Menikmati Es Krim Legendaris di Kota Surabaya

Thursday, 17 December 20 Bonita Ningsih
Zangrandi

Berwisata ke Surabaya yang identik dengan cuaca panas rasanya tak lengkap apabila tidak berkunjung ke toko es krim legendaris Zangrandi. Toko yang berada di Jalan Yos Sudarso Nomor 15 ini hanya berjarak sekitar 20 menit dari Bandara Juanda.

Berdiri sejak tahun 1930, Zangrandi merupakan pionir es krim pertama di Surabaya. Nama Zangrandi sendiri diambil dari nama pemiliknya yang berasal dari Italia, yakni Roberto Zangrandi. Sementara, resep es krimnya diciptakan oleh istrinya Nyonya Zangrandi, atau yang dahulu dikenal dengan sebutan Mevrouw Zangrandi. Resep inilah yang menjadi kunci kesuksesan Zangrandi secara turun-menurun hingga saat ini.

Awal didirikan, kedai es krim ini dikenal dengan sebutan R. Zangrandi yang berlokasi di Jalan Sindu Negara (kini disebut Jalan Yos Sudarso). Kala itu, Nyonya Zangrandi telah menciptakan empat rasa es krim, yakni vanila, cokelat, moka, dan strawberry.

“Kalau untuk menu awalnya itu hanya ada tiga pilihan, yaitu Tutti Frutti, Macedonia, dan Soda Ice Cream,” kata Hanifah Siswanti, Public Relation Officer Zangrandi Ice Cream Surabaya.

Namun, sekitar tahun 1960-an, keluarga Zangrandi memutuskan untuk kembali ke negara asalnya dan menjual kedai es krimnya kepada pengusaha winery bernama Adi Tanumulia. Semenjak itu, kedai ini lebih dikenal dengan sebutan Graha Es Krim Zangrandi.

BACA JUGA:   Jeju, Destinasi MICE dengan Keindahan Alam

Di tangan pemilik barunya, kedai es krim ini memiliki menu dan rasa yang lebih bervariasi dari sebelumnya. Terdapat menu tambahan seperti Noodle Ice Cream, Love Deal, Nutty Monkey, dan Banana Split. Untuk rasanya sendiri ditambah dengan kopyor, cokelat chip, raspberi, leci, rum raisin, hingga mocha choco flake.

“Kepemilikan tempat ini sekarang sudah masuk generasi ketiga. Jadi, menu yang ditambahkan pun cukup banyak, kurang lebih 20 menu,” Hanifah menambahkan.

Meski menu yang diberikan sudah berkembang, bagian luar bangunan ini tidak mengalami banyak perubahan. Menurutnya, sejak tahun 2017 bangunan Graha Es Krim Zangrandi didaftarkan menjadi salah satu cagar budaya di Surabaya. Oleh karenanya, beberapa bagian bangunan tidak boleh dilakukan renovasi besar-besaran.

“Bangunan luar ini hampir 80 persen sama seperti dulu karena ikut program cagar budaya ini. Selain bangunan, kursi di sini juga masih ada yang dilestarikan. Bahkan, kalau mau ganti warna kursi pun harus izin ke pemerintah kota setempat,” ujarnya lagi.

Tutti Frutti Menjadi Menu Favorit

Sejak awal didirikan, Tutti Frutti masih menjadi menu unggulan. Menurut Hanifah, hal ini terjadi lantaran cita rasa dari Tutti Frutti tidak mengalami perubahan dari pertama kali kedai ini buka. Cita rasa yang autentik dengan tambahan slagroom atau krim kocok di atasnya membuat menu ini menjadi paling diincar oleh para pengunjung.

BACA JUGA:   Dijadikan Mass Tourism, Pulau Rinca Tak Lagi Eksklusif

“Jadi, saat pindah kepemilikan ini, seluruh aset Zangrandi yang sebelumnya mulai dari bangunan, mesin es krim, hingga resepnya itu juga dijual. Makanya, rasa es krimnya tidak berubah,” Hanifah menjelaskan.

Penyajian Tutti Frutti sama seperti es potong pada umumnya yang di luarnya dibalut dengan kertas khusus makanan. Selain diberikan sentuhan slagroom, bagian dalam es krim juga ditambahkan buah ceri untuk memberikan kesan nikmat. Menurut Hanifah, slagroom dibuat dari putih telur yang difermentasi kemudian dicampur dengan susu. Cita rasa yang dihasilkan dari slagroom ini membuat es krim Zangrandi unggul dari es krim merek lain.

Sementara itu, rasa es krim yang paling favorit di Zangrandi ialah vanila, rum raisin, hingga kopyor. Untuk kalangan remaja, Hanifah menyebutkan, lebih menyukai rasa es krim vanila dan rum raisin, sementara kalangan orang tua lebih menyukai rasa kopyor.

“Semua es krim di sini tanpa bahan pengawet, jadi gampang sekali untuk mencair. Coba saja es krimnya ditunggu 5 menit, pasti sudah leleh,” ucap Hanifah.

BACA JUGA:   6 Destinasi Wisata Menarik di Kota Kibichuo, Jepang

Harga yang ditawarkan mulai dari Rp30.000 hingga Rp69.000 untuk menu es krim. Para pengunjung tidak perlu khawatir kehabisan tempat duduk karena kedai ini mampu menampung kurang lebih 70 orang.

Terapkan Protokol Kesehatan

Selama pandemi, kedai Zangrandi tidak pernah menutup operasionalnya untuk pengunjung. Hanya saja, kedai ini menyesuaikan jam operasional yang telah ditentukan pemkot setempat. Menurut Hanifah, jam operasional Zangrandi di awal pandemi dari pukul 11.00-21.00 WIB.

“Tetapi, karena mendapat kelonggaran dari Pemkot, kita buka dari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB,” ujarnya.

Selain menyesuaikan jam operasional, kedai ini juga telah menerapkan protokol kesehatan yang telah ditentukan pemerintah setempat, seperti menyediakan tempat cuci tangan di depan pintu masuk dan memberikan sekat di area kasir. Para pekerja juga diwajibkan untuk menggunakan masker dan face shield saat bekerja untuk memberikan kenyamanan kepada para pengunjung.