabel dalam satu dekade terakhir. 

Ini merupakan peluang menggiurkan bagi perusahaan yang bergerak di sektor hilir telekomunikasi, seperti Splash Wave of Communication. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2008 ini merupakan event organizer (EO) yang mengkhususkan diri dalam menggarap kegiatan penyedia layanan telekomunikasi dan gadget melalui brand activation. Richard Haryo Kuncoro, Direktur Splash Wave of Communication, mengatakan, pihaknya mulai menangani event telekomunikasi sejak tahun 2010. “Awalnya kami tidak hanya fokus pada satu segmen. Ini terbukti dari brand activation acara Morinaga dan Extra Joss yang pernah kami tangani,” kata Richard.

Esia, lanjutnya, merupakan event brand activation perdana yang digelar Splash Wave pada tahun 2010. Kala itu, penyedia layanan seluler berbasis CDMA itu memiliki basis pelanggan yang cukup kuat dengan 14 juta pelanggan. Setelah menangani proyek Esia, Splash Wave kembali dipercaya menangani sejumlah event brand activation milik Samsung, H2O, LG, ASUS, Google, dan Indosat. Bersama Indosat, Splash Wave bahkan menjalin kerja sama hingga tahun 2018.

“Biasanya event yang kami lakukan lebih kepada kegiatan roadshow. Misalnya Samsung yang melakukan roadshow ke 20 kota untuk mempromosikan produk baru mereka, atau Indosat yang menyasar sekolah, pusat perbelanjaan, dan perkantoran untuk memperkenalkan layanan baru,” papar Richard.

Meski tergolong pemain baru, Richard tak menampik bahwa pasar industri telekomunikasi sangat menggiurkan. Industri ini menyumbang 70 persen dari seluruh penjualan Splash Wave setiap tahun. Dalam tiga tahun terakhir, Splash Wave setidaknya mencatatkan pertumbuhan penjualan Rp10 miliar per tahun. 

Pada tahun 2012, Splash Wave membukukan penjualan Rp45 miliar dan naik menjadi Rp55 miliar setahun kemudian. Sementara pada tahun 2015 ini, Splash Wave menargetkan mampu membukukan penjualan Rp65 miliar. Richard mengatakan, pertumbuhan itu merupakan kontribusi dari berbagai event brand activation yang ditangani perusahaan. Pada tahun 2012, Splash Wave mengerjakan 109 event, naik menjadi 124 event pada tahun 2013, dan kembali bertumbuh menjadi 129 event tahun lalu.

Meski pasar sangat bergairah, Richard tidak menampik pihaknya menghadapi dua tantangan besar dalam mengembangkan event brand activation. Pertama, persiapan penyelenggaraan event. Ia menjelaskan, karena yang dipromosikan provider adalah program, bukan produk, maka persaingan di dalamnya cukup sengit. “Akibatnya, waktu persiapan sering kali sedikit, rata-rata seminggu dan ada yang meminta 24 jam sebelum event berlangsung. Ini berbeda dengan event perusahaan gadget yang persiapannya lebih lama, maksimal satu bulan,” katanya.

Kedua, kebutuhan akan ide baru untuk menggarap brand activation. Tantangan ini, lanjut Richard, dijawab dengan membekali sumber daya manusia dengan berbagai literatur internasional terkait brand activation. Ketika SDM memiliki kapasitas memadai, Richard optimistis pihaknya mampu menghadirkan keunikan di mata klien. Salah satunya dengan menawarkan konsep multimedia melalui video mapping yang diluncurkan pada medio 2011 silam.

Strategi video mapping telah diterapkan Splash Wave dalam sejumlah event, seperti peluncuran Asus Zenfone 2 yang menggunakan layar sepanjang 104 meter dan rilis Samsung tab 10.1 dengan layar sepanjang 34 meter. Perusahaan ini bahkan sukses memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2008 sebagai penyelenggara dengan penggunaan layar terbesar. “Kami mendapatkannya saat menyelenggarakan menonton bersama Piala Dunia 2008 bertajuk Bolaskop di Blok S, dengan menghadirkan layar berukuran 22,5 x 32,5 meter,” tuturnya.

Ekspansi

Enggan bergantung pada sektor telekomunikasi, Splash Wave akan menjalankan dua strategi. Pertama, melakukan diversifikasi usaha dengan menggarap segmen otomotif, consumer, perbankan, dan farmasi. “Untuk dapat menggarap segmen baru ini, kami harus menambah SDM,” kata Richard.

Kedua, merambah bisnis rumah produksi yang akan fokus membuat video profil korporasi. Strategi ini, kata Richard, sebenarnya telah dirancang sejak perusahaan berdiri. “Baru tahun ini dapat kami aktifkan kembali, dengan menggarap video profil korporasi Anabatik dan Radana Finance,” ujarnya. (Baca juga: AdHouse Indonesia Cipta Idealistis Mencapai Target)

Penulis: Pasha Ernowo