Anang menjelaskan, Functional Digital Connected ditandai dengan maraknya penggunaan digital muslim platform di kalangan milennial muslim, seperti penggunaan halal market place, kombinasi pengembangan teknologi dengan kegiatan amal, tren muslim-friendly content yang merupakan bentuk syiar nilai-nilai Islam yang semakin populer di masyarakat, dan semakin banyaknya vlogger dan content creator yang membawa value muslim dan keislaman.
Emosional leisure fun menurut Anang menjadikan kaum milennial muslim menyukai destinasi wisata yang bersahabat bagi mereka (Lei-Sharia), di antaranya adalah yang mudah untuk menemukan tempat ibadah dan makanan halal. Oleh karena itu, mengembangkan destinasi wisata dengan berkonsep halal dan muslim-friendly kini menjadi nilai tawar tersendiri bagi suatu daerah untuk menyedot wisatawan muslim. Selain itu, melihat potensi pasar muslim yang besar, pelaku bisnis mulai melirik, khususnya di sektor leisure, sehingga kini mulai muncul mal yang mengusung konsep muslim sebagai diferensiasi di tengah menjamurnya mal-mal konvensional.
Sementara pada sektor MICE ditandai dengan tumbuhnya event-event MICE, seperti HijrahFest, HalalFest, Muslim Fashion Week, Hijab Run, dan sebagainya.
Ketiga perspektif tadi menunjukkan segmen milenial muslim adalah sebuah pasar baru, peluang bisnis baru yang menggiurkan untuk dijadikan target pasar bagi penjualan produk barang dan jasa. Peluang ini tentunya dapat dimanfaatkan sendiri oleh kaum milenial muslim untuk berbisnis dengan menjadi entrepreneur yang fokus menggarap kalangan mereka sendiri.
“Ada peluang bagi kaum milenial di bidang halal tourism. Pariwisata akan sangat menjanjikan karena kita tahu perkembangan pariwisata itu luar biasa. Di dunia transaksi milenial tourism tembus ke angka Rp1.400 Triliun. Kelompok milenial mempunyai peluang yang sangat bagus di bidang pariwisata,” ujar Anang.






