Pembukaan ARTOTEL Pertama Di Semarang

Wednesday, 02 March 16   371 Views   0 Comments   Venue

Perusahaan manajemen perhotelan ARTOTEL Indonesia mengumumkan rencana ekspansinya dengan menandatangani kerja sama pembangunan ARTOTEL Semarang. Kerja sama dengan PT Humana Demiatri Agung selaku pemilik ARTOTEL Semarang tersebut menjadikan portofolio ARTOTEL Indonesia yang akan dibangun dalam dua tahun ke depan bertambah banyak.

Saat ini ARTOTEL Indonesia mengelola dua properti yang telah beroperasi, yakni ARTOTEL Surabaya dan ARTOTEL Thamrin-Jakarta. Dalam dua tahun ke depan, ARTOTEL Indonesia akan membuka ARTOTEL Sanur-Bali (April 2016), ARTOTEL Yogyakarta (2016), ARTOTEL Beach Club-Bali (2017), ARTOTEL Bandung (2017), dan ARTOTEL Semarang (2017).

ARTOTEL Semarang tetap akan mengusung konsep seperti hotel ARTOTEL lainnya, yakni desain hotel yang terinspirasi dari seni. ARTOTEL Semarang akan dibangun dengan nuansa seni kontemporer di jalan Gajah Mada, daerah pusat bisnis yang berada di tengah kota Semarang, dan ditargetkan untuk mulai beroperasi pada akhir tahun 2017.

ARTOTEL Semarang akan memiliki 88 kamar dan ditunjang berbagai fasilitas khas ARTOTEL, yakni ROCA (restoran seni kontemporer 24 jam), BART (bar di atap hotel), dan ARTSPACE sebagai ruang galeri karya seni untuk mendukung para seniman kontemporer lokal. Selain itu, ARTOTEL Semarang juga akan dilengkapi dengan fasilitas ruang pertemuan: MEETSPACE. 

Erastus Radjimin, CEO ARTOTEL Indonesia, mengatakan, “Suatu kehormatan bagi kami telah dipercaya oleh PT Humana Demiatri Agung untuk mengelola hotel yang memadukan unsur seni dan hospitality di Semarang dengan nama ARTOTEL Semarang. Untuk mendukung unsur seni kontemporer, hotel ini akan dirancang oleh salah satu arsitek kontemporer ternama Indonesia, yaitu Andra Matin. Dengan keunikan konsep yang diusung oleh ARTOTEL Semarang, kami yakin hotel ini akan menjadi ikon baru di Semarang sebagai hotel butik pilihan para wisatawan, baik untuk kegiatan bisnis maupun liburan, serta hotel yang mendukung seniman kontemporer lokal.”

Penulis: Harry Purnama