Etika Mendalami Agama di Dunia Maya

Thursday, 30 September 21 Venue
Desa Wisata Selasari

Tren belajar agama di dunia maya tidak dilarang, asalkan mempertimbangkan beberapa aspek seperti guru, sumber ilmu, dan beretika. Hal itu dikatakan Ahmadi Andianto, ASN SMKN 1 Tapen Bondowoso, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (29/9/2021).

Menurutnya, hal itu dilakukan agar tidak memunculkan paham yang mengarah ke radikalisme. “Etika orang yang belajar ilmu itu harus menghormati gurunya sekalipun berbeda pendapat. Meski belajar di dunia maya pun perlakuannya harus sama.”

Etika belajar di internet, kata dia, harus menghindari konflik kepentingan. “Banyak di antara kita, karena munculnya permasalahan, itu biasanya disertai perbedaan. Tapi bagi kita semua, kita harus menghindari konflik kepentingan,” kata Ahmadi.

BACA JUGA:   Pentingnya Perlindungan Data Pribadi di Internet

Dia juga meminta masyarakat menghindari fanatisme berlebih, karena media sosial merupakan sarana berekspresi. “Sayang seringkali orang kebablasan dalam menyuarakan pikirannya.”

Dia mencontohkan, jika bisa mendudukkan dengan benar, dan juga literasinya benar, maka apa-apa yang disampaikan, apa-apa yang diterima masyarakatpun juga tidak membingungkan dengan datangnya hadist-hadist baru yang seolah-olah menggunakan Bahasa Arab, kemudian dijadikan seolah-olah itu yang disampaikan Rasulullah.

“Kita tidak boleh hanya menelusur atau mencari pendapat yang memang membenarkan pada diri kita. Sehingga menjadikan justifikasi kebenaran terhadap apa yang kita lakukan,” ujar Ahmadi.

Menurut dia, tidak ada salahnya belajar agama di media sosial untuk menambah referensi ilmu pengetahuan. “Dunia maya sudah banyak kita jumpai, terutama di dunia digital. Kita mudah memperoleh informasi melalui apapun.”

BACA JUGA:   Manfaat Membuat Konten di Dunia Maya

Namun, Ahmadi menyarankan, bagi penuntut ilmu terutama yang baru hijrah agar mencari seorang guru. Sebab ridho seorang guru itulah yang membuat ilmu itu lebih berkah.

“Maka untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan seseorang, tidak harus datang ke rumah kiyai, ke mushola, masjid. Dunia maya dengan mudahnya kita memperoleh ilmu agama. Tapi apakah ilmu agama semuanya itu benar atau tidak, itu perlu dipahami. Dalam upaya memahami di dunia digital ini. Guru agama akan menjadi sumber utama memperoleh ilmu agama. Suara hati guru itu penting, maka guru harus menjadi sumber utamanya,” ujar Ahmadi.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Mempertanggungjawabkan Kebebasan di Ruang Digital

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).