Kenali Perbedaan Dua Konsep Podcast Ini

Friday, 25 June 21 Venue

Podcast ialah perkataan yang direkam dan diunggah di internet sebagai medium distribusi. Data dari Spotify pada 2020 menunjukkan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pendengar Podcast terbanyak di Asia Pasifik dan masuk 10 besar negara potensi Podcast tertinggi di dunia.

Eiza Maghfira, penyiar radio & Podcaster di Ardan Radio Bandung, mengatakan, sekarang lebih mudah memproduksi podcast hanya dengan menggunakan smartphone.

“Dulu kita harus produksi dengan microphone seperti orang siaran radio yang dikoneksikan ke komputer atau laptop, dan untuk mediumnya juga terbatas. Kita dulu hanya bisa pakai beberapa medium untuk bisa ada di internet. Dulu jauh lebih susah dari sekarang,” ungkapnya saat mengisi Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (18/6/2021).

BACA JUGA:   Dua Dampak Bahaya Pornografi di Dunia Digital

Dia pun membagikan tips untuk mulai membuat Podcast kepada para peserta webinar, dimulai dari melihat potensi yang didapat dari minat.

“Di Spotify itu lebih mudah, tinggal masuk ke kategorinya. Ada games, politik, horor, komedi dan lainnya tinggal lihat saja mana yang sesuai dengan selera teman-teman yang masih bisa dieksplor. Peluangnya masih sangat banyak dari tiap-tiap kategori itu,” tambahnya.

BACA JUGA:   Empat Alasan Perlu Lakukan Social Media Detox

Kemudian, menentukan konsep, apakah dialog atau monolog. Dialog contohnya seperti podcast milik Deddy Corbuzier. Sementara monolog fokusnya hanya di satu orang, seperti yang dibawakan oleh Rintik Sedu.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Literasi Digital Untuk Cerdas Bermedia Sosial

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).