Ara Contemporary menyelenggarakan pameran tunggal seniman Wedhar Riyadi, bertajuk “In Between Stillness“, dari 16 Agustus hingga 14 September 2025. Pameran ini menampilkan seri terbaru Riyadi, Tabletop Diaries, yang merupakan hasil pengamatan mendalam sang seniman selama masa isolasi pandemi.
​Wedhar Riyadi adalah salah satu seniman Indonesia yang karyanya banyak dipengaruhi oleh masa transisi, termasuk jatuhnya rezim Orde Baru dan masuknya budaya pop. Riyadi telah berpartisipasi dalam berbagai pameran, termasuk ARTJOG dan Asia Pacific Triennale of Contemporary Art. Karyanya juga menjadi bagian dari koleksi beberapa institusi seni ternama, seperti Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, National Gallery of Victoria, dan Tumurun Museum.
​Dalam karya-karya terbarunya, Riyadi melukis replika benda-benda domestik yang terbuat dari tanah liat. Meskipun mengadopsi tradisi lukisan still life yang sering kali mengungkap kefanaan eksistensi manusia, Riyadi memberikan sentuhan unik pada karyanya. Benda-benda tanah liat yang ia lukis direduksi menjadi monokrom, tanpa label atau karakteristik tertentu, yang memungkinkan maknanya muncul melalui interpretasi penonton. Hal ini sejalan dengan prinsip spiritual bahwa makna sejati hadir dalam keheningan dan kekosongan.
“Saya ingin setiap pengunjung yang datang untuk merenungkan diri dan merasakan ketenangan saat melihat karya saya. Karena itulah saya menggunakan warna yang hangat,” tutur Riyadi.
​Tanah liat, atau tanah, memiliki simbolisme kuat sebagai awal dan akhir kehidupan manusia. Dalam karya Riyadi, sentuhan manusia terasa jelas pada permukaan tanah liat yang dicubit, serta melalui jejak sentuhan, keausan, noda, goresan, dan patina yang menjadi lapisan sejarah dari objek-objek tersebut.
​
“In Between Stillness” juga menyoroti ketegangan antara hal-hal yang alami dan buatan. Riyadi menggunakan latar belakang dan pencahayaan yang sangat cerah, menciptakan kesan artifisial yang kontras dengan objek-objek tanah liat. Ini mengajak para penikmat seni untuk merenungkan apakah kita cenderung mengutamakan yang alami dibandingkan dengan yang buatan, atau sebaliknya.
“Pencahayaan merupakan elemen yang tak terpisahkan, di mana cahaya berfungsi sebagai karakter utama dalam karya yang membawa makna lebih dalam pada konteks karya seni,” tutupnya.




