Jakarta, Venuemagz.com – Yiri Arts Jakarta kembali menghadirkan pameran seni yang digelar di Ranuza Building, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Pameran kali ini menampilkan Limbus Laboris sebuah karya dari Huang Po-Chih dan Widi Asari yang hadir pada tanggal 28 Maret hingga 26 April 2026.
Limbus Laboris mengkaji kerja sebagai kondisi yang tidak stabil dan terus berubah dalam kapitalisme kontemporer—terutama pada titik ketika kerja tidak lagi menjamin pertumbuhan, stabilitas, atau kemajuan. Karya kedua seniman berkembang melalui bahasa material dan simbolik tekstil, yang diposisikan sebagai infrastruktur kritis tempat sistem produksi, migrasi, dan tekanan ekologis berlangsung sekaligus dipertanyakan.
Setiap karya menyoroti dua kondisi kerja yang saling berkaitan. Sisi pertama menyoroti kerja beroperasi sebagai mesin produksi—mengorganisasi tubuh, waktu, dan imajinasi dalam sistem industri. Sisi lainnya kerja bertahan sebagai bentuk pengelolaan—bertugas menahan, mengatur, dan menunda keruntuhan material ketika sistem tersebut mulai gagal berfungsi.
Praktik Huang Po-Chih menelusuri keterkaitan historis antara produksi tekstil, industrialisasi, dan transformasi ekonomi di Asia Timur khususnya Taiwan. Berangkat dari pengalaman Ibunya sebagai pekerja garmen, Huang mengungkap bagaimana kerja tertanam dalam jaringan produksi transnasional yang membentuk disiplin tubuh, arus migrasi, dan imajinasi kolektif tentang kemajuan.
Seluruh karya Huang Po-Chih merekonstruksi situasi produksi sebagai kerangka kritis. Menempatkan tekstil bukan sebagai material pasif, tetapi sebagai pembawa jejak kebijakan negara, ideologi industri, dan pergeseran ekonomi global.
Sedangkan, karya Widi Asari muncul dari fase setelah intensitas produksi mereda. Praktiknya melepaskan tekstil dari peran konvensionalnya sebagai komoditas, dan memperlakukannya sebagai materi sisa—digantung, dilipat, dan ditampung.
Melalui pembacaan ulang mitos sebagai bentuk pengetahuan kerja, Widi mempertanyakan bagaimana material bertahan dalam kondisi krisis ekologis dan kelebihan produksi. Dalam konteks ini, kerja didefinisikan ulang sebagai tindakan minimal namun esensial: menjaga, menunda, dan merawat, agar material tidak segera menjadi usang atau limbah.
Alih-alih menyatukan kedua posisi ini dalam satu narasi tunggal, Limbus Laboris mempertahankan ketegangan produktif di antara keduanya. Huang mengungkap mekanisme ekstraksi dan kelelahan kerja, sedangkan Widi menunjukkan bagaimana kerja beradaptasi ketika mekanisme tersebut kehilangan koherensinya.
“Limbus” yang dihadirkan bukanlah metafora, melainkan sebuah struktur. Diartikan dengan sebuah ambang di mana kerja tidak lagi distabilkan oleh janji kemajuan, namun tetap menuntut keterlibatan.
Berada di antara produksi dan residu, intensifikasi dan suspensi, Limbus Laboris menawarkan perspektif kritis tentang bagaimana kerja dikonfigurasi ulang dalam konteks saat ini. Tekstil, dalam hal ini, menjadi sekaligus bukti dan penanda—yang merekam transformasi kerja dalam dimensi material, sosial, dan ekologis.





