Tangerang, Venuemagz.com – Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 (IPA Convex) resmi dibuka untuk ke-50 kalinya. Ajang tahunan industri hulu migas ini tengah diselenggarakan pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Mengusung tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth”, IPA Convex hadir sebagai ruang konsolidasi untuk menjawab tantangan energi masa depan. IPA Convex juga hadir sebagai pameran teknologi dan investasi industri migas yang terbesar di Asia Tenggara.
Tahun ini, IPA Convex didukung oleh lebih dari 200 perusahaan dan institusi yang berhubungan dengan industri migas. Berbagai rangkaian kegiatan pun telah disiapkan mulai dari upacara pembukaan dan penutupan acara, pameran, hingga forum diskusi.
Lebih dari 200 technical presentation yang hadir dalam forum diskusi tahun ini. Forum ini membahas berbagai isu strategis seperti eksplorasi migas, teknologi energi, transisi energi, hingga investasi sektor hulu.
Acara ini juga menghadirkan berbagai forum strategis seperti Plenary Session, Concurrent Session, dan Innovative Energy Solutions. Forum ini mempertemukan perusahaan energi global, investor, serta penyedia teknologi untuk membahas solusi menghadapi tantangan energi masa depan.
Menjadi Ruang Pertemuan Pemerintah dan Pelaku Usaha
Memasuki usia emasnya, IPA Convex dirancang sebagai ruang pertemuan terbaik bagi pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, hingga generasi muda untuk mendukung ketahanan energi nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan dari isu geopolitik global yang terus memengaruhi rantai pasok energi dunia termasuk Indonesia.
“Isu ini melahirkan ketidakpastian bagi banyak negara, bukan hanya yang sedang bertikai saja. Indonesia menjadi salah satu yang terdampak karena masih mengandalkan energi dari negara lain,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Upacara Pembukaan IPA Convex di ICE BSD pada 20 Mei 2026.

Oleh sebabnya, ia menilai kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah semakin penting dilakukan dalam menghadapi tantangan industri hulu migas di era sekarang ini. Ia mencontohkan, lifting tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya kolaborasi antara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan pemerintah.
“Sudah ada berbagai upaya yang kami lakukan dalam melakukan reform, termasuk berbagai regulasi untuk melakukan percepatan. Saya minta kepada teman-teman SKK Migas kalau masih ada yang lambat tolong disampaikan,” ucap Bahlil.
Adanya kolaborasi tersebut juga disetujui oleh Kathy Wu selaku President IPA dalam acara yang sama. Menurutnya, terdapat tiga fondasi utama yang harus dijaga oleh pemerintah maupun pelaku usaha untuk menghasilkan kemitraan terbaik.
Fondasi pertama adalah kepastian hukum dan menghormati kontrak yang sudah disepakati. Menurutnya, proyek hulu migas merupakan proyek padat modal, berisiko tinggi, dan memiliki siklus panjang. Keputusan investasi dibuat untuk jangka waktu bertahun-tahun hingga puluhan tahun masa operasi proyek.
“Ketika ketentuan fiskal dan kontrak dihormati secara konsisten, kepercayaan investor akan tumbuh, modal akan tetap masuk, dan proyek dapat berjalan maju. Hal tersebut pada akhirnya menciptakan kondisi di mana investasi mampu memberikan nilai tambah besar bagi Indonesia,” jelas Kathy.
Kedua adalah dari sisi waktu pengerjaan proyek. Siklus proyek yang terlalu panjang menjadi salah satu risiko terbesar di industri migas.
“Karena itu, seluruh pihak memiliki tantangan bersama untuk mempercepat pengembangan proyek dengan meminimalkan berbagai hambatan dan keterlambatan,” tambahnya.
Terakhir adalah dengan mendorong kegiatan eksplorasi. Menurutnya Indonesia memiliki potensi besar untuk urusan cadangan migas, namun akan terasa percuma jika tidak ada kegiatan eksplorasi.
“Indonesia masih memiliki potensi besar, di mana lebih dari 50 persen cekungan migas nasional belum dieksplorasi secara optimal,” ujarnya.
Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki target produksi energi yang jelas dan IPA siap untuk mendukung ambisi tersebut. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kecepatan, koordinasi, dan keselarasan di seluruh sistem.
Dalam hal ini, IPA menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dan berkolaborasi. Pengalaman menunjukkan bahwa keselarasan yang kuat antara pemerintah dan industri memungkinkan proyek berjalan lebih lancar dan tujuan bersama dapat tercapai.
“IPA bersama seluruh anggotanya menyatakan siap menjadi mitra strategis pemerintah Indonesia, siap berinvestasi, siap berkolaborasi, serta siap membantu menyediakan energi yang aman, terjangkau, dan semakin rendah karbon,” tutup Kathy.





