Jakarta, Venuemagz.com – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama Negeri Elok menggelar acara LITERAIA di Museum Nasional Jakarta pada 11 hingga 14 Oktober 2026. Festival ini menjadi ruang kolaborasi bagi penulis, penerbit, komunitas literasi, dan pelaku industri kreatif.
Bukan sekadar festival buku biasa, LITERAIA 2026 hadir sebagai wadah akselerasi untuk mendorong lahirnya lebih banyak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya bersama membangun ekosistem literasi yang mampu menghubungkan karya sastra dengan peluang pengembangan ke berbagai medium kreatif.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan karya sastra memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi kreatif berbasis penceritaan (storynomics). Menurutnya, buku tidak berhenti sebagai media baca, tetapi dapat berkembang menjadi film, animasi, gim, pertunjukan, maupun berbagai produk kreatif lainnya yang memberikan nilai tambah ekonomi.

“Sastra adalah fondasi dari ekonomi kreatif berbasis penceritaan atau storynomics. Karena itu, hilirisasi dan komersialisasi kekayaan intelektual menjadi penting agar karya para penulis Indonesia terus berkembang, menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para kreatornya,” ujar Menteri Ekraf dalam siaran tertulisnya di Jakarta.
Instalasi Seni hingga Lokakarya
Mengangkat tema “Literasi Sumatera”, LITERAIA 2026 menyajikan rangkaian acara yang terkurasi dengan apik oleh para profesional. Rangkaian dimulai dari diskusi, lokakarya, dan instalasi seni literasi yang mengangkat potensi pengembangan karya tulis ke berbagai medium kreatif.

Bersama Negeri Elok, festival ini dirancang sebagai titik temu (meeting point) ideal antar-stakeholder. Mulai dari penulis, penerbit, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk membuka peluang kolaborasi, pengembangan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pasar bagi karya-karya sastra Indonesia.
Suasana pembukaan festival terasa makin spesial saat Menteri Ekraf tampil melakukan dramatic reading novel ikonik Laskar Pelangi. Momen tersebut dibawakan secara apik bersama jajaran penulis dan tokoh ternama seperti Ratih Kumala, Valerie Patkar, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin, serta perwakilan dari Negeri Elok. Aksi panggung ini menjadi simbol nyata bahwa kekuatan literasi mampu melampaui lembaran buku, menginspirasi lintas generasi, dan bertransformasi menjadi karya multimedium.
Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhkan instalasi seni artistik karya Dedy Sufriadi yang memanfaatkan tumpukan buku-buku sastra Sumatera. Ada juga program Membaca Bersama Anak-Anak Indonesia, hingga aksi sosial pengumpulan dan rekomendasi koleksi karya literasi untuk Perpustakaan Museum Nasional.
Angin Segar untuk Industri Penerbitan

Dibalik kemeriahan aktivasi fisiknya, LITERAIA 2026 juga membawa kabar baik bagi keberlanjutan ekosistem penerbitan nasional. KemenEkraf bersama Kementerian Keuangan dan lembaga terkait tengah mendorong perubahan kebijakan perpajakan royalti buku menjadi PPh Final sebesar 1,5 persen.
Kebijakan yang tengah memasuki tahap harmonisasi ini memiliki banyak manfaat bagi para pelaku industri perindustrian. Mulai dari kepastian perpajakan, meningkatkan kesejahteraan penulis, serta memperkuat keberlanjutan industri penerbitan nasional.
“Kami terus memperkuat ekosistem penerbitan melalui perlindungan hak cipta, komersialisasi kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar. Harapan kami, semakin banyak karya sastra Indonesia yang berkembang menjadi IP unggulan dan mampu menjangkau pasar nasional maupun global,” tutup Menteri Ekraf.




