Jakarta, Venuemagz.com -Asia Fashion (Indonesia) Show 2025 sukses digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 21-23 Agustus 2025 kemarin. Ajang mode internasional ini menghadirkan 202 perusahaan dari delapan negara dan wilayah, serta melibatkan 40 pelaku UMKM lokal yang telah lolos kurasi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).
Sejak hari pertama, pameran Asia Fashion Show 2025 langsung menyedot perhatian ribuan pelaku industri. Tercatat lebih dari 12.000 pembeli profesional hadir, mulai dari pemilik merek lokal, pedagang grosir, platform e-commerce, hingga jaringan ritel besar. Kehadiran mereka menciptakan suasana yang semarak dan dinamis di lokasi acara.
Tim, CEO Guangdong Quay Exhibition Co., Ltd, menilai tingginya angka kunjungan itu menjadi bukti nyata antusiasme pelaku industri. “Pada hari pertama, acara ini telah disambut oleh lebih dari 12.000 pembeli profesional. Atmosfer yang tercipta sangat mendukung terjalinnya peluang bisnis baru,” ujarnya.
Perusahaan Internasional di Asia Fashion Show 2025
Pameran ini menampilkan beragam produk, mulai dari tas dan barang berbahan kulit, sepatu, pakaian jadi, aksesori mode, hingga produk kecantikan dan perawatan diri.
Partisipasi merek dan perusahaan dari berbagai provinsi di Tiongkok serta negara-negara Asia, seperti Vietnam dan Thailand, menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat perdagangan mode yang penting di kawasan.
Selain itu, pameran ini juga menghadirkan presentasi merek, sesi jejaring industri, dan pertunjukan mode yang semakin memperkuat suasana bisnis internasional.
UMKM Lokal Jadi Sorotan
Sebanyak 40 pelaku UMKM Indonesia tampil percaya diri membawa karya terbaik mereka. Produk yang dipamerkan beragam, mulai dari kain etnik, batik, anyaman pandan, hingga sepatu kulit dengan sentuhan modern. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri dan menunjukkan bahwa produk lokal siap bersaing di pasar global.
Salah satu sorotan datang dari Kain Ibu milik Triana asal Bekasi, yang memadukan denim modern dengan tenun ikat, batik, dan ulos. Setiap jaket, outer, dan blazer yang ditampilkan membawa identitas budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke.
Dari Jakarta, Ghawean Dewe mengusung konsep zero waste berbasis sisa kain batik. Mereka menghadirkan boneka ramah lingkungan, perlengkapan ibadah, hingga pakaian anak-anak, sekaligus memberdayakan ibu rumah tangga, pensiunan, dan pemuda lokal.
Produk ini mendapat apresiasi tinggi dari pembeli internasional yang menilai nilai sosial dan lingkungan sebagai keunggulan utama.
UMKM lain seperti Adeline Kusuma dari Yogyakarta menghadirkan busana ramah lingkungan dengan teknik pewarnaan Titrik berpadu Sashiko Jepang. Sementara Busana Kayo Official menampilkan fashion muslim modern berbahan serat alam dengan teknik lasercut.
Ada pula Ellena Fashion yang menonjolkan syal dan busana batik elegan, serta Galeri Keke dari Kabupaten Tangerang yang mengangkat keunikan anyaman pandan. Galeri Keke bahkan memberdayakan lebih dari 100 pelaku UMKM dari hulu ke hilir, menekankan keberlanjutan bahan lokal.
Menjembatani Pasar Lokal dan Global
Siswadi, Pemilik PT Surya Dirgantara Sukses, menilai pameran ini bukan hanya sekadar ajang pamer produk, melainkan pintu masuk untuk memperluas jangkauan pasar.
“Dengan kehadiran internasional yang kuat serta keterlibatan aktif para pembeli, Asia Fashion Show siap memainkan peran penting dalam menghubungkan manufaktur Asia dengan permintaan global. Indonesia pun semakin menegaskan posisinya sebagai pusat perdagangan mode di kawasan,” ujarnya.
Melalui kombinasi antara perusahaan besar dan UMKM, Asia Fashion (Indonesia) Show 2025 menjadi bukti nyata bahwa industri mode Indonesia tidak hanya berkembang, tetapi juga siap bersaing di panggung global.
Kehadiran UMKM dengan produk berkelanjutan sekaligus menunjukkan wajah baru mode Indonesia yang kreatif, inklusif, dan berpihak pada keberlanjutan.






