Strategi Bertahan Hidup Para Tour Leader

Monday, 04 May 20 Bonita Ningsih

Kehilangan bisnis hingga 100 persen akibat pandemi COVID-19 membuat Indonesian Tour Leaders Association (ITLA) memutar otak untuk mendapatkan pemasukan. Beberapa langkah telah dilakukan, salah satunya melalui program Selalu Ada Harapan (SAH).

Tetty Ariyanto, Ketua Umum ITLA, mengungkapkan, Selalu Ada Harapan merupakan program penyemangat bagi anggota ITLA yang saat ini tidak memiliki pemasukan. Di sini, mereka diminta untuk banting setir dan berjualan berbagai produk yang mereka punya.

“Mereka berjualan menggunakan jaringan member, online, dan juga jadi reseller. Jadi, mereka semua saya minta untuk banting setir selama bisnis travel ini tidak berjalan,” kata Tetty.

Berbagai jenis produk dan jasa telah ditawarkan para anggotanya melalui program ini, seperti makanan, minuman, sembako, kerajinan tangan, hingga case handphone. Beberapa jasa seperti jasa derek mobil, jasa desain perhiasan, hingga jasa kursus bahasa Inggris online juga sudah ditawarkan di program SAH ini.

“Kita bantu mereka untuk promosi, melalui sosial media punya ITLA dan beberapa grup WhatsApp kita. Jadi, program ini dibuat dari, oleh, dan untuk kita semua,” ucapnya lagi.

Meskipun di awal pembuatan program ini ada penolakan dari beberapa anggotanya, Tetty tetap optimistis program ini dapat berjalan. Pasalnya, di kondisi kritis seperti ini, setiap orang harus tetap bertahan hidup dengan melakukan berbagai cara.

“Mereka itu awalnya gengsi mau jualan karena sudah terbiasa hidup enak. Tapi, dari awal saya bilang, jangan malu dan terpenting confident, dan lama-kelamaan mereka malah jadi terampil untuk jualan,” ceritanya.

Untuk memperdalam ilmu marketing para anggotanya, Tetty membuat pertemuan online bagi anggotanya yang ingin bergabung di program Selalu Ada Harapan. Setiap minggunya akan ada berbagai topik menarik terkait cara marketing yang baik, mulai dari berjualan hingga pembuatan packaging produk-produknya.

“Seminggu sekali kita membuat pertemuan di Zoom. Dari yang awalnya hanya tiga orang yang ikut, sekarang sudah hampir 100 orang yang ikut,” ujarnya lagi.

Selama program ini berlangsung, sudah banyak anggota ITLA yang merasa terbantu dan memiliki pemasukan di kondisi seperti ini. Setiap satu anggota hanya diperbolehkan untuk menjual dua produk atau jasa saja di program Selalu Ada Harapan.

“Intinya kita harus konsisten, sabar, dan tekun, biar semuanya berhasil. Menurut saya, ini menjadi cara paling realistis di kondisi seperti ini, dan ternyata banyak komunitas lain yang copas ide kita,” ungkapnya.

Selain program SAH, ITLA juga membuat program Merdeka Belajar yang berisikan pelatihan untuk memelihara kompetensi dan melatih kemampuan lainnya. Pelatihan-pelatihan ini tetap dilakukan secara online dengan mengangkat beberapa topik yang berkaitan dengan pariwisata.

ITLA juga mendapat kesempatan untuk mengikuti program #BeliKreatifLokal yang dibuat oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dalam hal ini, Kemenparekraf memberikan fasilitas para pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, kriya, dan fashion untuk berjualan melalui e-commerce di zona merah COVID-19 (area Jabodetabek).

“Saat ini masih proses pendaftaran dan seleksi pada bulan April hingga Mei 2020. Kemenparekraf juga tidak membatasi peserta dari ITLA yang mau ikut, asal mereka memiliki usaha-usaha yang sudah disebutkan tadi,” ucapnya lagi.