Lembaga nirlaba Titimangsa berkolaborasi dengan PENASTRI (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia), menghadirkan Festival Teater Indonesia (FTI) 2025. FTI adalah ajang perayaan untuk seni teater dan pertemuan bagi para praktisi, pendukung, juga penonton teater.
Festival teater tingkat nasional perdana ini akan diselenggarakan di empat kota, yaitu Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta. Sebanyak 16 kelompok teater dari seluruh penjuru Indonesia akan dipilih melalui panggilan terbuka (open call).
Panggilan terbuka FTI sudah dimulai sejak 25 Agustus 2025. Pengumuman peserta terpilih akan disampaikan secara daring pada 30 September 2025, kemudian pergelaran festival di 4 kota direncanakan terjadi pada 1-16 Desember 2025.
Happy Salma, Ketua Dewan Pengawas Festival Teater Indonesia, mengungkapkan, kegiatan yang didukung oleh Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI tersebut digagas untuk membuka ruang dan mengaitkan para insan teater satu sama lain yang ada di seluruh penjuru Indonesia.
“Festival ini bisa menjadi pilihan atau alternatif untuk ekosistem seni pertunjukan yang dilandasi oleh rasa guyub dan kebersamaan. Dan selama hampir berbelas tahun, lembaga budaya Titimangsa sendiri lebih banyak berpusat di kota besar, kami ingin buka ruang yang lebih luas lagi,” katanya.
Lebih lanjut Happy mengungkapkan, sebelumnya Komite FTI telah bertemu dengan praktisi atau penggiat teater dari berbagai wilayah di Indonesia dalam focus group discussion (FGD) pada 13-14 Agustus 2025. “Selain sosialisasi program festival, pada kesempatan itu juga didengarkan masukan, kritik, dan aspirasi dari pelaku teater agar rangkaian kegiatan FTI terencana dengan baik dan konsisten pada pelaksanaannya,” katanya lagi.
Sementara itu, Pradetya Novitri, Direktur Festival Teater Indonesia, menjelaskan, di Indonesia sebetulnya ada banyak festival teater yang basisnya daerah tertentu atau wilayah tertentu, sebut saja Festival Drama Bahasa Sunda, Festival Teater Jakarta, dan Festival Teater Sumatera. Para penampil di festival-festival tersebut kebanyakan kelompok teater yang ada di kota masing-masing.
“Melihat fenomena itu, kami bercita-cita untuk membuat sebuah ajang pertemuan kelompok-kelompok teater lintas wilayah dan lintas daerah. Gelaran pementasan lintas wilayah ini diharapkan juga jadi ajang pertukaran pengetahuan. Misalkan, kelompok teater yang berbasis di Sumatera bisa pentas di Palu atau di Mataram; yang ada di Kalimantan bisa jadi pentas di Jakarta, dan yang ada di Jakarta bisa jadi pentas di Medan,” ujar Pradetya.
Festival Teater Indonesia mendukung upaya penguatan ekosistem seni budaya oleh Kementerian Kebudayaan RI, khususnya seni pertunjukan dan sastra, serta Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, di mana FTI diharapkan mampu melahirkan talenta-talenta baru di ranah teater Tanah Air.
Pada edisi tahun perdananya, FTI mengangkat tema “Sirkulasi Ilusi” yang menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi di tengah kehidupan kontemporer. Melalui tema tersebut, FTI berupaya memperluas sirkulasi gagasan, mempertemukan seniman lintas wilayah, serta memperkaya khazanah hubungan antara teks sastra dan panggung pertunjukan.
Calon penampil FTI tersebut harus memiliki rekam jejak karya pertunjukan teater dalam lima tahun terakhir, yang dibuktikan dengan dokumentasi foto atau video karyanya. Secara administratif, kelompok teater harus mengisi formulir aplikasi secara lengkap paling lambat 19 September 2025, pukul 23.59 WIB.
Sebanyak 16 kelompok teater yang terpilih dari panggilan terbuka ini akan mendapatkan pendanaan produksi serta pendampingan dari kurator. Selain itu, 4 kelompok teater lainnya akan dipilih melalui jalur undangan. Kelompok undangan ini akan tampil di kota yang ditentukan dan memainkan naskah adaptasi karya sastra Indonesia yang secara khusus dihasilkan oleh Komite FTI.






