Jakarta, Venuemagz.com -Membuka kalender seni tahun ini, Ara Contemporary mempersembahkan sebuah pameran tunggal yang menggugah emosi dan intelektualitas bertajuk “CLOSED”. Menampilkan karya terbaru dari seniman sekaligus printmaker ternama, Irfan Hendrian, eksibisi ini menjadi ruang kontemplasi atas materialitas kertas dan sejarah sosial yang kompleks terkait etnis Tionghoa zaman dahulu.
Eksplorasi Medium: Lebih dari Sekadar Kertas
Bagi Irfan Hendrian, kertas bukan sekadar medium pasif. Dalam pameran ini, ia memperlakukan kertas sebagai “pigmen” sekaligus “kanvas”. Melalui teknik risografi yang presisi, ratusan lembar foto dicetak, diiris menggunakan mesin, lalu disusun kembali hingga membentuk struktur berlapis yang artistik.
Yang tersisa di mata penonton hanyalah jejak tinta di tepi kertas yang tampak seperti artefak sejarah yang halus dan rapuh. Proses ini menegaskan dedikasi Irfan dalam mengeksplorasi unit paling dasar dari karya seni: selembar kertas.
“Kita sadar bahwa kini sejarah mulai pudar dan ‘diputihkan’. Dalam kondisi ini, hanya arsip-arsip yang tercetaklah yang memiliki kekuatan untuk tetap bertahan,” tutur Irfan Hendrian dalam sesi Media Preview CLOSED, 30 Januari 2026.
“Architecture of Fear”: Trauma dan Keamanan Etnis Tionghoa
Di balik keindahan bentuknya, “CLOSED” membawa pesan sosial yang mendalam. Irfan menghadirkan bentuk-bentuk repetitif seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, serta gembok dan kunci.
Elemen-elemen ini ia sebut sebagai “Architecture of Fear” (Arsitektur Ketakutan). Melalui simbol-simbol tersebut, Irfan membedah memori kolektif dan kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia di masa lalu. Pameran ini mengajak kita melihat bagaimana rumah-rumah yang tertutup rapat bukan sekadar pilihan arsitektur, melainkan bentuk perlindungan diri dari bayang-bayang rasisme dan trauma sejarah.
“Bagi komunitas Tionghoa kala itu, sekadar menutup rumah dengan pagar seng ternyata tak pernah cukup. Layaknya kertas yang rapuh, rasa aman perlu dibangun lewat lapisan demi lapisan perlindungan agar mereka benar-benar merasa terlindungi,” jelas Irfan Hendrian.
Dua Ruang Dialog
Eksibisi ini terbagi dalam dua bagian utama, yakni Main Gallery yang menampilkan badan karya terbaru berjudul Chinatown Window Sample dan Focus Gallery yang menghadirkan presentasi Open Studio yang memperlihatkan proses riset dan kerja artistik Irfan yang berkelanjutan.
Pengunjung tak hanya menikmati hasil akhir, tapi diajak juga untuk menelusuri aspek teknis di Focus Gallery. Di sana, sebuah presentasi Open Studio memungkinkan pengunjung untuk melihat secara langsung material serta proses riset mendalam yang dilakukan Irfan dalam melahirkan karya-karyanya.
Pameran ini berlangsung dari 31 Januari hingga 17 Maret 2026 di Ara Contemporary.




