JAKARTA, Venuemagz.com – Ada paradoks menarik dalam pasar properti Indonesia tahun ini. Di satu sisi, ekonomi nasional menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan proyeksi pertumbuhan di atas lima persen. Namun, di sisi lain, sektor perumahan justru melambat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan penjualan rumah tipe kecil hingga menengah menurun sepanjang tiga kuartal pertama 2025.
Di tengah tren itu, Renovation Expo Indonesia 2025 muncul dengan misi baru: mengubah keterbatasan menjadi peluang, dan rumah lama menjadi ruang hidup yang lebih inspiratif.
Royanto Handaya, Presiden Direktur Panorama Media, menyebut fenomena ini sebagai “gelombang baru kesadaran ruang”. Masyarakat, katanya, kini lebih rasional. Alih-alih membeli rumah baru yang harganya melonjak, mereka memilih merombak hunian lama agar sesuai gaya hidup pasca-pandemi.
“Renovasi bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan,” ujar Royanto dalam press conference di Jakarta, Selasa (11/11). “Kami ingin menjawab dari konsep hijau menjadi aksi hijau, dari rumah impian menjadi hidup yang menginspirasi”.
Kembalinya Renovation Expo Indonesia 2025 (RENEX) bukan kebetulan. Dua dekade lalu, Panorama Media pernah menyelenggarakan pameran serupa bernama Renovation & Construction Expo (2001-2012), yang kemudian berevolusi menjadi Megabuild Indonesia yang diikuti peserta dari 17 negara.
Kini, setelah pandemi dan perubahan perilaku masyarakat, Renovation Expo Indonesia kembali dihadirkan sebagai “anak kandung” baru dari Megabuild, namun dengan fokus yang lebih spesifik: renovasi, interior, dan desain hunian masa depan.
Rumah Mungil Tetap Bisa Bertumbuh
Bagi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), transformasi ini sejalan dengan tantangan ruang di perkotaan. Ar. Teguh Arianto, Ketua IAI Jakarta, mengangkat isu paling relevan: krisis lahan dan rumah tumbuh di Jakarta. Dalam pameran nanti, IAI menampilkan hasil “Sayembara Titik”, yaitu kompetisi desain yang menantang arsitek untuk merancang rumah di lahan terbatas, bahkan di bawah 60 meter persegi.
“Rumah mungil tetap bisa sehat dan manusiawi,” ujar Teguh. “Kami bahkan melibatkan psikolog arsitektur dalam penjurian, karena meski lahannya sempit, kenyamanan psikologis penghuni tetap harus dijaga.”
Ia juga menyoroti aspek keamanan dan regulasi bangunan di daerah padat penduduk yang rawan kebakaran. “Renovasi boleh, tapi harus sesuai regulasi dan memerhatikan lingkungan sekitar,” tambahnya.
Program IAI di Renovation Expo Indonesia nanti tak sekadar pameran karya, tapi juga talkshow publik bertema “Rumah Tumbuh di Lahan Terbatas” dan “Regulasi Renovasi”. Di sana masyarakat bisa belajar langsung bagaimana membangun atau merenovasi rumah tanpa melanggar aturan, serta mengenal program baru IAI yang melahirkan Lembaga Bantuan Arsitektur (LBA), dengan misi membantu masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan desain rumah layak secara gratis.
Tata Ulang Desain Pasca-pandemi
Sementara itu, Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) memandang pameran ini sebagai momentum untuk menata ulang ekosistem desain pasca-pandemi. Menurut Agus Purwantoro, pengurus bidang pameran HDII Pusat, perilaku konsumen telah berubah drastis, dari sekadar browsing di Pinterest dan TikTok, kini masyarakat ingin menyentuh dan membandingkan langsung kualitas material di pameran.
“Kalau browsing, yang kita lihat cuma gambar dan kadang hasil AI, kadang manipulasi digital,” kata Agus. “Tapi di Renovation Expo, semuanya nyata. Dari real picture menjadi realistic insight. Di sinilah publik bisa melihat, menyentuh, dan berbicara langsung dengan desainer, arsitek, hingga produsen.”
Bagi Agus, Renovation Expo Indonesia 2025 bukan sekadar etalase produk, melainkan panggung kolaborasi profesi mulai dari desainer, kontraktor, pengusaha bahan bangunan, hingga mahasiswa desain interior.
Ia menilai, di tengah banjirnya tren digital, ruang temu fisik seperti Renovation Expo Indonesia ini menjadi “kolam ekosistem” yang langka tempat di mana ide, teknologi, dan manusia saling berinteraksi secara nyata.
Hadirnya Pengusaha Bahan Bangunan
Kehadiran Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPPBI) melengkapi kolaborasi itu. Gomas Harun, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia, menilai Renovation Expo Indonesia sebagai barometer penting bagi industri bahan bangunan nasional.
“Bagi kami, ini bukan hanya soal pameran, tapi validasi pasar. Di sini produsen bisa langsung mendengar masukan pengguna akhir, sekaligus menjalin kemitraan B2B untuk memperluas jaringan distribusi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Menariknya, di tengah berbagai pameran properti yang gencar menjual impian rumah baru, Renovation Expo justru memilih jalan berbeda, ia menawarkan realitas baru tentang bagaimana rumah yang sudah ada bisa menjadi lebih baik, lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.
“Pasca-pandemi, rumah bukan sekadar tempat tinggal. Ia jadi ruang kerja, tempat bermain, bahkan pusat kehidupan keluarga,” kata Royanto. “Maka tugas kita bukan membangun lebih banyak rumah, tapi memperbaiki yang sudah ada agar lebih bermakna.”
Dan mungkin di situlah makna sebenarnya dari Renovation Expo Indonesia 2025, yakni sebuah gerakan sunyi yang mengingatkan bahwa memperindah hidup tidak selalu berarti mulai dari nol. Kadang, inspirasi terbaik justru lahir dari apa yang sudah kita miliki.




