BerandaFeatureMemaksimalkan Konser Musik Global Sebagai Penggerak Pariwisata dan MICE

Memaksimalkan Konser Musik Global Sebagai Penggerak Pariwisata dan MICE

Published on

spot_img

Jakarta, Venuemagz.com — Konser musik bukan sekadar pesta, melainkan mesin penggerak pariwisata dan MICE yang menghasilkan efek berlapis ke hotel, transportasi, ritel, hingga layanan pendukung acara. Studi terbaru dari LPEM-FEB UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia) yang berjudul “Competing for Global Entertainment Events: The Economic Impact of Coldplay and Taylor Swift Concerts in Indonesia and Singapore” menunjukkan bahwa Indonesia masih kalah tajam dari Singapura dalam mengubah kerumunan penonton menjadi nilai ekonomi per orang.

Perbandingan itu muncul dalam working paper LPEM-FEB UI nomor 091 terbit Maret 2026, yang mengkaji dampak ekonomi konser Coldplay di Indonesia dan Singapura, serta konser Taylor Swift di Singapura, dengan pendekatan input-output. Temuannya tegas: Indonesia unggul di skala penonton, tetapi Singapura lebih efisien dalam memonetisasi setiap kursi yang terisi lewat integrasi yang kuat antara event, pariwisata, dan mobilitas internasional.

Konser Coldplay di Gelora Bung Karno Jakarta pada November 2023 dihadiri sekitar 78.500 orang. Dari konser tersebut diperkirakan menghasilkan stimulus ekonomi langsung sekitar US$30,10 juta dan total output ekonomi US$53,34 juta, dengan nilai tambah US$26,94 juta, pendapatan rumah tangga US$9,50 juta, serta membuka 4.498 pekerjaan. Angka ini besar, tetapi dampaknya masih didominasi penjualan tiket dan belanja penonton domestik, bukan belanja wisatawan luar daerah atau mancanegara.

BACA JUGA:  Ketika Bumi Sriwijaya Bertumpu pada MICE

Kenapa Singapura lebih Efektif

Di Singapura, konser Coldplay yang digelar enam hari memunculkan stimulus langsung sekitar US$189,17 juta dan output ekonomi US$308,99 juta. Yang lebih penting, output per penonton mencapai sekitar US$1.030, jauh di atas Jakarta yang sekitar US$680 per orang, karena porsi wisatawan luar negeri, lama tinggal yang lebih panjang, dan belanja transportasi serta akomodasi jauh lebih besar.

Taylor Swift bahkan mempertegas model Singapura sebagai destinasi event kelas premium. Enam konser “Eras Tour” di sana menghasilkan stimulus langsung sekitar US$267,15 juta, output ekonomi US$434,73 juta, nilai tambah US$235,73 juta, dan pendapatan rumah tangga US$186,54 juta, dengan output per penonton sekitar US$1.449 pada hitungan satu hari.

Bagi sektor pariwisata, ini menunjukkan bahwa sebuah konser besar hanya akan berdampak maksimal jika dikemas sebagai paket perjalanan, bukan acara berdiri sendiri. Di Singapura, belanja terbesar justru datang dari tiket pesawat internasional, hotel, makanan, dan transportasi lokal sehingga sebuah event berubah menjadi tourism shock yang menyebar ke banyak subsektor.

Pelajaran untuk Indonesia

Studi itu menunjukkan Indonesia sebenarnya punya modal pasar yang besar. Konser Coldplay di Jakarta memperlihatkan kekuatan skala, karena satu acara sehari saja bisa menghasilkan output ekonomi yang nyaris setara dengan satu hari Coldplay di Singapura, yakni sekitar US$53,34 juta di Jakarta versus US$51,50 juta di Singapura dalam hitungan satu hari.

BACA JUGA:  Bebas Visa Kunjungan Bagi Permanent Resident Singapura ke Kepulauan Riau

Masalahnya, Indonesia belum optimal mengubah tingginya minat menjadi nilai tambah yang lebih dalam. Peneliti menyoroti hambatan seperti sistem tiket yang terfragmentasi, scalping, biaya perizinan, dan keterbatasan infrastruktur yang membuat efek ekonomi bocor sebelum masuk ke ekosistem lokal.

Bagi sektor MICE, ini berarti peluang Indonesia bukan hanya menjadi tuan rumah konser, tetapi juga pusat event berdaya saing regional. Namun, untuk mencapai itu, sebuah event harus didukung dengan transportasi yang mulus, hotel yang siap, regulasi yang pasti, dan promosi destinasi yang menyatu dengan kalender acara.

Dampak ke Hotel dan Transportasi

Berdasarkan data dalam penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sektor akomodasi, transportasi udara, transportasi lokal, dan layanan makanan menjadi pemenang utama ketika event berskala besar dibarengi penonton luar daerah dan internasional. Pada kasus Taylor Swift di Singapura, transportasi udara menyumbang lebih dari US$103 juta dalam stimulus langsung, sementara akomodasi mencapai hampir US$43 juta.

Artinya, semakin banyak penonton datang dari luar kota atau luar negeri, makin besar efek gandanya ke sektor pariwisata. Ini mengubah konser dari sekadar konsumsi budaya menjadi alat promosi destinasi yang menguntungkan hotel, maskapai, restoran, pusat belanja, hingga pemerintah.

BACA JUGA:  Bali, Destinasi Safe Haven di Tengah Gejolak Konflik Timur Tengah?

Di Jakarta, dampak turunan memang ada, termasuk pada akomodasi dan transportasi antar-wilayah, tetapi masih terbatas karena sebagian besar penonton adalah pasar domestik. Akibatnya, konser besar lebih banyak menghasilkan lonjakan sesaat daripada peningkatan belanja wisatawan yang berulang dan terintegrasi.

Arah Kebijakan

Penelitian ini memberi sinyal keras bahwa Indonesia perlu beralih dari pendekatan “datang, tampil, selesai” ke pendekatan ekosistem event. Pemerintah, promotor, maskapai, hotel, dan pelaku ekonomi lokal perlu disambungkan dalam satu strategi agar konser internasional menghasilkan lama tinggal lebih panjang dan pengeluaran wisatawan lebih tinggi.

Bagi pemerintah daerah dan pusat, tugasnya bukan sekadar mengurus izin panggung dan pengamanan massa. Yang lebih penting ialah memastikan event masuk ke agenda pariwisata, memudahkan mobilitas, memperkuat akses internasional, dan menyiapkan kota agar penonton tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk membelanjakan uangnya.

Dengan kata lain, Indonesia belum kekurangan penonton. Yang masih tertinggal adalah kemampuan mengubah antusiasme itu menjadi pendapatan, pekerjaan, dan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi lokal.

spot_img

Ascott Jakarta, Tangerang, dan Bekasi Rayakan Global Accessibility Awareness Day dengan Teman Berkebutuhan Khusus

Jakarta, Venuemagz.com - Properti The Ascott Limited di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi mengumumkan inisiatif...

ArtMoments Jakarta 2026: Saat Karya Seni Menjadi Ruang Pertukaran Gagasan dan Emosi

Jakarta, Venuemagz.com - Kabar baik untuk para pecinta seni di Indonesia. ArtMoments Jakarta akan...

Samara Lombok Menjadi Destination by Hyatt Pertama di Asia Tenggara

Lombok, Venuemagz.com -- Samara Lombok baru saja mengamankan investasi penting dari Westgrove. Dengan demikian,...

FLOII Expo 2026 Resmi Diluncurkan, Hadirkan Program yang Lebih Luas dan Kolaboratif

Jakarta, Venuemagz.com - Dyandra Event Solutions resmi meluncurkan Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026....

Pertunjukan Kembang Api Bertema Disney Cruise Line Meriahkan Marina Bay

Singapura, Venuemagz.com – Area Marina Bay akan berubah menjadi destinasi tepi laut paling memukau...

Singapura Targetkan Pertumbuhan Berkualitas Hingga 2040

Filipina, Venuemagz.com -Singapura menyambut 16,9 juta wisatawan internasional sepanjang tahun 2025, atau naik 2,3...

Kapal Pesiar Disney Adventure Siap Berlayar dari Singapura pada Maret 2026

Singapura, Venuemagz.com -- Peluncuran perdana kapal pesiar Disney Adventure dari Singapura resmi dijadwalkan pada...