Jakarta, Venuemagz.com –Tim mahasiswa dari Nanyang Polytechnic, Singapura, tampil memukau dalam ajang Asia MICE Youth Challenge 2025 beberapa waktu lalu, yang menjadi bagian dari perhelatan AFECA 20th Anniversary & Annual General Meeting di JIExpo Convention & Theatre, Kemayoran, Jakarta.
Pada ajang Asia MICE Youth Challenge 2025, mereka memperkenalkan sebuah gagasan futuristik tentang bagaimana budaya, teknologi, dan keberlanjutan dapat berpadu dalam satu ekosistem wisata yang imersif dan berkelanjutan. Mereka menghadirkan festival bertajuk “Culturex”, yaitu festival budaya empat hari yang dikembangkan bukan hanya untuk menampilkan budaya, melainkan juga mengajak pengunjung menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.
Dengan mengusung tagline “Live It, Fuse It, Hype It”, festival ini memadukan AI (Artificial Intelligence), XR (Extended Reality), dan arsip digital hidup yang merekam interaksi setiap peserta sebagai bentuk pelestarian budaya masa depan.
Dalam konsep tersebut, setiap hari festival menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari workshop budaya interaktif, pameran seni berbasis teknologi, hingga Sky Symphony, pertunjukan drone rendah karbon sebagai simbol transisi menuju event berkelanjutan.

Inovasi Event Tourism
Dalam presentasinya, tim Nanyang Polytechnic memaparkan data menarik: 40% perjalanan wisata global kini tergolong wisata budaya, dan 67% di antaranya menuntut keterlibatan pada aspek keberlanjutan.
Melalui festival Culturex, mereka berupaya menjawab tren tersebut dengan menghadirkan pengalaman event tourism yang inovatif, partisipatif, dan ramah lingkungan.
Pendekatan berbasis data dan teknologi juga menjadi salah satu kekuatan utama proyek ini. Tim ini menampilkan bagaimana AI dan storytelling digital dapat membantu penyelenggara memahami perilaku pengunjung, membangun interaksi lebih dalam, serta memperpanjang dampak sosial budaya dari sebuah event.

Pelajaran bagi EO di Indonesia
Kehadiran mahasiswa Singapura di MICE Youth Challenge 2025 memberi inspirasi berharga bagi para pelaku event organizer (EO) di Indonesia. Festival Culturex menunjukkan bahwa masa depan industri event tidak hanya bergantung pada visual spektakuler, tetapi pada kemampuan menciptakan pengalaman bermakna dan berdampak jangka panjang.
Model festival yang mereka presentasikan juga mencontohkan perencanaan matang: dari strategi media sosial hingga alokasi biaya efisien dengan proyeksi 20.000 pengunjung di tahun pertama dan pertumbuhan keuntungan 35% dalam lima tahun.
Pendekatan ini relevan bagi penyelenggara event lokal yang tengah mencari cara menyeimbangkan kreativitas, komersialisasi, dan keberlanjutan.
AFECA 2025: Ajang Kolaborasi MICE Asia
Sebagai bagian dari AFECA ke-20 di Jakarta, MICE Youth Challenge 2025 menjadi salah satu agenda penting yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara Asia untuk menampilkan inovasi di bidang MICE.
Ajang ini tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang bertukar ide antara generasi muda dan pelaku industri profesional tentang bagaimana MICE Asia dapat tumbuh lebih adaptif dan berdaya saing global.
Konsep seperti Culturex dari Nanyang Polytechnic menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membentuk arah baru industri MICE Asia.
Lewat kombinasi teknologi, budaya, dan keberlanjutan, mereka memperlihatkan bagaimana sebuah event dapat menjadi ruang kolaborasi lintas batas yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengedukasi dan meninggalkan warisan budaya digital bagi masa depan.





