Galeri Salihara Manfaatkan Teknologi Untuk Gelar Pameran Seni Rupa

Monday, 27 September 21 Bonita Ningsih

Kehadiran teknologi saat ini kian berkembang pesat, khususnya di tengah situasi pandemi COVID-19. Teknologi hadir sebagai media baru yang dapat mengubah pandangan seseorang dalam melihat dunia, terutama terkait dengan waktu dan ruang.


Untuk merespon perubahan ini, Galeri Salihara, menggelar sebuah pameran seni rupa bertajuk Mediacape: Material, Senses and Beyond. Pameran yang mengedepankan teknologi di dalamnya telah berlangsung sejak 11 September dan berakhir pada 10 Oktober 2021.

Pameran seni rupa Mediascape: Materials, Senses and Beyond merupakan sebuah acara yang berusaha menangkap dan merespon lingkungan baru dari pengalaman masa kini. Pameran ini menghadirkan ruang realitas campuran yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan dan menambah pengalaman indrawi seseorang.

Kurator Seni Rupa Komunitas Salihara, Asikin Hasan, menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 telah menggeser pandangan seseorang terhadap dunia. Hal ini tentu berimbas secara signifikan terhadap dunia seni. Oleh sebab itu, pameran ini hadir untuk menjawab semua tantangan yang telah dihadapi dunia, khususnya di bidang seni.

BACA JUGA:   ARTOTEL Thamrin – Jakarta Bersama SAL Project Gelar Pameran Grup Fotografi

“Dengan pertimbangan kebersihan dan keselamatan publik di era new normal ini, maka, pendekatan terhadap produksi, presentasi dan pameran seni perlu dievaluasi kembali,” ujar Hasan, begitu sapaan akrabnya.

Hasan juga mengungkapkan bahwa popularitas seni media baru dalam dekade terakhir telah memperluas hasil seni itu sendiri. Sebuah seni dari medium visual satu dimensi dapat menjadi karya multi-sensori dan interaktif dengan bantuan sebuah teknologi.

Oleh sebab itu, meskipun berada di situasi yang serba terbatas, sebuah pameran seni rupa masih dapat dilakukan. Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, media dan teknologi telah memberikan jalan bagi kolaborasi interdisiplin bebas batas.

BACA JUGA:   HR Tech Fest Connect 2020 Bahas Kenormalan yang Baru

 
“Saat ini memang batasan-batasan terus bertambah, tetapi, kita dapat membuat karya seni yang dapat diakses secara luas dan bersifat inklusif,” ungkap Hasan.

Berkat bantuan teknologi, seseorang dapat bergerak dari dunia nyata menuju realitas campuran dan alam maya. Ide tersebut kemudian diadopsi, dielaborasi, dan didemonstrasikan ke dalam sebuah seni media baru oleh para pelaku seni.

“Popularisasi seni media baru dalam dekade terakhir telah memperluas kemungkinan-kemungkinan seni, dari medium visual berdimensi tunggal hingga karya-karya interaktif dan multisensory,” dia menambahkan.


Pameran ini menampilkan enam seniman media baru dari Indonesia, Korea Selatan, dan juga Inggris. Isi pameran ini menyoroti multiindrawi dan interaktivitas melalui berbagai pendekatan peraga yakni peraga raba (tactile scape), peraga rasa (scape of flavor), peraga maya (digitalscape), peraga suara (soundscape), peraga bau (scape of scent), dan peraga ingatan (memory scape). Melalui peraga ini, masyarakat yang mengikuti pameran ini dapat menjelajahi dan memaknai kemampuan indrawi secara mendalam.