Jakarta, Venuemagz.com — Mengawali musim Art Jakarta 2025, Ara Contemporary mempersembahkan dua pameran tunggal debut di dua galerinya. Pameran ini menampilkan karya seniman Thailand Alisa Chunchue dan Mar Kristoff.
Galeri utama menampilkan Wound, pameran tunggal pertama dari seniman asal Thailand, Alisa Chunchue. Serial Wound terdiri dari gambar meditasi yang metodis, merekam waktu yang dihabiskan seniman untuk setiap karyanya. Dimulai pada 2020 sebagai cara untuk mengatasi kesedihan, serial ini kemudian menjadi refleksi atas perjuangan hidupnya.
Chunchue menelusuri langkah-langkah jahitan teknik bedah menggunakan pensil, menciptakan pola tak berujung hingga memenuhi seluruh ruang gambar. Proses “melakukan” yang tiada henti ini menjadi gestur meditatif yang menenangkan, meskipun obsesinya untuk menutup luka dengan sempurna bisa terasa membebani.
“Sebuah luka bisa menyisakan bekas atau hilang, namun tidak dengan kenangan di balik luka tersebut,” tutur Alisa dalam media preview pada 26 September 2025.
Karya-karya yang tampak tak terlihat dari jauh ini membuat pengunjung mendekat dan melihat secara detail pada setiap karya Chunchue. “Ketika orang melihat dari jauh, hanya seperti lukisan polos berpola, namun ketika kalian melihat dari dekat, akan terlihat setiap goresan pensil yang membuat pola jahitan pada luka,” ujar Chunchue.
Alisa Chunchue menyelidiki kondisi fisik dan mental, mempertanyakan makna menjadi manusia dan apa yang mendorong kita untuk memahami eksistensi. Serial Wound sendiri terinspirasi dari luka otopsi pada kadaver manusia di Condon Anatomical Museum di Bangkok.
Interloper di Focus Gallery
Galeri Fokus menghadirkan Interloper, pameran tunggal pertama Mar Kristoff setelah dinobatkan sebagai UOB Artist of the Year.
Pameran tunggal Interloper menempatkan Kristoff dalam posisi yang ambigu, baik sebagai partisipan maupun orang luar, dengan judul yang menyiratkan “gangguan” atau sosok yang bergerak antar-ruang tanpa merasa sepenuhnya memiliki.
Dalam lukisannya, Kristoff menggunakan foto keluarga dan benda arsip keluarganya. Baginya, arsip adalah situs yang cair, rentan terhadap revisi, penghapusan, dan spekulasi.
Melalui gestur lukisan berupa pengaburan, pembingkaian ulang, dan pemindahan, Kristoff mengusik makna yang diwariskan dan mendorong memori ke lintasan alternatif. Ia mengangkat pertanyaan tak terpecahkan, seperti “Siapa yang memiliki sebuah citra? Siapa yang berhak menarasikannya? Kebenaran siapa yang dibuat terlihat?”.
“Setiap arsip memiliki memori dan pengalaman pribadi, misalnya saja kaset yang menyimpan kenangan masa kecil dan sepatu anak-anak yang memiliki makna khusus bagi saya dan almarhum ayah,” ujarnya.
Kedua pameran tersebut akan berlangsung dari 27 September hingga 2 November 2025. Para pengunjung tidak dikenakan tiket masuk untuk menikmati karya seni tersebut. Untuk jam buka Ara Contemporary, dari pukul 11:00 pagi hingga 19:00 untuk Selasa-Sabtu, lalu dari pukul 12:00-18:00 khusus di hari Minggu.





