Revenue Park 5 Hotel Cilandak Turun 80 Persen Akibat Corona

Thursday, 19 March 20 Bonita Ningsih
Park 5 Hotel Cilandak

Mewabahnya virus corona atau COVID-19 tengah menjadi perhatian dunia, tak terkecuali Indonesia. Sektor pariwisata pun mulai terganggu, sama halnya seperti industri perhotelan di Indonesia. Salah satu hotel yang merasakan dampak COVID-19 ialah Park 5 Hotel Cilandak.

Berada di wilayah dekat perkantoran Jakarta Selatan, bisnis Park 5 Hotel mulai terganggu akibat menyebarnya virus ini. Apalagi, pemerintah pusat dan daerah tengah memberlakukan sistem Work From Home (WFH) sehingga banyak perusahaan yang meminta karyawannya untuk bekerja dari rumah.

(Baca juga: Park 5 Hotel Cilandak Tidak Terapkan Work From Home)

Dampaknya, sektor MICE yang menjadi ujung tombak pemasukan bisnis hotel saat ini mengalami penurunan sangat drastis. Oka Maruka, General Manager Park 5 Hotel, menjelaskan, hotelnya mengalami penurunan sekitar 80 persen dari industri MICE.

“MICE sangat terjun bebas karena sudah sedikit sekali penggunaan ruang meeting dan ballroom di sini. Apalagi, dengan adanya aturan WFH,” ujar Oka.

Bahkan, menurut Oka, kondisi seperti ini juga terjadi di berbagai hotel lainnya yang terkena dampak COVID-19. Jika dihitung secara keseluruhan, pada bulan Maret 2020 Park 5 Hotel Cilandak sudah kehilangan revenue sekitar Rp500 juta.

“Ini akibat dari banyaknya acara yang di-cancel atau di-postpone. Jadi, kalau dihitung kerugian kami bisa mencapai segitu,” katanya lagi.

Kendati mengalami penurunan, Oka mengatakan, bisnis lainnya masih dapat berjalan. Di hari-hari tertentu seperti akhir pekan, hotel ini masih memiliki tingkat okupansi yang baik, yakni di angka 76,66 persen. Menurutnya, permintaan tamu untuk menginap di akhir pekan masih tinggi sehingga dapat menutupi kerugian yang didapat dari industri MICE.

“Kita ini sudah mengerti karakter tamu hotel, jadi memang mereka datang di hari-hari tertentu seperti akhir pekan ini. Jadi, memang luckily, Park 5 ini masih bisa achieved 100 persen di weekend,” ungkap Oka.

Keberadaan tamu yang mengisi hunian di hotel ini berasal dari individu atau melalui Online Travel Agent (OTA). Ini menjadi sasaran terbarunya melihat industri MICE saat ini sedang lesu.

“Kegiatan pemerintah atau korporat juga sudah banyak yang dikurangi, jadi sasaran kita beralih ke mereka saat ini,” dia menambahkan.