Sektor Hotel dan Restoran Rasakan Dampak Covid-19 Hingga 6 Bulan Mendatang

Tuesday, 24 March 20 Bonita Ningsih
Aston Priority Simatupang

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) merilis data mengenai dampak wabah COVID-19 terhadap industri hotel dan restoran. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, PHRI menyebutkan dampak virus ini untuk kinerja pasar hotel dan restoran akan berlangsung selama 4-6 bulan.

“Angka tersebut lebih buruk jika dibandingkan dengan dampak kerugian saat wabah penyakit serupa, seperti SARS dan H5N1,” ungkap Hariyadi B. Sukamdani, Ketua Umum PHRI.

Wabah COVID-19 juga membuat kinerja hotel di semester pertama 2020 akan lebih buruk jika dibandingkan di tahun 2019. PHRI mencatat akan ada penurunan okupansi hotel di semester pertama 2020 sebesar 35-50 persen. Kemudian, Average Room Rate akan turun sebanyak 10-25 persen, dan menurunkan total revenue hotel di kisaran 25-50 persen.

Turunnya tingkat okupansi hotel membuat sektor hotel mengalami kerugian dan kesulitan mengatur cash flow. Setiap harinya kondisi cash flow sektor hotel semakin menyusut sehingga kemampuan untuk membayar kewajiban kepada perbankan, pajak, iuran BPJS Ketenagakerjaan, iuran BPJS Kesehatan, dan biaya operasional menjadi melemah.

Dengan kondisi tersebut, seluruh manajemen hotel di Indonesia membuat sebuah kebijakan terburuk untuk karyawannya. Beberapa di antaranya ialah mengurangi biaya tenaga kerja dengan cara merumahkan sebagian karyawan, mengurangi jam kerja, menghentikan pekerja harian, hingga pembayaran THR yang tidak utuh.

Sementara itu, untuk sektor restoran, PHRI mencatat pada bulan Maret 2020 terjadi penurunan omset penjualan sebesar 25-50 persen. Padahal, di saat bersamaan telah terjadi kenaikan bahan baku seperti bawang bombay, bawang putih, serta gula. Akibatnya, stok bahan baku restoran semakin hari selalu menyusut akibat situasi seperti ini.

“Sama seperti sektor hotel, restoran juga mengalami kesulitan dalam cashflow,” Hariyadi menambahkan.

Data-data yang dikeluarkan PHRI ini berasal dari hasil survei yang dilakukannya bersama Horwath HTL. Survei ini dilakukan terhadap 676 hotel dan restoran yang tersebar di 28 provinsi dan kota di Indonesia. Dengan penjabaran, sektor hotel yang mengisi survei sebanyak 95 persen, sedangkan 5 persen dari sektor restoran.

“Daerah terbanyak yang mengikuti survei ini kebanyakan berasal dari Jawa dengan presentasi 54 persen. Kemudian disusul Bali, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Indonesia Timur,” ungkapnya.

Untuk hotel, responden terbesar berasal dari hotel bintang 4 yang memberikan 45 persen tanggapannya tentang isi survei. Kemudian disusul hotel bintang 3, hotel bintang 2, dan hotel bintang 5.

Sedangkan untuk restoran, responden terbesar berasal dari restoran casual dining dengan tanggapan sebesar 36 persen. Disusul fine dining dan kafe/bistro sebesar 25 persen, restoran cepat saji sebanyak 11 persen, serta pubs & bar sebesar 3 persen.