Bali, Venuemagz.com— Bali kembali menegaskan reputasinya sebagai salah satu destinasi unggulan untuk penyelenggaraan event internasional di kawasan Asia Pasifik melalui gelaran Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-6 REJASELINDO 2026 yang berlangsung pada 2–4 April 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
Forum ilmiah ini menjadi panggung kolaborasi global di bidang stem cell, rekayasa jaringan, dan kedokteran regeneratif, dengan menghadirkan ratusan dokter, peneliti, akademisi, praktisi kesehatan, hingga pelaku industri bioteknologi dari Indonesia dan berbagai negara.
Pemilihan Bali sebagai lokasi acara dinilai strategis, tidak hanya karena fasilitas venue berstandar internasional, tetapi juga karena posisi Pulau Dewata yang telah lama dikenal sebagai pusat meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) di kawasan Asia.
Prof. dr. Ahmad Faried, Sp.BS, Subsp. N-Onk (K), PhD, FICS, DABRM, Ketua Panitia Pelaksana PIT ke-6 REJASELINDO, menegaskan bahwa Bali memiliki daya tarik kuat sebagai titik temu para ahli dari berbagai negara.
“Bali dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena dikenal sebagai salah satu pusat konferensi internasional di kawasan Asia Pasifik sekaligus lokasi strategis untuk mempertemukan para ahli dari berbagai negara,” ujarnya.
Latar Belakang: Kolaborasi Ilmiah dan Penguatan Ekosistem Riset
PIT ke-6 REJASELINDO 2026 diselenggarakan sebagai kelanjutan dari upaya memperkuat ekosistem riset dan praktik klinis di bidang terapi sel, rekayasa jaringan, dan kedokteran regeneratif di Indonesia.
Forum ini dirancang sebagai wadah untuk mempertemukan para dokter, peneliti, akademisi, regulator, dan industri guna memperbarui perkembangan riset sekaligus memperkuat kolaborasi lintas negara.
Tahun ini, penyelenggaraan acara dilakukan dalam skala yang lebih besar melalui kolaborasi dengan 20th International Conference of the Asia Pacific Association of Surgical Tissue Banking (APASTB), 9th Annual Meeting of PERBAJI, serta 13th Annual Meeting of ASPI.
Kolaborasi tersebut mempertemukan para pakar dari berbagai negara untuk memperkuat kerja sama ilmiah di bidang stem cell dan terapi sel.
Dr. dr. Bintang Soetjahjo, Sp.OT., Subsp. PL (K), Ketua Umum REJASELINDO, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas sektor.
“Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan inovasi di bidang kedokteran regeneratif. Harapan kami, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan terapi sel membutuhkan pendekatan pentahelix, yakni sinergi antara akademisi, pusat riset, klinisi, pemerintah dan regulator, industri, serta media.
“Dengan kerja sama berbagai pihak, kita berharap Indonesia dapat menjadi pusat pengembangan teknologi kesehatan berbasis riset. Dengan demikian, kita benar-benar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.
Konferensi Dilengkapi Workshop, Simposium, dan Exhibition
Tidak hanya menghadirkan konferensi utama, PIT ke-6 REJASELINDO 2026 juga dikemas sebagai event ilmiah komprehensif dengan berbagai program pendukung, mulai dari workshop, main symposium, scientific competition, presentasi oral, poster penelitian, hingga pameran.
Format acara yang memadukan konferensi dengan area pameran ini memperkuat pengalaman peserta, karena selain memperoleh pembaruan ilmiah, mereka juga dapat melihat langsung perkembangan teknologi dan alat kesehatan terbaru.
Daewoong Tampilkan Produk Stem Cell dan Exosome
Salah satu peserta pameran yang menjadi sorotan adalah Daewoong, perusahaan bioteknologi yang menampilkan sejumlah inovasi berbasis stem cell.
Ari, tim sales marketing Daewoong, mengatakan, beberapa produk unggulan yang dipamerkan mencakup teknologi Secretome MSC.
“Sejumlah produk stem cell kami pamerkan dalam acara ini, termasuk Secretome MSC yang mengeluarkan senyawa bioaktif yang terdiri dari berbagai faktor terlarut seperti faktor pertumbuhan dan sitokin serta pembawa ekstraseluler untuk memberikan efek terapeutiknya,” ujar Ari.
“Selain produk stem cell, kami juga menghadirkan cosmeceutical manufacturing. Kami memproduksi LuxEasy, lini perawatan kulit berbasis exosome in-house oleh Daewoong Biologics Indonesia yang menawarkan bagi customer hingga pembuatan produk berkualitas tinggi,” lanjutnya.
ITS Science Indonesia Hadirkan Peralatan Riset Stem Cell
Area pameran juga diikuti oleh penyedia alat laboratorium, salah satunya PT ITS Science Indonesia (ITS) yang menghadirkan peralatan untuk kebutuhan penelitian stem cell.
Wardah, penanggung jawab pameran ITS, mengatakan, salah satu produk yang ditampilkan adalah ultracentrifuges, yaitu alat sentrifugasi berkecepatan tinggi yang umum digunakan dalam proses pemisahan komponen seluler.
“Instrumen laboratorium canggih kami yang diperlukan untuk penelitian biologi molekuler dan seluler ini merupakan impor dari AS, sebab sebagian besar memang masih impor,” ujarnya.
Ia menambahkan, pameran ini menjadi sarana edukasi penting mengenai proses terapi stem cell.
“Pameran ini sangat bagus untuk lebih memperkenalkan lagi bahwa proses yang dilalui stem cell hingga sampai ke pemakai atau pasien memerlukan riset dan peralatan canggih yang berkualitas untuk memperoleh sel punca dengan kualitas mumpuni,” katanya.
Apresiasi dari Pakar Korea Selatan
Sementara itu, Wakil Presiden APASTB asal Korea Selatan, Prof. Jinyoung Jeong, M.D., Ph.D., MPH, CTBS, memberikan apresiasi terhadap perkembangan stem cell di Indonesia.
“Menurut saya, perkembangan dunia stem cell di Indonesia sudah bagus dengan banyaknya penelitian yang telah dilakukan,” ujarnya.
Ia juga menilai Indonesia telah memiliki regulasi yang ketat dan positif untuk penggunaan stem cell secara klinis.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat posisi PIT ke-6 REJASELINDO sebagai forum yang mempertemukan riset, industri, teknologi, dan kolaborasi global.
Melalui konferensi dan pameran ini, Bali kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai destinasi MICE unggulan untuk event medis dan teknologi kesehatan bertaraf internasional.





