Dijadikan Mass Tourism, Pulau Rinca Tak Lagi Eksklusif

Thursday, 14 January 21 Bonita Ningsih
Komodo Travel Mart 2017

Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT, mengatakan, pembangunan di Pulau Rinca, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dijadikan mass tourism atau pariwisata umum bagi wisatawan yang datang. Menurutnya, proyek pembangunan ini tidak akan mengganggu ekosistem Komodo yang menjadi satwa endemik di Pulau Rinca. Pasalnya, selama mengerjakan proyek ini KLHK dan Kementerian PUPR diminta untuk memerhatikan aspek konservasi dan ekosistem Komodo.

“Semua akan baik-baik saja dan proyek ini akan terus berlanjut untuk rakyat dan Provinsi NTT. Pembangunan proyek ini juga akan didesain sebaik mungkin sehingga manusia dan Komodo itu tidak saling dekat,” ungkap Viktor.

Proyek pembangunan ini dilakukan di wilayah seluas lima hektare dari total luas Pulau Rinca yang mencapai 20.000 hektare. Pembangunan itu meliputi perbaikan pelabuhan yang sudah rusak serta sejumlah sarana prasarana wisata, seperti gedung ranger, pusat informasi, restoran, home stay, dan resor.

“Jadi, kalau sebelumnya orang bilang Pulau Rinca akan dibangun Jurassic Park itu kurang tepat karena konsepnya bukan seperti itu. Kita menyebutkan bahwa saat ini Pulau Rinca sedang dibangun sarana dan prasarana kelas dunia,” jelas Wiratno, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) KLHK.

Pembangunan yang dilakukan ini juga akan menyediakan fasilitas tambahan bagi kaum difabel saat berada di Pulau Rinca. Rencananya, proyek pembangunan Pulau Rinca akan rampung pada Juni 2021.

“Ketika semua sudah rampung, orang turun dari dermaga akan melihat pemandangan yang bagus. Orang difabel juga akan mendapatkan kemudahan menggunakan kursi rodanya saat berada di sana,” Wiratno menambahkan.

Setelah berada di dermaga, wisatawan akan diarahkan ke layanan pusat informasi yang juga menjadi bagian perbaikan infrastruktur di sana.

“Semua detail terkait sejarah alam Pulau Rinca akan ada di sana, misalnya tentang Komodo yang ternyata sudah lahir sejak ratusan tahun yang lalu. Selain itu, mereka juga dapat melihat tenun NTT yang luar biasa indahnya,” ujarnya lagi.

Nantinya, wisatawan dapat melihat seluruh aktivitas Komodo melalui ruangan khusus di gedung ranger. Hal ini dilakukan agar manusia dan Komodo tidak langsung berhadapan secara langsung sehingga cukup melihat dari jauh melalui ruangan tersebut. Untuk mendapatkan momen terbaik, telah disiapkan teknologi khusus untuk melihat Komodo dari jarak jauh.

“Pak Gubernur punya ide nantinya tidak hanya melihat Komodo yang sedang beraktivitas biasa, tetapi orang-orang juga bisa melihat Komodo sedang kawin,” ucap Wiratno.

Dengan menjadikan Pulau Rinca sebagai mass tourism, pemerintah setempat berencana akan mengubah biaya masuk ke pulau tersebut. Menurut Wiratno, sebelum proyek pembangunan tersebut dijalankan, tiket masuk untuk wisatawan mancanegara hanya US$10 atau setara dengan Rp150.000.

“Untuk ukuran turis asing itu sangat murah sekali, makanya akan ada penyesuaian jika pulau ini sudah rampung diperbaiki,” ungkapnya lagi.