BerandaEventNarasi Memori dan Arsitektur Ketakutan Irfan Hendrian di Ara Contemporary

Narasi Memori dan Arsitektur Ketakutan Irfan Hendrian di Ara Contemporary

Published on

spot_img

Jakarta, Venuemagz.com -Membuka kalender seni tahun ini, Ara Contemporary mempersembahkan sebuah pameran tunggal yang menggugah emosi dan intelektualitas bertajuk “CLOSED”. Menampilkan karya terbaru dari seniman sekaligus printmaker ternama, Irfan Hendrian, eksibisi ini menjadi ruang kontemplasi atas materialitas kertas dan sejarah sosial yang kompleks terkait etnis Tionghoa zaman dahulu.

Eksplorasi Medium: Lebih dari Sekadar Kertas

Bagi Irfan Hendrian, kertas bukan sekadar medium pasif. Dalam pameran ini, ia memperlakukan kertas sebagai “pigmen” sekaligus “kanvas”. Melalui teknik risografi yang presisi, ratusan lembar foto dicetak, diiris menggunakan mesin, lalu disusun kembali hingga membentuk struktur berlapis yang artistik.

BACA JUGA:  Pameran Perdana di ara contemporary Hadirkan 17 Karya Seniman Asia Tenggara

Yang tersisa di mata penonton hanyalah jejak tinta di tepi kertas yang tampak seperti artefak sejarah yang halus dan rapuh. Proses ini menegaskan dedikasi Irfan dalam mengeksplorasi unit paling dasar dari karya seni: selembar kertas.

“Kita sadar bahwa kini sejarah mulai pudar dan ‘diputihkan’. Dalam kondisi ini, hanya arsip-arsip yang tercetaklah yang memiliki kekuatan untuk tetap bertahan,” tutur Irfan Hendrian dalam sesi Media Preview CLOSED, 30 Januari 2026.

“Architecture of Fear”: Trauma dan Keamanan Etnis Tionghoa

Di balik keindahan bentuknya, “CLOSED” membawa pesan sosial yang mendalam. Irfan menghadirkan bentuk-bentuk repetitif seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, serta gembok dan kunci.

BACA JUGA:  Pameran Seni Luka dan Penyelundup di Ara Contemporary

Elemen-elemen ini ia sebut sebagai “Architecture of Fear” (Arsitektur Ketakutan). Melalui simbol-simbol tersebut, Irfan membedah memori kolektif dan kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia di masa lalu. Pameran ini mengajak kita melihat bagaimana rumah-rumah yang tertutup rapat bukan sekadar pilihan arsitektur, melainkan bentuk perlindungan diri dari bayang-bayang rasisme dan trauma sejarah.

“Bagi komunitas Tionghoa kala itu, sekadar menutup rumah dengan pagar seng ternyata tak pernah cukup. Layaknya kertas yang rapuh, rasa aman perlu dibangun lewat lapisan demi lapisan perlindungan agar mereka benar-benar merasa terlindungi,” jelas Irfan Hendrian.

BACA JUGA:  ASIK Fashion Connect 2025 Hadirkan Mini Pameran hingga Business Matching

Dua Ruang Dialog

Eksibisi ini terbagi dalam dua bagian utama, yakni Main Gallery yang menampilkan badan karya terbaru berjudul Chinatown Window Sample dan Focus Gallery yang menghadirkan presentasi Open Studio yang memperlihatkan proses riset dan kerja artistik Irfan yang berkelanjutan.

Pengunjung tak hanya menikmati hasil akhir, tapi diajak juga untuk menelusuri aspek teknis di Focus Gallery. Di sana, sebuah presentasi Open Studio memungkinkan pengunjung untuk melihat secara langsung material serta proses riset mendalam yang dilakukan Irfan dalam melahirkan karya-karyanya.

Pameran ini berlangsung dari 31 Januari hingga 17 Maret 2026 di Ara Contemporary.

Hotel KHAS Parapat Hadirkan Kenyamanan Menginap yang Autentik di Danau Toba

Parapat, Venuemagz.com — Terletak di tepi Danau Toba yang memukau, KHAS Parapat menghadirkan pengalaman...

MoreFood Expo Indonesia 2026 Jembatani Bisnis F&B Lokal ke Pasar Internasional

Jakarta, Venuemagz.com -- Pameran industri Food & Beverage (F&B) Indonesia kembali dimeriahkan dengan kehadiran...

ara contemporary Hadir Perdana di Art Jakarta 2025, Tampilkan Karya Fenomenal Ipeh Nur

Jakarta, Venuemagz.com - Galeri seni ara contemporary semakin mengepakan sayapnya dengan berpartisipasi ke dalam...

Pameran Seni Luka dan Penyelundup di Ara Contemporary

Jakarta, Venuemagz.com — Mengawali musim Art Jakarta 2025, Ara Contemporary mempersembahkan dua pameran tunggal...

​Ara Contemporary Tampilkan Pameran Tunggal Wedhar Riyadi

Ara Contemporary menyelenggarakan pameran tunggal seniman Wedhar Riyadi, bertajuk "In Between Stillness", dari 16...