Jakarta, Venuemagz.com – Pariwisata menjadi industri yang sangat sensitif terhadap perubahan geopolitik global, termasuk konflik kawasan Timur Tengah. Di tengah tantangan tersebut, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tancap gas untuk menghadirkan strategi pemasaran terbaik bagi pariwisata Indonesia.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan saat ini Kemenpar telah melakukan penyesuaian strategi pemasaran internasional dengan pivot. Jika sebelumnya Kemenpar fokus pada pasar Eropa dan Amerika, kini dialihkan ke kawasan Asia.
Terdapat tujuh pasar utama yang akan menjadi prioritas saat ini yaitu Malaysia, Singapura, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Korea, Australia, dan Selandia Baru. Ketujuh pasar ini dinilai strategis karena memiliki kedekatan geografis, akses penerbangan langsung, serta tidak terdampak rute transit yang melewati wilayah konflik.
“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket yang signifikan,” kata Made melalui siaran pers saat menghadiri forum The Iconomics CEO Forum & Awards 2026.
Meski demikian, strategi refocusing tersebut juga menghadirkan tantangan berupa meningkatnya persaingan dengan negara-negara di kawasan yang sama. Untuk itu, Kemenpar terus mendorong inovasi dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memasarkan destinasi wisata Indonesia.
Caranya adalah dengan melakukan program co-branding partners berupa kerja sama co-marketing dan co-branding dengan berbagai merek lokal maupun internasional. Tujuan utamanya adalah untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
“Kami menggandeng berbagai mitra untuk berkolaborasi mempromosikan pariwisata Indonesia secara lebih kreatif dan efektif, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah,” ungkapnya lagi.
Sementara itu, Founder sekaligus CEO The Iconomics, Bram S. Putro, mendukung penuh strategi yang dilakukan Kemenpar untuk menjaga pariwisata nasional. Ia menilai langkah refocusing dari yang dilakukan Kemenpar mencerminkan kepemimpinan yang adaptif dalam menghadapi disrupsi global.
“Strategi ini menunjukkan optimisme dan ketangguhan para pemimpin dalam menghadapi tantangan, serta kemampuan untuk tetap tumbuh di tengah kondisi yang dinamis,” ujarnya.
Made juga menambahkan, selain memiliki strategi yang tepat, kolaborasi dari banyak pihak juga dapat memperkuat pariwisata Indonesia di mata dunia. Dengan semangat inovasi, sektor pariwisata Indonesia juga akan terus bangkit dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.




