Tedjo Iskandar, Pendiri TTC Travel Mart, Comblang Buyer & Seller

Friday, 21 September 18   25 Views   0 Comments   Venue
Tedjo Iskandar TTC Travel Mart

Setelah mahir membawa turis berkeliling dunia, Tedjo Iskandar memutuskan mencoba peruntungan di ceruk bisnis berbeda, menjadi penyelenggara travel mart. Hasilnya tidak hanya mempertebal  dompetnya, tetapi juga pundi-pundi para buyer dan seller.

MESKIPUN sekaleng bir kerap menemani langkah Tedjo Iskandar, ia tetap piawai ketika mengawal para tamunya pelesiran. Kepribadiannya yang supel, ramah, dan disiplin dalam hal waktu membuat banyak orang merasa senang ketika Tedjo menjadi pramuwisata. Tak ayal, pada masa jayanya, banyak biro perjalanan memercayakan tamu istimewanya untuk berkeliling dunia bersama Tedjo.

Kiprah Tedjo di bidang pramuwisata berawal pada tahun 1980-an. Usai lulus SMA, ia memutuskan merantau dari Palembang ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah pariwisata di Trisakti. Sambil kuliah, ia menjadi pekerja lepas di biro perjalanan.

“Awalnya, hanya pengantar-jemput tamu dari dan ke bandara, kemudian pemandu tur Jakarta, lalu dipercaya sebagai tour leader untuk perjalanan ke luar negeri,” kata Tedjo.

Setamat kuliah, pamornya sebagai tour leader kian harum. Ia kerap diminta oleh kalangan selebriti untuk menemani pelesiran ke Eropa. “Ketika itu saya memang terkenal di kalangan artis,” katanya.

Tidak hanya di kalangan selebriti, ketika itu Tedjo juga cukup dekat dengan sejumlah awak media, yang kemudian menginspirasinya untuk berkolaborasi mengemas paket wisata menonton konser musisi mancanegara.

“Saya beberapa kali bekerja sama dengan media untuk membuat tur menonton konser Michael Jackson, Bon Jovi, North Sea Jazz Festival, dan Woodstock. Saya juga pernah membuat tur NBA,” kenang Tedjo.

Tedjo enggan sukses sendirian. Pengetahuan dan pengalamannya di bidang pramuwisata ia tularkan kepada generasi muda. Ia pun menjadi dosen di almamaternya, mengajar tentang pariwisata dunia. Kemudian, pada tahun 1994, ia membuka Tourism Training Center (TCC), sebuah lembaga pendidikan untuk tour leader.

“Saya pun membuat tur yang diikuti mahasiswa ke sejumlah negara di Eropa, Asia, dan Australia. Ketika itu, saya sempat dipergunjingkan oleh sesama tour leader karena membuka ‘rahasia’ di bisnis ini,” kata Tedjo. “Ketika itu, Eropa memang lahan ‘basah’, banyak sekali orang yang ingin berjalan-jalan ke sana.”

Seperti putaran roda, karier Tedjo tidak melulu berada di atas. Pada tahun 1998, ketika krisis ekonomi menghampiri Indonesia, pundi-pundi dolar Tedjo pun ikut menipis. Pasalnya, jumlah dan frekuensi grup yang pelesiran ke sejumlah destinasi wisata di dalam dan luar negeri menciut.

Namun, pertunjukan harus tetap berjalan. Tedjo pun memanfaatkan kedekatannya dengan sejumlah toko ternama di Eropa untuk menjadi brand ambassador. “Saya menjadi perwakilan toko-toko, di antaranya parfum, jam tangan, dan berlian. Ada empat toko yang saya pegang waktu itu. Saya pun mendapatkan bayaran bulanan dari masing-masing toko,” kata Tedjo.

Menjadi Comblang

Tedjo ingin naik kelas di industri pariwisata nasional. Ia tidak hanya ingin dikenal sebagai tour leader yang andal, tetapi juga menjadi organizer. Pada tahun 2005, ia pun mencoba peruntungan dengan menggelar TTC Travel Mart untuk pertama kalinya.

Tedjo Iskandar TTC Travel Mart

“Meskipun istri saya orang agensi dan saya tour leader, saya tidak tertarik untuk mendirikan agen perjalanan. Musuhnya banyak, sedangkan kami hanya pemain kecil. Bagaimana mau melawannya? Akhirnya semua sudah beralih ke online,” katanya.

Menjadi comblang buyer dan seller ternyata keputusan yang tepat. Berawal dari 16 meja, TTC Travel terus bertumbuh hingga pernah menjual 190 meja dan mendatangkan ratusan buyer dari dalam dan luar negeri.

Saat ini, TTC Travel Mart sudah 26 kali berlangsung di Jakarta, 18 kali di Surabaya, 7 kali Medan, dan 2 kali di Makassar. “Saya buat dua kali setahun, pada triwulan pertama dan triwulan ketiga,” kata Tedjo.

Jaringan yang Tedjo bentuk ketika menjadi tour leader menjadi kunci sukses dalam mengembangkan TTC Travel Mart. Selain itu, ia juga ulet dan telaten dalam mengundang buyer dan seller, walaupun dengan cara sederhana, yaitu memanfaatkan media sosial.

“Setelah mendapatkan alamat surel, saya undang mereka. Tidak melalui e-mail blast, saya kirim per 25 e-mail ke buyer dan seller. Untuk promosi, saya juga tidak punya situs, hanya mengandalkan Facebook,” ungkap Tedjo.

Dia pun menyadari bahwa dalam bisnis ini eksistensi diri mempunyai peranan penting. Itulah yang mendorongnya untuk rajin hadir dalam setiap perhelatan travel mart di berbagai daerah dan beberapa negara di ASEAN, semisal Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

“Kemarin saya datang ke ASEAN Tourism Forum (ATF) di Singapura, bukan sebagai delegasi (buyer atau seller), melainkan pengunjung biasa. Saya datang sekadar menyapa klien yang ikut ATF dan memperluas jaringan,” kata Tedjo.

Dari sisi pelaksanaan, gaya Tedjo sebagai comblang juga agak berbeda. Tanpa acara seremonial, tanpa peraturan (buyer dan seller bebas menentukan siapa yang akan mereka temui), dan tentu saja ada sesi free flow untuk minum bir.

“Pada travel mart lain, buyer difasilitasi akomodasi dan tiket. Sementara di TTC Travel Mart tidak, mereka datang atas biaya sendiri. Saya hanya menyediakan makan siang dan coffee break,” ujar Tedjo. “Namun, saya mampu meyakinkan mereka bakal untung bila mengikuti acara saya.”

Tim Tedjo untuk menyelenggarakan TTC Travel Mart juga tidak banyak, hanya empat orang. Ketika hari-H, barulah ia meminta bantuan anak dan istrinya. Meskipun hanya tim mini, efektivitas kegiatan ini terbukti nyata dalam mendatangkan bisnis bagi buyer dan seller.