Indonesia bersiap menjadi pusat perhatian dalam industri pariwisata dan bisnis internasional melalui tiga acara bergengsi yang akan digelar pada akhir 2025. Ketiga acara tersebut adalah Southeast Asia Business Event Forum (SEABEF), Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF), dan Discovering the Magnificence of Indonesia (DMI) Expo. Kesemuanya akan menjadi ajang strategis untuk mempromosikan potensi ekonomi dan pariwisata Indonesia, sekaligus memperkuat jejaring global.
SEABEF 2025 dijadwalkan berlangsung pada 10-11 Oktober 2025 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta. Forum ini diharapkan menjadi tempat berkumpulnya para pemangku kepentingan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dari seluruh Asia Tenggara. Dengan fokus pada kolaborasi regional dan transformasi bisnis di kawasan ASEAN, SEABEF akan menjadi ajang penting untuk membahas isu-isu utama.
Sementara itu, Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2025 akan digelar pada 9-12 Oktober 2025, juga di NICE PIK 2. Acara ini akan menggabungkan format B2B dan B2C, menargetkan kehadiran 250 seller dan 250 buyer dari lebih dari 40 negara. WITF 2025 merupakan kelanjutan dari suksesnya WITF 2024 yang menghadirkan 177 buyer dari 38 negara serta diikuti oleh 280 exhibitor.
Budi Tirtawisata, Wakil Ketua Umum Bidang Pemasaran Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), menyatakan optimismenya terhadap WITF 2025. “GIPI akan kembali mengadakan WITF 2025. Acara ini akan mendatangkan turis dari mancanegara, di tengah efisiensi dari pemerintah. WITF juga akan diperluas dengan ada B2C-nya, yaitu Bangga Berwisata di Indonesia Aja. Mudah-mudahan bisa rutin tiap tahun, dan diperbesar,” ujarnya.

Selain memfokuskan perhatian pada pasar Asia Tenggara, GIPI juga akan menggelar pameran Discovering the Magnificence of Indonesia (DMI) pada 30 Oktober-2 November 2025 di Hall 3 Jaarbeurs, Utrecht, Belanda. DMI Expo 2025 menjadi langkah strategis Indonesia untuk mendekatkan pariwisata dan produk UMKM Tanah Air ke pasar Eropa.
Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum GIPI, menjelaskan bahwa Belanda merupakan lokasi yang strategis untuk memasarkan pariwisata Indonesia di Eropa. “Bagi GIPI, lebih mudah untuk mendorong penjualan di Eropa dibanding Amerika. Orang di sana lebih paham Indonesia daripada Amerika. Apalagi, Belanda memiliki kedekatan historis dan ada sekitar dua juta diaspora Indonesia,” tutur Hariyadi.
Menurut Hariyadi, posisi Belanda juga sangat strategis karena mudah diakses dari negara-negara sekitarnya. “Acara ini juga berdekatan dengan World Travel Market (WTM) London, sehingga diharapkan dapat menarik lebih banyak buyer dan pelaku industri pariwisata Eropa. Potensi mendapatkan buyer-nya lebih banyak karena lebih dekat secara geografis. Penerbangan dari Eropa ke Indonesia juga lebih banyak pilihannya dibanding dari Amerika maupun Afrika,” tambahnya.
Dengan rangkaian acara internasional ini, Indonesia menunjukkan komitmennya untuk menjadi pusat pariwisata dan bisnis global. Melalui SEABEF, WITF, dan DMI Expo, Indonesia tak hanya mempromosikan keindahan alam dan budaya, tetapi juga kapasitasnya dalam menyelenggarakan acara berskala internasional yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya ini sekaligus menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring bisnis dan menghadirkan peluang-peluang baru bagi sektor pariwisata dan perdagangan Indonesia.





