Minim Tur, Anggota ITLA Menganggur

Monday, 04 May 20 Bonita Ningsih
ITLA

Menurunnya bisnis travel agent selama pandemi COVID-19 berdampak pula terhadap bisnis pemandu wisata. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Indonesian Tour Leaders Association (ITLA) pada akhir Maret 2020, diketahui bahwa ada 766 grup tur yang dibatalkan oleh para travel agent yang tergabung dalam Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Pembatalan grup tur yang rencananya akan dilakukan pada Januari hingga September 2020 tersebut sudah dipastikan batal sehingga membuat anggota ITLA menganggur.

Tetty Ariyanto, Ketua Umum ITLA, menjelaskan bahwa ITLA merupakan salah satu mata rantai pemasok dalam perjalanan pariwisata. Dalam bisnisnya, ITLA sangat berhubungan erat dengan para travel agent sehingga mereka bahu-membahu saat kondisi krisis seperti ini.

“Asosiasi kita ‘kan bagian dari mata rantai mereka, jadi saat travel agent tidak bisa dagang, ya kami juga say good bye,” kata Tetty.

Dalam survei tersebut, Tetty juga menjelaskan terdapat penurunan bisnis yang terjadi oleh ASTINDO dan ASITA. Dengan adanya penurunan tersebut, sudah dapat dipastikan bisnis ITLA juga semakin anjlok ketika pandemi COVID-19. Bahkan, penurunan bisnis ini sudah mulai terasa oleh ITLA sejak Januari 2020.

“Dari Januari kemarin itu sudah banyak teman yang laporan bahwa mereka mengalami pembatalan grup. Bahkan, booking-an bulan September juga akhirnya di-cancel,” jelas Tetty.

Tetty mengaku, terhitung sejak bulan April 2020, bisnis ITLA sudah turun 100 persen. “April sudah tidak ada pemasukan sama sekali dari bisnis tour leader ini dan dipastikan Mei ini juga tidak ada pemasukan bagi anggota kami,” tambah Tetty.

Kendati tidak ada lagi pemasukan, ia meminta seluruh anggotanya untuk tetap optimistis dalam menghadapi skenario terburuk saat ini. Berbagai cara telah dirumuskan untuk membantu para anggota ITLA agar tetap bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19.

“Kita meminta mereka untuk banting setir dari pekerjaan travel ini dan mencari alternatif bisnis lain. Pokoknya kita harus optimistis dan yakin masa sulit ini akan segera berakhir,” ucapnya.

Di saat seperti ini, Tetty juga meminta para anggotanya untuk mengasah kemampuannya di bidang pariwisata karena pasca-pandemi, pariwisata akan kembali membeludak. Pasalnya, pariwisata menjadi salah satu hal pertama yang dilakukan masyarakat dunia usai pandemi COVID-19 berakhir.

“Gairah masyarakat untuk rekreasi itu akan muncul usai pandemi ini. Istilahnya itu balas dendam, mereka tentu akan memilih pasar domestik dulu untuk dijadikan sasaran wisatanya,” ujarnya lagi.

Tetty juga berharap, kondisi ini akan segera berakhir dan pariwisata Indonesia bisa kembali pulih pada tahun ini. Dengan begitu, permintaan untuk perjalanan wisata akan melonjak sehingga mengembalikan bisnis ITLA yang sudah lesu sejak awal tahun 2020.

“Apalagi, pemerintah ada rencana untuk menumpuk liburan itu di akhir tahun ini. Jadi, orang-orang akan semakin punya banyak waktu untuk liburan. Pokoknya, harus optimistis pulih tahun ini,” ujarnya.

ITLA memiliki anggota sebanyak 1.477 orang di seluruh Indonesia, dan telah memiliki dua perwakilan di Jawa Barat dan Jawa Timur.