Jakarta, Venuemagz.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus berkomitmen untuk memperkuat ekosistem pariwisata nasional. Berbagai upaya telah dilakukan seperti menggenjot event daerah, pemanfaatan data strategis, hingga peningkatan standar industri hospitality.
Dukungan Kemenpar terhadap event daerah terlihat dengan adanya program unggulan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Tahun ini, Kemenpar berhasil mendukung 125 event daerah terkurasi di 38 provinsi. Hingga akhir September 2026 saja, sebanyak 89 event telah sukses dihelat di 34 provinsi.
Dampak ekonominya pun sangat menjanjikan. Dari 78 event yang telah dievaluasi, tercatat sebanyak 9,97 juta pengunjung hadir dan menghasilkan transaksi ekonomi langsung sebesar Rp888,52 miliar—belum termasuk dampak efek pengganda (multiplier effect).
Tak hanya itu, event-event tersebut juga berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya dengan total 58.077 tenaga kerja lokal. Puluhan event tersebut juga berhasil merangkul 19.866 UMKM dan merayakan karya 120.642 pekerja seni.
“Inilah yang ingin kita dorong melalui Event by Indonesia. Event bukan sekadar atraksi visual, melainkan motor penggerak mobilitas wisatawan sekaligus perekonomian daerah,” ujar Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.
Pariwisata Berbasis Data dan Berdaya Saing
Sejalan dengan semangat Hari Pariwisata Dunia, Kemenpar meluncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027. Publikasi strategis ini menyajikan analisis perkembangan, prospek, hingga isu-isu mendasar yang memengaruhi lanskap pariwisata nasional.
“Dinamika geopolitik, perubahan iklim, percepatan teknologi, hingga pergeseran perilaku wisatawan akan membentuk wajah pariwisata masa depan. Karena itu, kebijakan pemerintah maupun strategi industri harus semakin berbasis data, antisipatif, dan adaptif,” tegas Ni Luh.
Ia menambahkan, outlook ini diharapkan menjadi referensi bersama bagi pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga pemangku kepentingan untuk merancang pariwisata Indonesia yang berdaya saing tinggi, berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Geliat Industri Hospitality dan Pengakuan Dunia

Penguatan penyelenggaraan event dan arah kebijakan tersebut selaras dengan kebangkitan industri perhotelan nasional. Berdasarkan laporan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada tahun ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2026, TPK menembus 52,52 persen atau naik 2,01 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif (Januari–Agustus 2026), TPK rata-rata mencapai 49,56 persen (naik 2,30 poin), dengan pertumbuhan yang merata di seluruh tingkatan hotel bintang 1 hingga 5.
“Kenaikan okupansi ini menjadi indikator kuat bahwa sektor hospitality kita kian pulih dan bertumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat,” ungkap Wamenpar.
Prestasi ini makin lengkap dengan raihan di kancah internasional. Sebanyak 47 hotel dan resor di Indonesia sukses memboyong penghargaan MICHELIN Keys 2026, melonjak pesat dari 33 properti pada tahun sebelumnya. Capaian ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemilik MICHELIN Keys terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Thailand.
Tiga akomodasi premium yaitu NIHI Sumba, Amanjiwo, dan Mandapa a Ritz-Carlton Reserve berhasil meraih penghargaan tertinggi 3 MICHELIN Keys (An Extraordinary Stay). Sementara itu, 11 properti mengamankan dua Keys (An Exceptional Stay), dan 33 properti meraih satu Key (A Very Special Stay).
Tak berhenti di situ, dalam ajang The World’s 50 Best Hotels 2026, tiga destinasi ikonis Indonesia juga turut bersinar. Pertama ada Desa Potato Head Bali (peringkat 21), NIHI Sumba (peringkat 35), dan Mandapa (peringkat 61).
“Penghargaan ini menunjukkan bahwa kualitas hospitality Indonesia semakin diakui dunia, sekaligus memperkuat positioning Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkualitas,” tutup Ni Luh.




