Jakarta, Venuemagz.com – Festival Jamu Nusantara akan segera digelar pada tanggal 6 hingga 7 Juni 2026 di Jakarta sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Jamu Nasional. Acara ini diselenggarakan atas kerja sama dari Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu) bersama Acaraki serta berbagai pelaku industri terkait lainnya.
Selain pelaku industri, festival ini juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) melalui pertemuan bersama pihak penyelenggara dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Pertemuan ini membahas penguatan penyelenggaraan Festival Jamu Nusantara 2026 sebagai platform strategis untuk mengangkat jamu sebagai warisan budaya sekaligus produk ekonomi kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Kementerian Ekraf siap mendukung inisiatif yang mampu menghubungkan warisan budaya dengan inovasi. Kami siap mendorong festival ini sebagai ruang kolaborasi yang inklusif antara pegiat usaha, kreator, dan komunitas,” ujar Irene di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta.

Festival Jamu Nusantara 2026 dirancang sebagai ajang berskala nasional yang menggabungkan warisan budaya dengan berbagai subsektor mulai dari kuliner, seni, fesyen, pengalaman interaktif, hingga wellness. Berbeda dari tahun sebelumnya, festival tahun ini akan dipusatkan dalam satu momentum selama dua hari untuk menciptakan dampak yang lebih terukur dan masif.
Dengan digabungkannya acara tersebut, diharapkan dapat menjadikan jamu sebagai The New Engine of Growth sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di tingkat global. Wamen Ekraf menyambut baik inisiatif tersebut dan menekankan pentingnya penguatan narasi jamu sebagai bagian dari gaya hidup masa kini.
“Acara ini harus mampu menghadirkan pengalaman autentik yang juga relevan dengan generasi muda. Kita ingin jamu tidak hanya dikenal sebagai tradisi, tetapi menjadi bagian dari lifestyle yang membanggakan,” katanya lagi.
Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, menyampaikan bahwa Festival Jamu Nusantara 2026 dapat menjadi gerakan budaya nasional berkelanjutan. Dengan adanya dukungan pemerintah diharapkan dapat membuka akses bagi kuliner tradisional seperti jamu untuk bisa berinovasi dan diminati pasar yang lebih luas.
“Kami ingin menjadikan festival ini sebagai perayaan tahunan berskala nasional yang mampu mengangkat jamu ke level yang lebih tinggi, baik dari sisi budaya maupun nilai ekonominya. Kolaborasi dengan pemerintah menjadi kunci untuk memperluas dampaknya,” ungkap Jony.
Audiensi juga menyoroti penguatan nilai kekayaan intelektual melalui inisiatif digitalisasi budaya, salah satunya platform Alih Aksara Nusantara hasil kolaborasi Acaraki. Inisiatif ini membuka peluang baru, khususnya dalam pengembangan desain, branding, dan kampanye berbasis identitas lokal yang autentik.
Client Solution Manager PT ADX Asia, Bella Belinda, menambahkan bahwa pendekatan kreatif menjadi kunci dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Ia melihat adanya potensi yang besar jika mengemas jamu melalui pendekatan kreatif dan digital.
“Festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga platform engagement yang mampu menarik minat generasi muda dan membuka peluang kolaborasi lintas industri,” tutup Bella.





