Bali, Venuemagz.com – Bali telah dikenal masyarakat dunia sebagai destinasi yang memadukan antara budaya, spiritualitas, serta alam. Namun, popularitas global tersebut membawa tantangan besar seperti over tourism, krisis air, hingga sampah plastik.
Tak heran banyak pelaku usaha yang semakin memperkuat konsep pariwisata berkelanjutan untuk melindungi Bali dari dampak negatif tersebut. Dengan konsep tersebut, mereka tidak lagi mengejar jumlah wisatawan (mass tourism), tetapi lebih mementingkan kualitas dan dampak jangka panjang.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Sanggraloka Ubud, sebuah resort yang baru beroperasi pada Oktober 2025 dan berlokasi di Bresela, Ubud Bali. Penerapan pariwisata berkelanjutan di resort ini lebih menekankan bagaimana cara menjaga alam, menguatkan komunitas, serta mendorong ekonomi lokal.

Selama beberapa bulan beroperasi, resort ini menjalankan sistem keberlanjutan yang terukur khususnya dalam segi operasional. Dimulai dari yang paling dasar seperti pengelolaan limbah sampah hingga menggunakan air dan energi secara tepat.
Limbah sisa operasional mulai dipilah dan dikelola agar dapat dijadikan kompos maupun didaur ulang sebagai produk kreatif. Sedangkan penggunaan air dan energi dioptimalkan melalui pengelolaan grey water, pemanenan air hujan, serta efisiensi peralatan.
Upaya ini selaras dengan kerangka GSTC (Global Sustainable Tourism Council) dan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diterapkan melalui komite internal. Selain itu, juga sejalan dengan indikator terukur seperti pengurangan pemakaian air per guest-night, pengalihan sampah dari TPA minimal 70 persen, penurunan intensitas energi hingga 10 persen per tahun, serta pemantauan biodiversitas melalui indeks burung dan kupu-kupu di jalur Forest Path.
Komunitas sekitar seperti petani, perajin, dan pemandu budaya dilibatkan secara prioritas dalam mengisi rantai pasok resort. Dengan demikian, terjadi perputaran ekonomi lokal yang diproyeksikan mencapai Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,6 miliar per tahun saat resort mencapai kapasitas penuh.
Tak hanya itu, resort ini juga memberdayakan masyarakat sekitar Bresela dan Payangan untuk menjadi pekerja di Sanggraloka Ubud. Lebih dari 70 persen tenaga kerja berasal dari dua daerah tersebut dan semuanya diberikan pelatihan hospitality berbasis budaya dan praktik ramah lingkungan.
Dengan operasional yang efisien, diversifikasi pendapatan, dan keterlibatan ekonomi lokal yang terukur, Sanggraloka menjadi contoh bagaimana model hospitality dapat menciptakan nilai komersial sekaligus sosial. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya memenuhi ekspektasi pasar modern, tetapi juga memperkuat daya saing, loyalitas tamu, dan stabilitas bisnis jangka panjang.
“Di tengah transformasi industri pariwisata yang menuntut diferensiasi dan tanggung jawab, Sanggraloka Ubud hadir sebagai luxury resort pilihan terbaik di Bali yang berkembang tanpa melepaskan akarnya pada komunitas dan lingkungan yang mendukungnya,” kata I Wayan Lanus, Direktur dan Partner Sanggraloka Ubud.




