Menyusuri Kota 1.000 Sungai

Tuesday, 01 January 19 Harry

Sungai menjadi daya tarik wisata utama Banjarmasin. Kota ini memiliki budaya sungai yang kuat, yang menjadi detak nadi kehidupan warganya.

Sungai Martapura merupakan anak Sungai Barito. Ia juga menjadi pertemuan anak-anak sungai di sekitar Banjarmasin, Kalimantan. Sungai ini memiliki peran sentral dalam detak nadi kota. Bahkan, sebutan lain Sungai Martapura adalah Sungai Cina, lantaran di zaman Kerajaan Banjarmasin pada abad ke-17 banyak pedagang Cina lalu lalang di sungai itu.

“Taman Siring Sungai Martapura masih menjadi daya pikat utama wisatawan di Kota Banjarmasin. Keberadaan taman ini bisa mendorong masyarakat dan swasta bisa lebih kreatif memanfaatkan potensi,” ujar Ikhsan Alhaq, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin.

Keramaian di Taman Siring meningkatkan pendapatan pemilik perahu kelotok. Ini berpotensi menggiatkan wisata berbasis sungai, semisal pemancingan, banana boat, atau lainnya.

Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan berjanji mempermudah izin dan memfasilitasi investor di bidang pariwisata. Ikhsan menunjuk area Kota Tua Banjar yang dibelah sungai menjadi destinasi wisata kota tua. Banjar dengan “1.000 sungainya” setidaknya memiliki 10 destinasi wisata yang potensial.

Budaya sungai yang tercipta selama ratusan tahun itu memang menarik. Pasar terapung Banjarmasin misalnya, ia menjadi ikon kota penghasil perhiasan dan batu itu. Ketika matahari belum terbit, ratusan  perahu dari pedalaman Banjarmasin berkumpul di muara Sungai Barito. Lokasi pasar yang berada di Kelurahan Kuin Utara itu sudah ada sejak 400 tahun lalu. Barang yang dilego umumnya merupakan kebutuhan pokok. Transaksi ini bubar saat jarum jam menunjuk pukul tujuh pagi.

Ratusan tahun lalu, muara Sungai Barito menjadi titik temu para pemilik barang untuk bertukar kebutuhan. Barter ini pudar saat uang digunakan untuk bertransaksi. Uniknya, setiap transaksi dilakukan dengan tongkat berpengait. Jadi, antara pembeli dan penjual tak perlu repot berpindah-pindah perahu. Cukup saling merapat, lalu bertransaksi.

BACA JUGA:   Belajar Kesenian Jawa Barat di Saung Angklung Udjo

Biasanya, para wisatawan usai mengunjungi pasar terapung terus melanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang, yang merupakan delta di tengah Sungai Barito. Tempat wisata ini menjadi habitat monyet dan beberapa jenis burung. Monyet yang bergerombol itu memiliki pemimpin yang oleh masyarakat setempat biasa disebut raja monyet. Pulau ini membentang di tengah Sungai Barito yang luas.

Pulau yang hutannya rimbun ini, membuat pengunjung harus tetap waspada. Pasalnya, ketika lengah, monyet-monyet itu biasanya merampas bawaan wisatawan. Menariknya, di pulau ini terdapat sebuah kuil dan altar dengan arca berbentuk monyet putih atau Hanoman. Altar ini, oleh warga Tionghoa, digunakan untuk meletakkan sesaji pada saat-saat tertentu. Tempat wisata ini berjarak sekitar 1,5 km dari pusat kota Banjarmasin.

Untuk wisata kota, Taman Siring merupakan destinasi paling top. Taman kota ini lengang di hari kerja dan tumpah ruah di akhir pekan. Selain sejuk dengan rerimbunan pohon, taman ini merupakan area bebas untuk memancing. Kala matahari hendak terbenam, hilir-mudik perahu-perahu kecil membuat Sungai Martapura seperti lukisan senja. Di akhir pekan, taman ini dipenuhi keluarga dan anak-anak muda yang berlatih skateboard dan BMX. Terkadang, Taman Siring juga digunakan untuk pertandingan olahraga ekstrem ini.

WISATA SEJARAH

Banjarmasin merupakan salah satu kota yang berhadapan langsung dengan Belanda di era kolonial. Bahkan, jejak-jejak Kerajaan Banjar sudah ada pada abad 16. Kesultanan Banjar memiliki hubungan yang baik dengan Kesultanan Demak.

Tanda-tanda hubungan dua kerajaan Islam itu ditandai dengan adanya Masjid Sultan Suriansyah dan makam raja-raja Banjarmasin. Salah satu tokoh yang dimakamkan di pekuburan para raja itu adalah Khatib Dayan, ulama dari Demak yang menyebarkan Islam di Banjarmasin. Tanda-tanda hubungan  Kesultanan Banjarmasin dan Demak bisa disaksikan di Masjid Sultan Suriansyah. Masjid tertua di Banjarmasin itu disebut pula Masjid Kuin karena lokasinya yang berada di Kelurahan Kuin Utara.

BACA JUGA:   Berburu Sang Fajar di Bromo, Semeru, Tengger

Dibangun antara tahun 1526 – 1550, saat Sultan Suriansyah memerintah Kesultanan Banjar, masjid ini berbentuk rumah panggung dengan ukiran khas Kalimantan Selatan dan atap tumpang.

Beberapa bagian dari masjid terlihat mirip dengan Masjid Agung Demak terutama di bagian atapnya yang berundak dan mengerucut ke atas. Keunikan masjid ini berupa mihrab atau tempat imam salat, memiliki atap sendiri yang terpisah dari atap bangunan utama.

Peninggalan era kolonial juga dapat dijumpai di Museum Wasaka akronim Waja Sampai Kaputing, yang menjadi slogan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Tempat wisata sejarah ini berada di Jalan H. Andir, Kampung Kenang Ulu, Banjarmasin Utara. Arsitektur bangunannya berupa rumah adat Banjarmasin yang berbentuk panggung dengan atap tinggi. Museum ini menyimpan berbagai koleksi foto, mesin ketik, seragam perjuangan, dan senjata yang digunakan para pejuang melawan Belanda. Beberapa koleksi lainnya berupa senjata api milik Belanda dan sepeda tua, yang digunakan kurir pejuang untuk mengantar surat secara sembunyi-sembunyi.

Di museum ini juga terdapat naskah proklamasi kemerdekaan yang berbeda dengan yang dikenal publik selama ini. Teks proklamasi bertanggal 17 Mei 1949, merupakan pernyataan kemerdekaan Kalimantan wilayah Selatan dari pendudukan Belanda untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pasalnya, menurut Perjanjian Linggarjati, Kalimantan tidak masuk dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun rakyat di wilayah itu terus mengangkat senjata, dan berhasil bergabung dengan Republik Indonesia empat tahun setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi. Museum Wasaka buka setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional. Museum ini dibuka mulai pukul 08:30 sampai 12:30.

BACA JUGA:   Tuan Kentang Penjual Kain Khas Palembang

Nah, Banjarmasin juga memiliki masjid agung kebanggaan warga Banjar, yang dinamakan Masjid Sabilal Muhtadin. Ia adalah masjid terbesar di Banjarmasin. Berhias dengan lima menara, masjid ini mampu menampung sebanyak 15.000 orang jemaah. Nama masjid ini dinukil dari nama kitab yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjary, yang merupakan ulama besar di Kalimantan Selatan. Masjid yang dibangun pada tahun 1981 ini menjadi salah satu tempat wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan baik dari dalam maupun dari luar kota.

Menutup perjalanan wisata di Banjarmasin, buah tangan yang paling populer adalah kain sasirangan dan batu mulia. Pusat oleh-oleh kain sasirangan terdapat di Kampung Sasirangan. Lokasinya berada di Jalan Seberang Masjid, Kampung Melayu, di kampung ini wisatawan bisa menyaksikan proses pembuatan kain sasirangan. Produk jadinya berupa pakaian, selendang, sprei dan taplak meja. Ada juga berbagai aksesoris yang dibuat dari kain batik ini mulai dari tas, dompet, ikat kepala hingga sapu tangan.

Pilihan lainnya tentu saja batu mulia yang banyak dijaja di Pasar Intan Martapura. Pasar intan ini berada di Jalan Ahmad Yani, Martapura, atau sekitar 45 km dari pusat kota Banjarmasin. Biasanya, wisatawan mampir ke Martapura sembari menuju bandara. Martapura dikenal sebagai kota dengan hasil tambang batu permata terbesar di Indonesia. Batu permata Martapura memiliki kualitas yang baik. Di pasar ini, terdapat sekitar 80-an toko batu permata, yang menyediakan permata dalam bentuk bongkahan batu, atau yang sudah dipoles menjadi perhiasan.