Jakarta, Venuemagz.com – Industri pariwisata Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan dan berdampak terhadap perekonomian nasional. Performa gemilang yang tercatat sepanjang 2025, berlanjut tajam hingga pertengahan tahun 2026 dengan ditandai peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) serta rekor perjalanan wisatawan nusantara (wisnus).
Capaian positif ini sekaligus menjadi rekam jejak keberhasilan kinerja dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pembangunan pariwisata tidak lagi berfokus pada kuantitas wisatawan, tetapi juga berorientasi pada dampak ekonomi dan pemerataan di berbagai daerah.
Untuk melihat capaian tersebut, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) memberikan laporan khusus terkait pertumbuhan pariwisata Indonesia selama dua tahun terakhir ini. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa “Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun penting bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia dan momentum itu berlanjut hingga 2026.”
Berdasarkan data yang diterima, sepanjang tahun 2025 Indonesia sukses menyambut 15,39 juta kunjungan wisman atau melonjak 10,80 persen dibanding 2024. Jumlah ini juga sekaligus melampaui target nasional yang dipatok di angka 14–15 juta kunjungan.
Tak kalah membanggakan, pergerakan wisnus menembus angka 1,2 miliar perjalanan sepanjang tahun 2025. Hasil tersebut mengukirkan sejarah baru sebagai angka tertinggi sepanjang pencatatan pariwisata Indonesia.
Sinyal positif ini terus terjaga hingga Agustus 2026 dengan kunjungan wisman menyentuh angka 10,58 juta atau tumbuh 5,38 persen year-on-year. Sementara perjalanan wisnus telah mencapai 842,15 juta atau naik 4,29 persen year-on-year.
“Pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara,” tegas Menpar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta pada 20 Oktober 2026.
Pemerataan Destinasi Mulai Terasa
Pertumbuhan pariwisata di Indonesia juga diiringi dengan pemerataan perjalanan para wisatawan. Kunjungan wisatawan tidak lagi hanya berpusat di Bali atau kota besar lainnya, melainkan merambah kuat ke berbagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dan daerah berkembang.
Pada triwulan I 2026, Kawasan Manado-Likupang dan Danau Toba mencatatkan lonjakan kunjungan wisman yang sangat signifikan. Masing-masing daerah meroket sebesar 60,42 persen dan 33,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara untuk pasar domestik, Danau Toba kembali memimpin sebagai destinasi dengan pertumbuhan wisnus tercepat (2025–2026) lewat lonjakan fantastis sebesar 106,68 persen. Kinerja positif ini disusul kawasan Lombok-Gili Tramena yang tumbuh pesat 75,45 persen.
“Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Widiyanti.
Dampak Ekonomi ke UMKM
Selain kuantitas kunjungan, kualitas belanja wisatawan turut membaik. Pada semester I 2026, rata-rata pengeluaran wisman meningkat 6,36 persen menjadi US$ 1.313 atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan. Belanja wisatawan ini mengalir langsung ke rantai pasok lokal mulai dari akomodasi, kuliner, produk cinderamata, atraksi hiburan, hingga paket tur lokal.
Sektor UMKM pun menjadi pihak yang paling merasakan dampak manisnya (multiplier effect). Pasalnya, ada lebih dari 95 persen usaha pariwisata di Indonesia digerakkan oleh UMKM.
Seiring dengan ini, jumlah devisa negara yang didatangkan dari sektor pariwisata juga mengalami peningkatan. Sepanjang 2025, devisa dari sektor pariwisata mencapai US$ 18,27 miliar atau sekitar Rp305,47 triliun dan mengalami peningkatan 9,41 persen.
Sedangkan pada semester I 2026, devisa yang masuk sudah mengantongi US$ 8,43 miliar sekitar Rp140,95 triliun atau tumbuh 2,8 persen secara year-on-year. Belanja wisatawan mancanegara turut menggerakkan usaha lokal dan memperkuat perekonomian Indonesia.
Dampak makro ekonomi dari sektor pariwisata juga terbukti sangat vital terhadap kontribusi PDB nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pariwisata menyumbang 4,78 persen terhadap PDB nasional bernilai Rp1.138,90 triliun sepanjang 2025. Kontribusinya dinilai stabil pada Januari hingga Juni 2026 dengan rentang 4,02 – 4,90 persen.
Menpar Widiyanti mengatakan bahwa pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan wujud nyata sinergi dan komitmen berkelanjutan dari berbagai pihak. Dengan tujuan untuk memperkuat ekosistem pariwisata, membangkitkan ekonomi lokal, serta memperluas peluang bagi seluruh elemen bangsa.
“Mari terus bersama-sama mendukung kemajuan pariwisata Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan mendunia,” tutupnya.




