Migas Hilang, Pariwisata Terbilang

Monday, 12 February 18   40 Views   0 Comments   Harry Purnama
Istana Siak Riau
Istana Siak, salah satu obyek wisata yang berada di Provinsi Riau. Foto: Venuemagz/Harry

Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah penyumbang minyak dan gas (migas) terbesar di Indonesia setelah Kalimantan. Belakangan, migas tidak lagi menjadi primadona. Sebab, Pemerintah Provinsi Riau kini melirik pariwisata untuk menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

H. Arsyadjuliandi Rachman, Gubernur Riau, mengatakan, migas tidak lagi menjadi primadona setelah adanya pengurangan dan perimbangan dana bagi hasil (DBH) dari pemerintah pusat. Hal tersebut berakibat pada defisit anggaran dan menyebabkan kekosongan kas daerah.

“Provinsi Riau mulai melirik dan menggencarkan pengembangan sektor pariwisata. Salah satu buktinya dengan program Riau Menyapa Dunia. Ternyata, perubahan ini membawa grafik yang baik, dan Provinsi Riau mengalami kemajuan yang pesat. Dalam laporan Kementerian Pariwisata, Riau disebut berada di peringkat kedua dalam pengembangan wisata setelah Sulawesi Utara,” ujar Arsyadjuliandi.

Menurutnya, perubahan dilakukan karena Riau memiliki potensi besar dalam hal pariwisata. Sejumlah kawasan wisata Riau juga menjadi lokasi penelitian sumber daya alam, sebab di Riau banyak satwa dan tumbuhan yang bisa dipelajari karena masih asri.

“Riau sudah ada Pantai Rupat dengan pasir putihnya, juga ada Ombak Bono dan kawasan Tesso Nilo. Hal itu semakin lengkap dengan seni dan budaya di Riau yang beragam. Oleh karenanya, melalui pariwisata Riau semakin percaya diri,” ujar Arsyadjuliandi.

Fahmizal, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, mengatakan, besarnya PAD yang dihasilkan pariwisata tidak terlepas dari jumlah kunjungan wisatawan. Sepanjang 2017, sebanyak 101.904 wisatawan mancanegara datang ke Riau. Jumlah itu surplus 44.388 atau naik menembus 177,2 persen dari target 2017.

Industri pariwisata Riau memang pantas bergembira. Maklum, wisatawan yang menginap terkoreksi positif. Di tahun 2017, rata-rata lama waktu tinggal wisatawan mencapai 3,54 hari. Ini melebihi target yang sebesar 3,40 hari. Apalagi kehadiran wisatawan juga memberikan transaksi perekonomian melalui pembelian oleh-oleh.

“Antara realisasi dengan target tahun 2017 sangat positif. Jumlah kunjungan wisman jauh melebihi target. Kalau dibandingkan dengan tahun 2016, selisihnya jauh. Sebab, jumlah kunjungan wisman 2016 hanya 66.130 dengan target 54.388 orang,” ujar Fahmizal.

Melihat prospek yang cerah tersebut, Riau langsung mematok target 60.824 wisatawan mancanegara atau naik 3.308 orang untuk 2018. Kemudian buat di 2019, target ditambah lagi sebesar 64.332 orang. Sementara itu, untuk wisatawan nusantara di 2018 dipatok 6.550.120 orang, target ini akan terus ditambah di 2019 menjadi 6.828.150 orang. Belum lagi dengan rata-rata wisatawan lama tinggal. Targetnya menjadi 3,75 hari di 2018, dan pada 2019 menjadi 3,90 hari.

“Kami sudah memiliki perhitungan target kunjungan wisatawan dan lama mereka tinggal di sini. Kami harus terus melakukan evaluasi. Tujuannya agar wisatawan yang datang itu lebih banyak dan mau tinggal lebih lama lagi,” ujar Fahmizal.

Guna memperbesar jumlah wisatawan ke Riau, gerak cepat pun dilakukan. Salah satunya terus berinovasi mengembangkan destinasi, di antaranya dengan Kampung Selfie di Tembilahan. Belum lagi konsep wisata bahari terpadu Pantai Marina Puak segera berdiri di Dumai. Di pantai ini akan dibangun panggung hiburan besar, pusat cenderamata, serta sarana pendukung lainnya.

“Kami tetap mengembangkan destinasi. Tujuannya agar pilihan wisatawan semakin banyak, tidak monoton. Kami juga selalu mengingatkan industri pariwisata soal harga. Kami yakin mampu bersaing,” ujar Fahmizal.

Perubahan sektor pariwisata Riau yang pesat dinilai Menteri Pariwisata Arief Yahya bisa menjadi contoh untuk wilayah Indonesia lainnya. Terlebih, Riau mempunyai pemikiran yang pintar dalam menjaring PAD melalui pariwisata.

Let’s think smart, itulah yang dilakukan oleh Riau. Pesona pariwisata Indonesia semakin lengkap, di mana Riau memanfaatkan pariwisata sebagai lumbung utamanya,” ujar Arief Yahya.