Kesiapan Sektor Event Dan MICE di Era New Normal

Saturday, 12 December 20 Harry
webinar ivendo

Sampai saat ini para ahli di seluruh dunia masih bekerja keras memahami virus COVID-19 untuk menemukan obat atau vaksin yang bisa digunakan menyembuhkan penderita dan memunculkan kekebalan.

Hingga saat itu tiba, pandemi COVID‐19 yang masih berlangsung membuat masyarakat harus selalu siaga dengan melakukan berbagai langkah pencegahan, salah satunya melalui tindakan disinfeksi. Hal ini berlaku untuk semua para pelaku usaha termasuk penyelenggara event dan MICE.

Namun sayangnya, masih banyak usaha penyelenggara event dan MICE yang belum menyesuaikan operasinya dengan protokol kesehatan yang sesuai dengan kaidah pencegahan COVID-19. Karena itu, perlu ditetapkan standar higienitas dan keamanan yang lebih tinggi dari sebelumnya, meliputi higienitas lingkungan, para karyawan, dan juga masyarakat umum.

Untuk itu, Indonesia Hygiene Forum (IHF) dan Dewan Industri Event Indonesia (IVENDO) bekerja sama dengan PT UNILEVER Indonesia Tbk. dan PT ZURICH Insurance Indonesia menyelenggarakan webinar bertema “Kesiapan Sektor Usaha Penyelenggara Event dan MICE dalam Menghadapi Tatanan Aturan Baru di Masa Pandemi” pada 11 Desember 2020.

Webinar ini juga akan ditindaklanjuti dengan pelatihan tingkat dasar petugas/officer CHSE bidang MICE dan event pada 12 Desember 2020. Para peserta yang mengikuti kedua kegiatan tersebut nantinya juga akan mendapatkan sertifikat.

Irvan Mahidin, Wakil Ketua Umum IVENDO, mengatakan, saat ini telah ada 450 peserta yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan ini selama dua hari. “Kegiatan ini juga akan memberikan update terkini penanganan wabah COVID-19 dan program penerapan CHSE oleh pemerintah,” ujar Irvan.

Terkait dengan penerapan CHSE di bidang MICE dan event, Harry Dwi Nugraha, Sekjen IVENDO, menambahkan, “CHSE adalah new currencies. Itu sebuah keniscayaan.”

Harry mengatakan, saat ini ada tujuh tantangan terkini industri event Indonesia, yakni potensi naiknya harga jual, marjin makin tipis, travel restriction, risiko penundaan dan pembatalan acara, risiko transmisi baru, mesin usaha “dingin”, serta likuiditas.

Menurut Harry, naiknya harga jual disebabkan oleh bertambahnya perlengkapan yang wajib ada, seperti termometer infra merah, masker, sarung tangan, hand sanitizer, sabun cuci tangan, disinfektan, dan sebagainya untuk menunjang protokol kesehatan di suatu acara.

Untuk mempercepat pemulihan industri MICE di Indonesia, pemerintah mengeluarkan lima kebijakan. Masruroh, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran Kemenparekraf/Baparekraf, mengatakan, kelima kebijakan tersebut adalah (1) membuat panduan CHSE kegiatan MICE serta melaksanakan sosialisasi dan simulasi di beberapa destinasi MICE, (2) pelaksanaan aktivitas promosi MICE dan pendukungan kegiatan MICE yang diawali di pasar domestik, (3) pelaksanaan bidding kegiatan MICE internasional di Indonesia, (4) pembuatan platform kolaborasi digital MICE Indonesia bernama MICE.id, serta (5) penguatan networking MICE.