Jakarta, Venuemagz.com – Di tengah hiruk-pikuk Salone del Mobile, sebuah perayaan tahunan yang kerap dianggap sebagai “altar” bagi para pemuja desain dunia, Indonesia datang bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai narasi yang hidup.
Tahun ini, melalui Indonesia Design District (IDD) PIK 2, Indonesia membawa sesuatu yang lebih dari sekadar objek: sebuah cara pandang. Salone del Mobile akan berlangsung pada 21–26 April 2026 di Milan, Italia.
Kehadiran IDD PIK 2 terasa seperti sebuah intervensi halus namun tegas mengajak publik global untuk melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber material eksotis, tetapi sebagai ekosistem desain yang matang, berpikir, dan terus berevolusi.
Pengumuman partisipasi di Salone del Mobile Milano sendiri disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Elmirai Showroom, IDD PIK 2, pada 9 April 2026.
Lewat IDD Pavilion bertajuk House of Indonesia, ruang pamer ini tidak sekadar menjadi tempat memajang karya, tetapi menjelma sebagai lanskap ide. Ia merangkai hubungan antara desainer, brand, manufaktur, hingga komunitas kreatif dalam satu tempat.
“Lewat IDD Pavilion, kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu berpikir secara konseptual, merancang dengan presisi, dan mengeksekusi dengan kualitas yang siap berdialog di panggung global,” ujar Alvin.
Ia menambahkan, tantangan terbesar hari ini justru bukan lagi soal produksi, melainkan bagaimana Indonesia bisa dipandang sebagai mitra strategis.
“Yang dicari dunia sekarang bukan sekadar produk, tapi solusi yang utuh dari ide, eksekusi, sampai pemahaman terhadap kebutuhan pengguna,” ujar Alvin.
Narasi ini kemudian menemukan bentuknya dalam rancangan ruang oleh Santi Alaysius dari Domisilium Studio. Alih-alih sekadar booth, ia menghadirkan pengalaman yang nyaris kontemplatif.
“Kami melihat material bukan hanya sebagai substance, tapi sebagai pembawa memori dan potensi,” jelas Santi.
Mengambil pendekatan arsip titen, cara belajar melalui pengamatan dalam tradisi Jawa, ia merancang ruang yang berangkat dari material itu sendiri. Komposisi paviliun pun terinspirasi dari bentuk tumpeng; berlapis, terpusat, dan mengarahkan pengunjung pada satu inti pengalaman.
“Hasilnya bukan spektakel, tapi ruang untuk mengamati bagaimana kita belajar mendengar material,” tambah Santi.
Di luar paviliun utama, denyut Indonesia juga terasa melalui kehadiran para desainer muda di SaloneSatellite, ruang di mana gagasan-gagasan baru diuji di hadapan dunia.
Bagi para desainer, momen ini bukan sekadar panggung personal. “Kami datang bukan membawa nama kami sendiri, tapi membawa nama Indonesia,” ujar salah satu perwakilan desainer.
Ia menekankan bahwa kekuatan desain Indonesia justru terletak pada keberagamannya, dari material, teknik, hingga pendekatan kreatif. “Yang ingin kami dorong adalah bagaimana handmade Indonesian contemporary design bisa naik kelas dan berdiri sejajar di level global.”
Cynthia Margaret, salah satu desainer yang terlibat, memilih pendekatan yang lebih personal, menjadikan alam sebagai bahasa utama dalam karyanya. “Saya banyak mengambil gestur dari alam, lalu menerjemahkannya menjadi bentuk,” ujarnya.
Dari batu karang hingga bentukan yang lahir dari kondisi tropis, Cynthia mengolahnya menjadi eksplorasi desain bertajuk crafting contours.
“Lewat karya ini, saya ingin menunjukkan siapa saya sebagai desainer dan secara tidak langsung, bagaimana Indonesia itu sendiri,” ujar Cynthia.
Menariknya, karya-karya tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka lahir dari kolaborasi dengan manufaktur lokal, sebuah penegasan bahwa Indonesia tidak hanya kaya secara ide, tetapi juga matang dalam eksekusi.
Di sisi lain, dukungan terhadap partisipasi ini juga datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Dalam pandangan Kementerian Ekonomi Kreatif, desain kini tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap.
“Desain adalah instrumen pencipta nilai dan daya saing,” ujar Sabar Noman Megawati Panjaitan, Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif.
Ia menegaskan bahwa partisipasi Indonesia di ajang seperti Salone del Mobile menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menggeser persepsi global, dari sekadar basis produksi menjadi negara berbasis desain dan inovasi. Namun, perjalanan menuju ke sana bukan tanpa tantangan.
Ipeng Widjojo, CEO IDD PIK 2, menggarisbawahi satu hal krusial, yakni konsistensi.
“Branding itu mahal, dan tidak bisa instan. Tapi tanpa itu, produk bagus pun tidak akan terlihat,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana Italia membangun reputasinya selama puluhan tahun hingga menjadi benchmark global.
“Ini bukan soal satu event, tapi bagaimana kita membangun narasi secara terus-menerus,” ujar Ipeng.
Pada akhirnya, kehadiran IDD Pavilion di Milan bukan soal seberapa besar ruang yang diisi, tetapi bagaimana Indonesia memilih untuk hadir. Bukan dengan suara paling keras, melainkan dengan cerita yang paling utuh.





