BerandaNewsHospitality Wars: DayBreakHotels vs Home-Sharing

Hospitality Wars: DayBreakHotels vs Home-Sharing

Published on

spot_img

Konsep sharing economy telah mengubah industri akomodasi. Dengan tumbuhnya Airbnb dan platform lain yang sejenis, hotel-hotel tradisional mulai mengalami penurunan tingkat okupansi. Harga yang kompetitif dan kemudahan memesan kamar di menit-menit terakhir menjadi keunggulan utama para pemain home-sharing platform.

Hadirnya kesuksesan itu tentu diiringi dampak negatif bagi yang lainnya. Sejak Airbnb menanjak popularitasnya, industri hotel kehilangan revenue 1,5 persen hanya di Amerika Serikat. Selain itu, sekitar 2,5 juta kamar tidak terisi setiap tahunnya, dan yang terburuk adalah sekitar 2.800 orang kehilangan pekerjaan. Berdasarkan data, munculnya konsep home-sharing telah menyebabkan penurunan kamar hotel sebesar 1,3 persen, yang tentu berujung pada hilangnya revenue. Dengan perubahan paradigma ini, perusahaan teknologi dari Roma memiliki rencana tersendiri untuk mengembalikan hal tersebut.

BACA JUGA:  GTA Dan TAT Meluncurkan Program Untuk Memulihkan Pariwisata Thailand

DayBreakHotels adalah platform pemesanan hotel yang mengutamakan pada pemakaian hanya hitungan jam. Targetnya adalah para wisatawan atau pebisnis yang mencari tempat untuk bekerja atau hanya sekadar untuk beristirahat di tengah jeda meeting atau menunggu penerbangan.

DayBreakHotels bekerja sama dengan hotel-hotel untuk menyediakan masa menginap yang singkat, dengan tujuan mengisi kamar-kamar yang kosong di siang hari. Dengan jutaan kamar hotel yang kosong setiap tahunnya, konsep ini menciptakan sumber pemasukan baru yang membuat hotel-hotel mewah menjual kamarnya hanya untuk jangka waktu 6-8 jam di siang hari.

BACA JUGA:  Kementerian Pariwisata Siapkan 4 Quick Wins Tahun 2025

Ini merupakan solusi terbaik untuk para hotel dan tamunya. Simon Botto, CEO dan co-founder DayBreakHotels, mengatakan, “Menjual kamar dan pelayanan ini dapat meningkatkan revenue hotel, serta memberikan para tamu pengalaman unik menginap di hotel mewah dengan harga yang murah.”

DayBreakHotels saat ini memiliki jaringan lebih dari 3.000 hotel mewah, 250 di antaranya berada di Inggris Raya, sehingga industri hotel di Inggris dapat kembali ke masa-masa jayanya. Para mitra DayBreakHotels pun telah merasakan peningkatan keuntungan sebesar 10-20 persen.

BACA JUGA:  Kemenparekraf Luncurkan Santri Digitalpreneur Indonesia Agar Dapat Melek Teknologi

“Saya yakin ini akan mengubah peta persaingan di industri hospitality, mendefinisikan kembali konsep tradisional sebuah hotel, dan memberikan hotel sebuah alat untuk bersaing dengan Airbnb, serta meningkatkan pemasukan mereka sebesar 10-20 persen,” ujar Botto.

spot_img
spot_img

INAMICE 2026 Dorong Transformasi Digital untuk Perkuat Smart Economy Jakarta

Jakarta, Venuemagz.com - Setelah sukses menghadirkan 185 peserta offline dan 107 peserta online dari...

Piala Dunia 2026 Memicu Pertumbuhan Perjalanan Wisata Dunia

Perhelatan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko (11 Juni...

BTS Bikin Hotel Penuh, Busan Gratiskan Rumah Warganya

Jakarta, Venuemagz.com - Ketika sebuah kota menjadi tuan rumah konser BTS, yang datang bukan...

ISCOMICE 2026 Dorong Transformasi Industri MICE melalui Smart Technology dan Human-Centered Innovation

Jakarta, Venuemagz.com — Program Studi MICE Politeknik Negeri Jakarta kembali menyelenggarakan konferensi ilmiah tahunan...