Bika Talago, Kue Neraka Rasa Surga

Saturday, 30 November 19 Harry Purnama

Jika Anda sedang berwisata keliling Sumatra Barat, jangan lupa untuk mencicipi penganan khas bika yang banyak dijual di tepi jalan yang menghubungkan Padang-Bukittingi. Di sepanjang jalan tersebut, bisa dilihat banyak kios-kios kecil yang mengeluarkan asap pertanda sedang membakar bika. Dari banyaknya penjual bika tersebut, yang favorit dan juga memiliki rasa cukup enak adalah warung bika talago yang berada di Jalan Raya Padang-Bukitinggi km 10.

Dinamakan talago karena di belakang warung ini ada sebuah telaga. Warung bika talago sudah ada sejak tahun 1990-an, dan dari dulu sampai sekarang warungnya pun kecil saja, tidak diperbesar. Namun, pesanan kue bika talago sangat banyak.

Berbeda dari kebanyakan penjual bika yang lain, dari dulu hingga sekarang warung bika talago menjual dua rasa bika, yang bisa dibedakan dari warnanya, yakni warna cokelat dan putih.

Bika yang berwarna cokelat terbuat dari campuran pisang, gula merah, tepung beras, dan kelapa parut. Bika ini lebih dominan rasa pisangnya karena itu agak manis.

Sementara bika yang berwarna putih terbuat dari adonan kelapa parut, tepung beras, dan gula pasir. Bika jenis ini lebih terasa kelapanya, dan sangat pas di lidah karena tidak terlalu manis. Bika jenis inilah yang paling banyak dijual oleh warung-warung bika lainnya. Bedanya, bika di warung bika talago mempunyai ukuran yang besar dan teksturnya lebih lembut.

Satu buah bika dijual dengan harga Rp3.000. Anda bisa membeli bika yang sudah jadi, atau menunggu bika yang baru dipanggang sehingga lebih enak dimakan waktu masih hangat. Proses pembuatannya pun tidak lama, hanya sekitar 10 menit.

Sambil menunggu, Anda juga bisa melihat proses pemanggangannya karena terbilang unik. Jadi, bika ditaruh di dalam wajan yang di bawahnya ada apinya. Setelah adonan ditaruh, wajan tersebut ditindih dengan wajan lain di atasnya. Nah, di dalam wajan yang di atas tersebut dimasukkan kayu bakar. Dengan kata lain, bika tersebut dipanaskan dari atas dan bawah secara bersamaan.

Saking ekstremnya cara pemanggangan tersebut, ada yang menyebutkan bahwa bika adalah “kue neraka, rasa surga”.