Belajar Bahasa Inggris Sambil Wisata di Desa Bahasa Ngargogondo

Wednesday, 31 July 19 0 Comments   Bonita Ningsih
Desa wisata bahasa inggris

Candi Borobudur memang menjadi magnet bagi wisatawan yang datang ke Kabupaten Magelang. Berbagai jenis wisata lain yang berada di sekitar Candi Borobudur mendapatkan dampak positifnya, salah satunya ialah Desa Bahasa Ngargogondo yang berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Desa Bahasa Ngargogondo merupakan tempat belajar bahasa Inggris yang berada di kawasan Candi Borobudur. Metode pelajaran yang diberikan pun sedikit berbeda dengan tempat kursus bahasa Inggris lainnya. Di sini, para pengajar akan memberikan pelajaran dengan menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan.

Hani Sutrisno, pendiri Desa Bahasa Ngargogondo, mengungkapkan, sistem belajar di sana dibuat seperti permainan. Setiap pengajar membawakan pelajaran seolah-olah seperti bermain sehingga menimbulkan kesan menyenangkan dan tidak monoton.

“Kelas di sini itu tidak seperti pada umumnya. Kita tidak ada ruangan khusus belajar, tidak ada kursi, bahkan tidak ada papan tulis di sini. Semuanya hanya menggunakan tangan dan sebuah permainan,” ujar Hani.

Desa Bahasa Ngargogondo memiliki delapan orang pengajar. Dengan minimal empat orang siswa, satu kelas bahasa Inggris sudah dapat dilakukan. Salah satu pengajar bernama Azis mencoba memberikan contoh metode pembelajaran yang sering kali digunakan di sana. Saat itu, rombongan dari Biro Komblik Kementerian Pariwisata diberikan kesempatan untuk mencobanya.

Azis membagi rombongan menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari tujuh orang peserta. Setiap kelompok diminta untuk berbaris ke belakang sambil memegang pundak teman di depannya. Berada di depan barisan, Azis memberikan aba-aba dalam bahasa Inggris dan setiap kelompok harus mengikuti perintahnya.

Azis meneriakan kata “go to forward” dan kemudian semua peserta melompat ke depan. Ketika Azis memberikan aba-aba “go to back” maka peserta diharuskan kembali ke belakang. Sama halnya dengan kalimat perintah “go to right” dan “go to left”, setiap peserta harus melompat ke kanan atau ke kiri.

Beberapa kali peserta tertawa lantaran tidak mengikuti instruksi dengan benar. Misalnya saja saat instruksi “go to right”, peserta malah melompat ke arah kiri. Oleh karenanya, setiap orang diminta berkonsentrasi saat melakukan permainan ini.

“Saya lihat, sekarang ini orang kalau diajak untuk belajar sudah takut saja. Mereka mikirnya kalau belajar bahasa Inggris itu menyeramkan dan tidak menyenangkan, makanya di sini kita buat metode belajar yang mengasyikkan,” ujar Hani.

Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan Hani mendirikan Desa Bahasa Ngargogondo Borobudur. Awalnya Hani hanya membuka kursus bahasa Inggris secara gratis bagi warga sekitar Kabupaten Magelang pada tahun 1998. Ia mulai mengajak para orang tua untuk belajar bahasa Inggris dengan alasan sebagai motivator bagi anak-anaknya. Meskipun mendapat penolakan di awal, pada akhirnya warga sekitar sana mulai tertarik belajar bahasa Inggris dengan Hani.

“Mereka awalnya menolak, tetapi saya bilang coba saja dulu tiga kali pertemuan. Setelah dicoba ternyata mereka ketagihan dan meminta saya untuk meneruskan pelajaran sampai mereka bosan,” ujarnya sambil tertawa.

Warga pun semakin antusias dengan kelas bahasa Inggris yang dibuka Hani secara gratis. Hingga pada 2007, Hani kewalahan dengan membeludaknya warga yang ingin belajar bahasa Inggris di sana. Menurut Hani, saat itu sudah ada 400 orang yang ingin belajar bahasa Inggris sehingga membuat dirinya tak punya waktu untuk bekerja di tempat lain.

“Karena gratisan jadinya saya tidak bisa bekerja, padahal saya juga membutuhkan pekerjaan lain untuk membiayai hidup karena saat itu ‘kan kursusnya gratis,” cerita Hani yang memiliki kemampuan bahasa Inggris secara otodidak.

Atas kejadian itu, pada 2007 tempat kursus tersebut sempat mati suri. Kemudian pada 2012, Hani mulai membuka kursus bahasa Inggris yang berbayar. Bahkan, Hani mulai mengajak beberapa orang warga di sana untuk bantu mengajar bahasa Inggris.

“Kita buat berbayar karena harus meningkatkan kesejahteraan karyawan juga. Tapi, untuk warga desa sini masih kita kasih gratis, untuk orang luar baru bayar,” ujar Hani.

Wisata Edukasi di Kawasan Candi Borobudur

Selain memberikan metode pembelajaran yang menyenangkan, Desa Bahasa Ngargogondo memiliki konsep sebagai wisata edukasi. Setiap orang yang mendaftar kursus di sini akan diajak berwisata ke Candi Borobudur.

Tidak sekadar berwisata, tujuan Hani mengajak siswanya ke Candi Borobudur untuk melatih keterampilan dalam berbahasa Inggris. Di sana, para siswa akan diminta untuk berinteraksi dengan wisatawan mancanegara agar kemampuan berbicara bahasa Inggrisnya semakin lancar.

“Ini seperti study tour, jadi ada tur dan ada study-nya juga,” ujar Hani.

Paket kelas yang ditawarkan pun bervariasi, ada kelas untuk 6 hari, 10 hari, hingga 1 bulan. Kelas dimulai dari pukul 08.00-16.00 WIB, lalu dilanjutkan pada pukul 17.00-21.00 WIB. Setiap paket kelas yang dipilih memerlukan biaya sebesar Rp3.500.000.

Hani menjelaskan sistemnya itu setengah-setengah, yakni setengah hari belajar dan setengah hari wisata. Peserta didik akan mendapatkan makan tiga kali dalam sehari, tiket wisata ke Candi Borobudur dan sekitarnya, serta penginapan di rumah warga. Namun, jika tidak ingin menginap di rumah warga, Hani sudah menyediakan beberapa kamar di sana dengan biaya tambahan Rp2.500.000 per orang per 10 hari menginap.

“Selama pelajaran berlangsung, ponsel kami sita. Baru bisa digunakan kalau sedang istirahat, sekitar jam 4 hingga 5 sore,” imbuh Hani.

Meskipun lama pendidikannya tidak terlalu lama, Hani meyakini setiap peserta didik akan mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik. Menurutnya, untuk lancar berbahasa Inggris yang diperlukan hanya konsisten dan rutinitas dalam belajar.

“Mereka yang selesai belajar di sini, kalau disuruh ngomong bahasa Inggris pasti tidak kalah dengan lulusan S1 bahasa Inggris. Karena yang mereka lakukan di sini belajar bahasa Inggrisnya rutin setiap hari, itu yang menjadi kunci keberhasilannya,” dia melanjutkan.

Setiap bulannya Hani membuka kelas baru yang kebanyakan diisi oleh siswa sekolah yang ingin mengisi waktu liburnya. Peserta didik berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan minimal pendidikan kelas 4 SD.

“Setiap tanggal 10 sampai 20 kita buka kelas baru. Paling banyak yang daftar itu siswa SMP dan SMA. Tapi, mahasiswa juga banyak kalau lagi liburan semester,” katanya lagi.