Seniman kontemporer Bali, Sakde Oka, kembali menyapa publik melalui pameran tunggal terbarunya yang digelar di ARTOTEL Thamrin Jakarta. Menghadirkan rangkaian karya yang merefleksikan dinamika identitas, budaya, dan ekspresi visual khasnya, pameran ini menjadi ruang dialog antara tradisi dan semangat urban yang lekat dengan karakter ARTOTEL.
Melalui eksplorasi warna, tekstur, dan narasi personal, Sakde Oka mengajak pengunjung menyelami perjalanan artistiknya sekaligus merayakan energi kreatif yang terus berkembang di tengah lanskap seni rupa kontemporer Indonesia.
Pameran tunggal dari Sakde Oka yang berjudul Voyage of Becoming: A Journey Across Spaces merupakan kelanjutan dari pameran sebelumnya bertajuk Voyage of Becoming yang pertama kali dipresentasikan di ARTOTEL Sanur, Bali.
Karya kali ini di ARTOTEL Thamrin dari Sakde Oka terinspirasi dari drama Korea atau China karena setelah melihat baju yang dipakai memakai tenun atau sulam, ia belajar bahwa awalnya teknik sulam yang hanya mendekorasi kain kemudian dalam seni rupa kontemporer banyak yang memakai media ini sebagai karya mereka.
Dari pengamatannya terhadap kostum-kostum tersebut, ia menyadari bahwa teknik sulam pada awalnya hadir sebagai elemen dekoratif untuk memperindah kain dan menegaskan identitas budaya. Namun, dalam perkembangan seni rupa kontemporer, medium tekstil, termasuk sulam, tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah bertransformasi menjadi bahasa artistik yang berdiri sendiri.
“Semakin lama saya mempelajari teknik sulam yang awalnya hanya dipakai untuk mendekorasi kain kemudian di dalam seni rupa kontemporer itu banyak yang memakai medium ini untuk sarana menyampaikan butik atau perusahaan pribadi mereka melalui kain dan benang,” ujar Sakde.
Berangkat dari pengalaman itu, Sakde Oka mengeksplorasi teknik sulam sebagai medium ekspresi, mengolah benang, tekstur, dan motif menjadi narasi visual yang merefleksikan pertemuan dan pendekatan seni kontemporer yang lebih eksperimental.
Dukungan Studio Nutur
Pameran tunggal Sakde Oka di ARTOTEL Thamrin Jakarta semakin diperkaya melalui kolaborasinya bersama Studio Nutur. Kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan karya sebagai objek visual semata, tetapi juga membangun pengalaman ruang yang lebih naratif dan imersif. Pameran ini dirancang sebagai perjalanan visual yang menuntun pengunjung memahami gagasan di balik setiap detail sulam, tekstur, dan simbol yang dihadirkan Sakde Oka.
Dalam proyek kolaboratif ini, Studio Nutur berperan menerjemahkan eksplorasi medium tekstil dan sulam yang diangkat Sakde Oka ke dalam tata ruang dan pendekatan presentasi yang lebih kontekstual melalui pameran tunggal.
Sejauh ini, Studio Nutur telah menggandeng sejumlah emerging artist, mayoritas berbasis di Bali, meski dalam perkembangannya juga merangkul seniman dari Jakarta yang aktif berkarya di Bali. Ekosistem kreatif yang terbentuk turut dipengaruhi oleh kolaboratif dan pembelajaran dari ARTOTEL Sanur Bali, yang konsisten menyediakan ruang apresiasi bagi seniman Bali dan menjadi salah satu mitra penting dalam memperluas akses pameran.
Selain membuka peluang kolaborasi bagi para emerging artist, Studio Nutur juga memiliki beberapa lokasi pameran di Bali dan menjembatani kesempatan untuk berekspansi ke Jakarta. Dengan jaringan dan pendekatan kuratorial yang berkembang, Studio Nutur berupaya menghadirkan ruang yang suportif sekaligus strategis bagi seniman muda untuk tumbuh dan membangun posisi mereka di ranah seni rupa kontemporer.
Melalui kolaborasi ini, pameran di ARTOTEL Thamrin tidak sekadar menjadi ajang apresiasi karya, melainkan ruang refleksi tentang bagaimana teknik yang dulunya bersifat ornamental kini berevolusi menjadi medium ekspresi personal dan konseptual. Sinergi antara visi artistik Sakde Oka dan pendekatan kuratorial Studio Nutur menghadirkan pengalaman yang lebih utuh, mengajak publik untuk melihat sulam bukan hanya sebagai hiasan, tetapi sebagai bahasa visual yang mampu menyampaikan identitas, memori, dan dinamika budaya masa kini.




