Jakarta, Venuemagz.com – Pemerataan ekonomi nasional kini tak hanya bertumpu pada pusat-pusat kota besar. Industri pariwisata Indonesia berhasil membuktikan kolaborasi antara potensi lokal melalui desa wisata dan aktivitas event daerah mampu menjadi katalis utama dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyampaikan bahwa transformasi pariwisata saat ini berfokus pada dampak nyata (impactful tourism). Hingga September 2026, tercatat lebih dari 6.300 desa wisata yang terintegrasi dalam platform Jaringan Desa Wisata (Jadesta).
Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata telah melakukan pemantauan terhadap 66 desa wisata di Indonesia untuk melihat capaian ekonomi yang didapatkan. Hasilnya, pendapatan desa lewat pariwisata mengalami peningkatan 29,62 persen dari Rp46,05 miliar menjadi Rp59,70 miliar, pada tahun 2024 ke tahun 2025.
Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke desa juga meningkat 35,48 persen dari 54.922 menjadi 74.409 kunjungan. Diikuti dengan jumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang meningkat 45,17 persen dari sekitar 1,55 juta menjadi 2,25 juta perjalanan.
Tenaga kerja lokal kian bertambah hingga 53,34 persen, dari 3.234 menjadi 4.959 orang. Jumlah kamar homestay juga meningkat hampir 50 persen menjadi 3.074 kamar. Pada Maret 2026, tercatat jumlah UMKM di desa-desa tersebut mencapai 6.469 usaha.
Prestasi internasional juga turut mengiringi pertumbuhan ini. Tiga destinasi unggulan Indonesia, yaitu Desa Wisata Jatiluwih (Bali), Desa Wisata Wukirsari (DI Yogyakarta), dan Desa Wisata Pemuteran (Bali), sukses memboyong penghargaan bergengsi UN Tourism Best Tourism Village dalam dua tahun terakhir.
“Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa, tetapi membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat,” kata Ni Luh dalam keterangan tertulisnya di Jakarta pada 20 Oktober 2026.
Industri Event Jadi Mesin Ekonomi Berkecepatan Tinggi
Di sisi lain, sektor penyelenggaraan event dan MICE terbukti menjadi penggerak ekonomi daerah yang sangat efektif dalam waktu singkat. Sepanjang tahun 2025 hingga September 2026, Kementerian Pariwisata mencatat telah memberikan dukungan terhadap 377 event di berbagai wilayah Indonesia.
Kemenpar mencatat industri tersebut berhasil mendapatkan 23,91 juta pengunjung dengan perkiraan perputaran ekonomi mencapai Rp45,9 triliun pada periode 2025 hingga September 2026. Hasil tersebut berdasarkan kajian dari 354 event termasuk Karisma Event Nusantara (KEN), MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), dan event internasional.
Berdasarkan hasil kajian penyelenggaraan 354 event, termasuk Karisma Event Nusantara (KEN), MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), dan event internasional, terdapat 23,91 juta pengunjung dengan perkiraan perputaran ekonomi mencapai Rp45,9 triliun.
“Angka itu menggambarkan bagaimana sebuah event dapat menjadi mesin ekonomi dalam waktu relatif singkat. Ketika ribuan orang datang ke sebuah festival, manfaatnya terasa langsung oleh pelaku usaha dan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, event kita dorong bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai penggerak ekonomi daerah,” jelas Wamenpar.




