Keindahan Toba jadi perbincangan internasional. Namun tak banyak yang tahu, dari Paropo danau purba itu begitu memesona.
Keindahan lanskap Danau Toba, Sumatera Utara, memang legendaris nan populer. Foto-foto dan video Danau Toba yang beredar umumnya diambil dari Samosir, Parapat, maupun Balige. Wisatawan dari luar Sumatera tak banyak yang tahu, bahwa eksotisme danau terbesar di Asia Tenggara itu juga dapat dinikmati dari berbagai sisi, salah satunya dari Desa Paropo dan Silalahi di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi.
Secara geografis, Paropo dan Silalahi berada di kaki perbukitan Tongging. Saat ini, akses menuju desa yang diapit antara Kabupaten Dairi dan Karo ini hanya dapat dilalui jalan darat dari Tongging, Karo. Dari Medan, waktu tempuh menuju Paropo sekira tiga jam. Sebenarnya, ada juga akses danau dengan menaiki kapal penumpang dari Pelabuhan Tongging dengan rute Pelabuhan Tomok, Samosir. Namun, tidak setiap hari rute itu beroperasi.
Kabar baiknya, seiring dengan dijadikannya Danau Toba menjadi salah satu dari 10 program pengembangan wisata nasional, pengembangan jalan sedang dalam proses sehingga dari desa ini nantinya akan dapat dilalui menuju Samosir. Program ini berkaitan dengan tujuan untuk menjadikan Danau Toba sebagai salah satu taman bumi (Geopark Caldera Toba) oleh UNESCO.
Keindahan danau sudah dapat dinikmati terlebih dahulu saat menuruni jalan di tepi perbukitan. Hamparan danau yang luas dan desa di tepi danau menjadi “santapan” wisata yang nikmat dan terbilang unik. Tongging malahan sudah lebih dahulu dikenal di industri pariwisata. Tak jarang, desa ini jadi bagian dari paket jualan wisata para agen perjalanan di Medan. Selain danau, desa ini punya Air Terjun Sipiso-piso.
Dari Tongging, sekitar 10 menit perjalanan menyusuri jalan yang masih sempit di tepi danau, kita akan sampai di Desa Paropo. Di desa ini terdapat beberapa garis pantai dan dua pulau kecil. Pesona ini yang kerap membuat wisatawan singgah dan berwisata. Melewati Paropo, sampailah kemudian di Desa Silalahi.
Di desa ini sejumlah penginapan beroperasi dengan harga kamar yang bervariasi, mulai dari harga Rp200.000 per malam hingga Rp500.000 per malam, sesuai fasilitas dan lokasi penginapan—apakah berada di tepi danau atau dekat perbukitan.
Bona Agustinus Silalahi, pemilik penginapan Bona Resort di Desa Silalahi, mengatakan, mulai ramainya wisatawan yang datang ke Paropo dan Silalahi menarik minat sejumlah warga untuk mendirikan penginapan di desa itu.
“Dulu turis lebih sering hanya singgah di Tongging, tidak sampai ke sini. Mungkin saja karena belum banyak yang tahu dan penginapan masih jarang. Sekarang kan sudah mulai bertambah. Tinggal akses jalannya sajalah, maunya dipercepat pembangunannya biar perjalanan ke sini tidak membuat pengendara cemas,” ujarnya.
Memang benar, belum semua kondisi jalan beraspal. Meski demikian, Paropo dan Silalahi tetap memiliki daya tarik di tengah masih terbatasnya infrastruktur. Beberapa kali event pariwisata pernah digelar di desa ini, antara lain kegiatan bersepeda alam dan festival seni dan budaya.
Silahisabungan Arts Festival
Selama tiga hari, mulai dari 21 Juli-23 Juli 2017, potensi pariwisata Danau Toba dieksplorasi melalui event Silalahi Arts Festival (SAFE) yang digelar di Desa Paropo dan Silalahi. Selain melalui pergelaran yang dibalut dengan konten seni dan budaya ini, memasuki tahun keduanya event pariwisata ini diramaikan dengan aksi 1.000 tenda kemah Pantai Paropo.
Seperti dikatakan Ojak Manalu dari Rumah Karya Indonesia (RKI) selaku penyelenggara SAFE, Silalahi dan Paropo memiliki keunikan tersendiri, namun sayang belum sering dipromosikan sejauh ini. Itulah mengapa sejak dua tahun belakangan, RKI rutin memilih daerah ini untuk kegiatan seni dan budaya.
“SAFE merupakan satu dari delapan event berbau seni dan budaya yang digelar RKI selama setahun. Adapun visi dan misi kegiatan ini tentu saja salah satunya untuk mempromosikan pariwisata Danau Toba dari sisi Kabupaten Dairi,” katanya. Selain itu, ia berharap SAFE berdampak pada penguatan masyarakat berbasis ekonomi kreatif dan lingkungan.

Belajar dari SAFE pertama yang masih memiliki kekurangan, jelasnya, maka untuk kedua kalinya digelar kegiatan untuk menarik minat wisatawan yang suka dengan adventure. Pada kegiatan pertama, beberapa pengunjung datang dan mendirikan tenda kemah di tepi danau. Dari situ muncul ide untuk mengadakan kegiatan 1.000 tenda pada SAFE kedua.
“Setelah SAFE yang pertama, orang mulai mengenal Paropo dan Silalahi jadi tempat yang menarik untuk kemping, setidaknya setiap akhir pekan. Nah, dari situ muncul ide untuk SAFE kedua, kenapa tidak bikin saja kegiatan kemping di tepi danau?” ujarnya.
Daya tarik Paropo sebagai destinasi wisata kemping di tepi danau semakin terbukti ketika digelarnya SAFE kedua ini. Hasil perhitungan panitia, setidaknya 2.000-an pengunjung dari berbagai daerah, bahkan dari luar Sumatra Utara, ikut memadati Pantai Paropo dengan mendirikan tenda-tenda kemah. Agar pengunjung betah, penyelenggara membuat panggung musik etnik, pergelaran tarian tradisional karnaval budaya, dan aksi teatrikal.
Yang patut disyukuri, terang Ojak, dengan adanya kegiatan seperti ini, belakangan masyarakat setempat mulai sadar wisata. Tak sedikit pula yang melihatnya sebagai peluang ekonomi ditandai dengan mulai bermunculannya usaha, seperti kuliner, warung kopi dan jasa penyewaan tenda.
“Harapannya ini menjadi bagian dari salah satu pendapatan masyarakat setempat. Karena orientasi kami memang kepada masyarakat. Bagaimana masyarakat peduli kepada seni dan budaya. Mereka mendapat manfaat dari apa yang mereka kerjakan. Dari kegiatan ini semakin tumbuh kesadaran lingkungan untuk menjaga kelestarian Danau Toba,” katanya.
Deputi Manager dan Kemasyarakatan PT PLN Wilayah Sumut Rudi Hartono, yang mendukung kegiatan ini, pun berharap ada dampak langsung kepada masyarakat dari kegiatan ini. “Kami berharap event ini memiliki bentuk yang sangat produktif untuk peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi masyarakat setempat tanpa merusak alam di sekitar kawasan Danau Toba,” katanya.
Dia mengatakan, PLN Peduli tertarik dengan kegiatan RKI karena melibatkan pemberdayaan masyarakat tentang bagaimana mengelola daerah itu secara profesional, khususnya terkait pariwisata. “Kami ingin hadir di dalam masyarakat, sehingga masyarakat merasa PLN adalah miliknya,” katanya. Lanjut Rudi, melalui kegiatan seperti ini diharapkan akan dapat membangun kawasan wisata baru di Danau Toba, selain Samosir.
Dengan keterbatasan dan kelebihannya, Silalahi dan Paropo kini telah dikenal dengan keunikan wisatanya. Dia ikut menunjukkan bahwa potensi Danau Toba begitu besar apabila ada niat yang serius untuk mengelolanya.
Seperti dikatakan Bona, “Saya yakin, kalau masyarakat dan pemerintah bekerja sama membangun pariwisata di desa ini, pasti ekonomi masyarakatnya ke depan juga tidak hanya bertumpu dari bertani, tapi juga dari pariwisata, seperti Bali.”
Teks & Foto : Tonggo Simangunsong




