Sesaji Rewanda, Tapak Tilas Sunan Kalijaga di Goa Kreo

Saturday, 29 December 18 Harry
Sesaji Rewanda

Pemerintah Kota Semarang berhasil mengemas tradisi budaya Sesaji Rewanda menjadi atraksi wisata nan apik dan unik bagi wisatawan yang bertandang ke Goa Kreo.

Perjalanan Sunan Kalijaga mencari soko guru (tiang utama) untuk dijadikan penopang Masjid Agung Demak menorehkan jejak dan menjadi tradisi di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Tradisi itu bernama Sesaji Rewanda (Jawa: Sesajen Rewondo).

Dalam bahasa Jawa, Sesaji Rewanda berarti memberi makan kera. Dahulu, tradisi ini dinamakan dengan Nyadran atau bersih desa.

Tradisi budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun itu merupakan “bahan baku” potensial bagi Pemerintah Kota Semarang guna mengembangkan sektor pariwisata. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, tradisi budaya itu dikemas lebih apik dan unik agar mampu memikat para wisatawan bertandang ke Semarang.

Masdiana Safitri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, menuturkan bahwa Sesaji Rewanda ini merupakan acara budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Kegiatan budaya ini bertujuan untuk melestarikan budaya leluhur sekaligus sebagai atraksi wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang.

BACA JUGA:   Situs Parhutaan Ompung Tuan Sorimangaraja, Tujuan Wisata Sejarah Leluhur Batak

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dahulu pengemasan tradisi budaya ini sangat sederhana, yaitu nyadran. Padahal, cerita di balik nyadran ini cukup bagus dan menarik. Apabila diaplikasikan dalam konteks kekinian, tradisi nyadran ini dapat dikemas dan dipoles menjadi sesuatu yang unik dan ikonik. Pasalnya, tradisi ini menyangkut nama besar dalam sejarah Islam di Jawa, yaitu Sunan Kalijaga—salah satu dari Sembilan Wali di tanah Jawa yang menyebarkan agama Islam.

Sesaji Rewanda

Sebagai upaya pelestarian tradisi budaya, maka mulai tahun 2002, Pemkot Semarang memberikan dukungan dan mengawal pelaksanaan tradisi budaya Sesaji Rewanda yang diselenggarakan pada hari kedelapan setelah Lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Konsepnya pun dikemas sangat apik dan tertata. Napak tilas Sunan Kalijaga yang menjadi tradisi nyadran disuguhkan dalam bentuk teatrikal yang melibatkan warga lokal.

BACA JUGA:   Menyusuri Kota 1.000 Sungai

“Dalam atraksi teatrikal tersebut ada prosesi menggotong kayu jati, dengan diiringi puluhan kera, kemudian ada empat sesaji gunungan makanan yang diarak dari desa hingga ke area waduk Goa Kreo. Cerita napak tilas Sunan Kalijaga ini kita kemas lebih menarik sehingga dapat menarik minat wisatawan,” kata Masdiana.

Ditambahkan oleh Masdiana, acara Sesaji Rewanda ini terbukti efektif dalam menjaring wisatawan untuk berkunjung ke kawasan Goa Kreo. Apalagi sekarang kawasan Goa Kreo telah dilengkapi dengan homestay yang nyaman bagi para wisatawan yang datang dari dalam maupun luar negeri.

“Dengan adanya kegiatan Sesaji Rewanda ini kunjungan turis meningkat. Pada tahun 2016 lalu jumlah kunjungan ke destinasi ini mencapai 110.208 orang. Dan tahun ini kami menargetkan ada kenaikan sekitar tujuh persen jumlah kunjungan,” kata Masdiana.

Masdiana pun menambahkan, para wisatawan tak perlu khawatir dengan akomodasi selama berwisata di Goa Kreo. Pasalnya, saat ini sudah ada 47 homestay di Kelurahan Kandri dengan jumlah kamar sebanyak 89 kamar. Harganya pun sangat terjangkau, yakni Rp100.000 per orang per malam.

BACA JUGA:   Menikmati Es Krim Legendaris di Kota Surabaya

Dijelaskan oleh Masdiana, pada tahun 2016 Kota Semarang mencatat telah terjadi pergerakan wisatawan sebanyak 4.660.822 baik wisatawan asing maupun nusantara. “Bulan Agustus 2018 Pemkot Semarang bakal menggelar event folklore yang bakal dikunjungi 1.000 wisatawan asing dari berbagai negara,” kata Masdiana.

Selain menyuguhkan tradisi Sesaji Rewanda yang unik dan ikonik, kawasan wisata Goa Kreo ini menyuguhkan pemandangan yang indah dan menyejukkan. Beberapa fasilitas pendukung lainnya seperti taman keluarga, taman ceria, kios kuliner dan cenderamata, ruang terbuka hijau, pendopo, tempat ibadah, dan toilet bersih pun telah tersedia.