Aplikasi Nilai-nilai Pancasila ke Ranah Digital

Friday, 05 November 21 Venue

Di era perkembangan teknologi saat ini, pemahaman nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika masih rendah. Dampak rendahnya pemahaman itu, kata Oqke Prawira, Dosen Prodi Perhotelan Universitas Multimedia Nusantara, menyebabkan tidak mampunyai pemahaman batasan antara kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah kepada perpecahan di ruang digital.

“Dengan kurangnya pemahaman nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yakni menjadi tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital,” kata dia dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (03/11/2021). Selain itu, lanjut dia, juga tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi.

Menurut Oqke, ada tiga aspek penting untuk membangun budaya digital di masyarakat. Pertama, bagaimana agar masyarakat berpartisipasi memberikan kontribusi untuk tujuan bersama. Kedua, bagaimana mengubah budaya lama menjadi budaya baru yang lebih bermanaat. Terakhir, memanfaatkan hal-hal yang sudah ada untuk membentuk hal baru.

BACA JUGA:   Dampak Negatif Era Digital Pada Masyarakat

Nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, kata dia, juga mutlak dimiliki masyarakat dalam berinteraksi di dunia digital. Oqke menuturkan, nilai Pancasila di ruang digital di sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa berupa cinta kasih, menjaga toleransi dan saling menghormati perbedaan kepercayaan di ruang digital.

Kemudian sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yakni setara atau memperlakukan orang lain dengan adil dan manusiawi di ruang digital. Lalu sila ketiga, Persatuan Indonesia, yakni harmoni atau mengutamakan kepentingan Indonesia di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan yakni demokratis atau memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bebas berekspresi dan berpendapat di media sosial. Terakhir, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yakni gotong royong atau bersama membangun ruang digital yang aman dan etis bagi setiap pengguna.

BACA JUGA:   Era Internet Usik Usaha ‘Petahana’

Dengan memiliki kultur digital, kata Oqke, masyarakat mempunyai kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

“Kultur digital merupakan prasyarat dalam melakukan transformasi digital, karena penerapan budaya digital lebih kepada mengubah pola pikir agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital,” ujar dia.

Oqke mengatakan, aplikasi nilai-nilai Pancasila ke ranah digital yakni riwayat atau jejak digital yang bersih dari konten-konten negatif. Selain itu, ketika mendapatkan suatu informasi, terlebih dahulu disaring sebelum membagikannya ke pengguna digital lain. “Tidak rasis, bullying, dan berhati-hati dalam berkomentar. Juga, tidak hoaks,” ujarnya.

Kemudian, memanfaatkan media sosial dengan aplikasi atau platform digital untuk kebermanfaatkan seperti mempererat silaturahmi, menjaga perasaan, dan mempermudah jarak. “Berikutnya, dalam memberikan informasi apa pun di dunia digital harus bersikap netral,” ujar Oqke.

BACA JUGA:   Milenial Monopoli Pasar Belanja Online

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).