BerandaFeatureWalking Tour Jadi Tren Baru, Indonesia Punya Modal Alam hingga Budaya

Walking Tour Jadi Tren Baru, Indonesia Punya Modal Alam hingga Budaya

Published on

spot_img

Jakarta, Venuemagz.com – Berjalan kaki kini bukan lagi sekadar aktivitas pelengkap ketika berwisata. Walking tourism atau walking tour berkembang menjadi salah satu bentuk wisata berbasis pengalaman yang menawarkan kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal sejarah, budaya, kehidupan masyarakat, hingga kuliner sebuah destinasi secara lebih dekat.

Tren tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan produk wisata yang tidak semata-mata menjual destinasi, tetapi pengalaman selama perjalanan. Apalagi, perubahan perilaku wisatawan setelah pandemi menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap kegiatan di alam terbuka, autentisitas, serta interaksi dengan masyarakat lokal.

UN Tourism mencatat, alam, wisata pedesaan, dan road trip muncul sebagai pilihan perjalanan populer ketika pandemi mengubah perilaku wisatawan. Wisatawan juga memberi perhatian lebih besar pada keberlanjutan, autentisitas, kehidupan lokal, serta dampak positif perjalanan terhadap masyarakat setempat.

Dalam kegiatan Indonesia Tourism & MICE Outlook 2027, 24 September 20206, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari menguatnya experience tourism atau wisata berbasis pengalaman.

“Tren experience tourism meningkat setelah pandemi,” kata Made.

Menurut dia, salah satu kecenderungan baru yang berkembang adalah walking tourism. Konsep ini menjadikan aktivitas berjalan kaki sebagai bagian penting dari pengalaman wisata, bukan sekadar cara berpindah dari satu objek wisata ke objek lainnya.

“Tren baru adalah walking tourism. Di Eropa, nilainya mencapai miliaran dollar. Di Eropa ada Camino Walk, jalan puluhan kilo per hari untuk mencapai suatu tempat, meskipun ada unsur religious juga. Di sini juga lagi tren,” ujar Made.

Kecenderungan yang disampaikan Made sejalan dengan kajian Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries (CBI), lembaga di bawah Kementerian Luar Negeri Belanda. CBI menyebut walking tourism sebagai aktivitas wisata petualangan yang sangat populer dan menilai minat terhadap aktivitas maupun liburan berbasis berjalan kaki meningkat di sebagian besar negara Eropa.

BACA JUGA:  Pertarungan Tiga Raksasa Pameran Bahari

Menariknya, pasar tersebut bukan hanya tertarik pada aktivitas fisik. Menurut CBI, banyak wisatawan pejalan kaki Eropa tertarik menjelajahi daerah terpencil sekaligus membenamkan diri dalam budaya lokal, kuliner, sejarah, warisan budaya dan wellness. Aktivitas berjalan juga kerap dikombinasikan dengan pengalaman alam, rekreasi, budaya dan kuliner. Karakter inilah yang memberikan peluang besar bagi Indonesia.

Camino de Santiago Tembus Setengah Juta Peziarah

Salah satu contoh paling kuat datang dari Camino de Santiago, jaringan jalur perjalanan yang menuju Santiago de Compostela di Spanyol. Walaupun berakar kuat sebagai perjalanan ziarah keagamaan, Camino kini juga menarik wisatawan dengan motivasi budaya, rekreasi, pencarian pengalaman pribadi, dan aktivitas luar ruang.

Popularitasnya terus meningkat. Data Pilgrim’s Reception Office yang dikutip sejumlah sumber menunjukkan sekitar 531.000 peziarah memperoleh sertifikat Compostela pada 2025, naik sekitar 6 persen dibandingkan 2024. Sekitar 93 persen menyelesaikan perjalanan dengan berjalan kaki. Angka itu bahkan belum mencakup orang yang berjalan di jalur Camino tetapi tidak mengambil sertifikat ketika tiba di Santiago.

Sebagai pembanding, sekitar 348.000 orang tercatat menyelesaikan Camino pada 2019. Jumlahnya turun menjadi sekitar 54.000 pada 2020 akibat pandemi, sebelum kembali meningkat menjadi 438.000 pada 2022, mencapai 499.000 pada 2024, dan menembus sekitar 531.000 pada 2025.

Pertumbuhan itu sekaligus memperlihatkan potensi ekonomi walking tourism. Laporan Marketplace pada September 2026 menyebut jumlah pengguna Camino telah meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya, dan arus pejalan tersebut menopang bisnis-bisnis kecil di kawasan pedesaan yang dilalui jalur Camino.

Indonesia Bisa Padukan Jalan Kaki, Wastra, hingga Wisata Bahari

Indonesia tentu tidak harus meniru Camino secara identik. Menurut Made, kekayaan produk wisata Indonesia justru memungkinkan konsep berjalan kaki dikombinasikan dengan beragam pengalaman lain.

BACA JUGA:  Perputaran Ekonomi MICE Domestik Mencapai Rp418 Triliun

“Untuk itu, bisa dipadukan antara walking tourism dengan wastra, art and culture, dan marine tourism. Itu di Indonesia akan sangat menarik dan pengalamannya sangat dapat karena mereka akan melihat budaya, alam, dan lingkungannya di sana,” katanya.

Produk semacam itu dapat membuat kegiatan berjalan kaki menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sebuah destinasi secara lebih utuh. Wisatawan tidak hanya menyusuri sebuah rute, tetapi sepanjang perjalanan dapat berinteraksi dengan masyarakat, melihat proses pembuatan wastra, mengenal kesenian tradisional, hingga menikmati lanskap alam.

Model tersebut mempunyai kesamaan dengan karakter wisatawan walking tourism yang dipetakan CBI. Selain mencari aktivitas fisik, wisatawan dalam segmen ini menginginkan pengalaman autentik dan interaksi dengan kebudayaan, sejarah, kuliner serta masyarakat lokal. Walking tourism juga dinilai dapat memperkuat komunitas lokal serta memiliki dampak lingkungan relatif rendah apabila dikembangkan dan dikelola dengan tepat.

Indonesia sudah memiliki modal untuk mengembangkan model perjalanan tersebut. Jaringan desa wisata misalnya, menawarkan kegiatan yang memungkinkan wisatawan terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat. Kementerian Pariwisata mencatat Desa Wisata Sani-Sani di Sulawesi Tenggara menawarkan Living Life Program, di mana wisatawan dapat mengikuti keseharian petani, pekebun cengkeh, petani rumput laut, ataupun nelayan.

Model serupa juga berpotensi diterapkan pada kawasan alam dan budaya seperti Jatiluwih di Bali. UN Tourism mencatat kawasan tersebut menggabungkan bentang persawahan dengan sistem irigasi tradisional Subak serta kehidupan pertanian masyarakat. Pengelolaan pariwisatanya diarahkan untuk menjaga lanskap sekaligus memastikan aktivitas wisata mendukung sistem pertanian dan budaya lokal, bukan mengganggunya.

Dengan kata lain, kekuatan produk walking tourism Indonesia bisa terletak pada apa yang dialami wisatawan sepanjang perjalanan, bukan semata-mata seberapa jauh mereka berjalan.

BACA JUGA:  Inilah Lima Pasar Wisman Utama bagi Indonesia

“Semakin menarik dan kreatif, itu yang akan dicari oleh wisatawan. Ada segmennya, kok,” kata Made.

Bukan Mengejar Jumlah Wisatawan

Pengembangan walking tourism juga dapat menjadi bagian dari strategi Indonesia mendorong pariwisata berkualitas atau quality tourism. Pendekatan tersebut memandang keberhasilan pariwisata tidak hanya dari banyaknya orang yang datang, tetapi juga kualitas pengalaman serta manfaat perjalanan bagi destinasi dan masyarakat.

Made menekankan, wisata berbasis pengalaman merupakan bagian dari konsep tersebut. Namun, interaksi yang lebih dekat dengan warga serta budaya lokal harus disertai sikap menghormati nilai-nilai di destinasi.

“High quality tourism termasuk di dalamnya experience tourism, di mana wisatawan harus menghargai budaya setempat,” ujar Made.

Arah tersebut sejalan dengan gagasan pariwisata berkelanjutan yang dikembangkan UN Tourism. Organisasi itu menempatkan pariwisata sebagai instrumen yang berpotensi menciptakan pekerjaan sekaligus melindungi sumber daya alam dan budaya serta memberdayakan masyarakat, khususnya di kawasan perdesaan.

Kementerian Pariwisata sendiri menekankan pariwisata berkualitas antara lain diarahkan agar wisatawan tinggal lebih lama, kembali berkunjung, dan merekomendasikan pengalaman mereka kepada orang lain. Perjalanan wisata juga mempunyai efek ekonomi berantai bagi transportasi, akomodasi, kuliner, atraksi, ekonomi kreatif, hingga UMKM di daerah tujuan.

Dengan modal bentang alam dan keberagaman budaya yang besar, walking tourism memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjual produk yang berbeda. Jalan kaki dapat menjadi benang merah yang menghubungkan alam, wastra, seni, budaya, kuliner, kehidupan desa, hingga wisata bahari dalam satu perjalanan.

Pengalaman seperti itulah yang berpotensi menjadi nilai tambah. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sebuah tempat dan mengambil foto, tetapi berjalan melintasinya, bertemu masyarakat yang tinggal di sana, memahami budayanya, dan pada akhirnya membawa pulang cerita.

Malaysia Beralih dari Sekadar Bersertifikat Halal Menjadi Berdaya Saing Halal

Malaysia, Venuemagz.com -- Malaysia menyerukan perubahan dari sekadar memiliki sertifikasi halal (halal-certified) menjadi berdaya...

Kokoon Hotel Banyuwangi Hadirkan Solusi Meeting Lebih Produktif dan Interaktif

Banyuwangi, Venuemagz.com - Pertemuan seharian penuh tak jarang membuat jenuh dan menguras energi. Di...

WITF 2026 Bidik Buyer Berkualitas, Pengalaman Wisata Indonesia Jadi Daya Tarik

Jakarta, Venuemagz.com – Perhelatan Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 tidak sekadar memburu...

Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara Kembali Digelar, Dorong Edukasi Satwa dan Lingkungan

Jakarta, Venuemagz.com - Jagat Satwa Nusantara (JSN) mengumumkan akan kembali menggelar kegiatan Cerdas Cermat...

Pengalaman Unik Walking Tour di dalam Hotel

Jakarta, Venuemagz.com -- House of Tugu Jakarta tidak hanya menawarkan pengalaman menginap dan pertemuan...